Will you remember me?

Kadang saya merasa gagap dengan waktu. Saya merasa dia begitu cepat bergulir bahkan di saat-saat buruk, apalagi di waktu terbaik. Bilangan tahun terkadang hanya menjadi angka-angka yang berkelebatan di jalur hidup saya. Masih ingat betul saya akan gegap millennium baru di angka 2000 waktu itu. Riuh rendah dunia menyusul kekhawatiran Y2K, pesona tren silver metalik yang menyapa dunia, dan antusiasme saya menghadapi kelas 3 SMA. Satu dasawarsa bergulir, dan di sinilah dunia dan saya sekarang berada, di tahun 2011, di mana jejaring social bertambah kuat pengaruhnya, ketika iPad mengantikan setumpuk buku bacaan, dan saya yang, kali ini,  terjebak dalam labirin kota kecil bernama Singapura.
Saya mengakhiri tahun 2009 dan mengawali 2010, bersama dengan ribuan orang yang memadati pantai Patong Phuket, yang berlomba menerbangkan ribuan lentera setinggi mungkin, seolah menggantungkan mimpi dan harapan mereka di sana. Saya akhiri 2010 dan membuka 2011 bersama ribuan orang berbeda di puncak sebuah lambang hedonism duniawi bernama Marina Bay Sand, menikmati kemewahan pijar kembang api yang meledak tepat di bawah kaki saya.

Lucu dan munafik terdengar sebetulnya, jika saya yang selalu mengeluh tentang waktu yang begitu cepat berlalu, dua tahun terakhir ini ikut “merayakan” bergantinya bilangan waktu dengan segala huru-hara itu. Well, mengutip ucapan saya di album foto di salah satu account jejaring social saya yang terbaru, “As always, it’s not just about the event, it’s more about the people”. Dan kali ini, “the people” itu adalah teman-teman saya. Mungkin di lain album “the people” itu adalah keluarga saya, atau mungkin Anda. It’s about the people I love. Orang-orang yang membuat saya ingin membekukan waktu saat saya besama mereka, orang-orang yang membuat saya bersedia memutar waktu untuk sedetik lebih lama mendengar celotehan mereka.

Menulis ini membuat saya sadar, saya memang tidak bisa menghentikan waktu. Saya tidak bisa mencegah orang datang dan  pergi di hidup saya. Atau saya yang keluar masuk seenaknya dalam hidup mereka. saya juga tidak mampu menahan takdir yang kelak merenggut mereka dari saya atau saya dari mereka.
Tapi menulis ini adalah cara saya untuk membekukan memori atas mereka. Seperti juga ketika saya membekukan waktu dengan menekan shutter kamera saya. Akan apa yang sudah kami lewati bersama, akan semua kenangan yang mungkin bisa kami ceritakan pada orang-orang yang kami cintai kelak.
Atau sekedar menjadi cara saya untuk membantu orang-orang yang saya cintai tetap mengingat saya jika waktu saya tiba untuk meninggalkan mereka. Will they?

4 Responses
  1. Awidya Says:

    kok terasa dalem banget ya...
    anyway, makasih turut menggoreskan kisah manis di hidup saya :D


  2. QueeNerva Says:

    Makasih juga..untuk hari-harinya. Untuk hal-hal yang akan sangat saya rindukan nantinya..
    #berpelukannnn...
    #Hiks..ada kaca di mata saya...


  3. berdasarkan IQ gw, harusnya pria (atau mungkin wanita) tersebut ada atau berada dekat atau di tempat di sekitar kita dalam episode jalan2 kita tahun baru. hmmm... gambar dan curcol jadi satu. Clue yg bagus ^^


  4. QueeNerva Says:

    Stevano Lorens sarappp...
    Ya iya lah laki-laki ato perempuan itu pasti ada..orang yang gw ceritain di sini emang semua yang kemarin ikutan rame-rame tahun baru..
    IQ lo itu yang perlu diperiksa.. :p


Thanks for leaving comment..