Love You Love You Not: Ketika Cinta [Tidak] Harus Diperjuangkan

Berbulan lalu seorang teman menyapa saya di jendela Yahoo Messenger tak lama setelah membaca tulisan saya di sini. Sebuah pertanyaan sederhana mengawali pembicaraan kami. “Kisah nyata Na?”. Saya hanya tergelak, tak menjawab. Selama tidak plagiat, seorang story teller tidak perlu memberitahukan sumber inspirasi ceritanya kan? Teman saya ini kemudian menuturkan, dia punya kisah yang mirip, sebuah perasaan istimewa kepada seseorang. Hanya bedanya, jika sang aku dalam cerita saya menyatakan perasaannya dengan lugas, sedangkan teman saya, yang notabenenya perempuan, ini memilih untuk menyimpan rapat-rapat cintanya. Alasannya sederhana, bagaimana kalau sang Arjuna tidak mempunyai perasaan yang sama? Bagaimana kalau rasa perhatian dan sayang yang selama ini diperlihatkan hanyalah sebagai seorang kakak kepada adiknya? Dan apakah pantas seorang perempuan menyatakan perasaannya terlebih dahulu? Sementara etis ketimuran mengharuskan seorang perempuan untuk bertindak lebih pasif dan menunggu.

Di lain waktu, seorang teman, kali ini seorang cowok, di jendela chatting yang berbeda juga memberondong saya dengan pola cerita yang sama hanya saja beda kemasan. Saya bilang beda kemasan di sini karena sebagai seorang laki-laki, dari adat manapun tidak ada halangan baginya untuk bertindak selangkah lebih di depan dan menyatakan perasaannya. Tapi teman saya ini tidak berusaha memperjuangkan cintanya lebih karena kondisi yang dia rasa akan sulit untuk dijembatani. Kewarganegaraan dan domisili.

Pelik dan complicated. Atau dibikin pelik dan dibuat complicated? Why don’t just make it simple?
Ah, cinta memang tidak pernah sesederhana itu untuk seseorang yang terlibat di dalamnya. Ironisnya, cinta selalu terdengar sesederhana itu untuk seseorang yang tidak ada kaitannya.

Saya pribadi bukan tipe perempuan konservatif. Saya bukan tipe orang yang menunggu dengan puppy eyes dan berharap the one I starring at akan menoleh dan menyadari keberadaan saya. Saya bukan tipe perempuan yang tabu untuk mengambil inisiatif terlebih dahulu. 

Kalau memang suka ya, beri lah sinyal bahwa kita suka. Kalau memang cinta harus dan pantas diperjuangkan ya perjuangkanlah. Maka jelas, ketika teman cewek saya itu meminta pendapat saya, saya bilang mengapa tidak “ngomong” duluan? Kemungkinannya ada 2, diterima dan ditolak. Kalau diterima, ya happy ending, case close. Kalau ditolak, keadaan toh tidak akan berubah sama seperti sekarang. Nothing to lose. 
Okelah, worse came worst, kemungkinan ketiga, ditolak dan sang pujaan merasa tidak nyaman, kemudian berusaha menghilang dari kehidupan kita. Maka kalau itu yang terjadi, it’s not worth untuk ditangisi. Karena bearti dia tidak cukup dewasa untuk menerima itu. Dan dalam kasus teman saya yang cowok, kalau memang cewek yang dia taksir punya perasaan yang sama, pasti ada jalan untuk memperjuangkan cinta mereka. Intinya, that’s your love and your life, so fight for it.

Well, ngomong itu gampang. Teman-teman dekat saya pasti bilang, “Ngomong ma cermin deh lo Na, emang apa yang lo lakuin untuk memperjuangkan punya lo?!?!”. Nah, kok bolanya jadi ke saya ya?^^’
I did. Atau setidaknya, saya bicara menggebu di atas karena, I did it a couple years ago. Jika saya akhirnya berhenti, itu karena I had enough. Semua orang yang mengenal saya 6 - 7 tahun lalu pasti tahu itu. Tidak perlu saya beberkan di sini.

Lalu mungkin pertanyaan lain mengemuka “Bagaimana dengan yang sekarang?”, Munafik lah kalau saya bilang no body for now. Sementara entry tulisan di blog saya menyatakan sebaliknya. Mengutip kata teman saya, “Lo lagi puber ya?”. (Jangan cuman berani ngomong di telpon lo..!!)

Seperti saya bilang sebelumnya, jika memang harus dan pantas, maka perjuangkanlah. Jika sampai saya do nothing for that, means apapun yang saya rasakan sekarang memang tidak harus dan tidak pantas untuk saya perjuangkan.

Underline, saya bilang perasaan saya yang tidak pantas untuk diperjuangkan, bukan object perasaan saya. Karena bukan tidak mungkin, meskipun saya tidak percaya reinkarnasi, di kehidupan yang berbeda dan takdir yang berbeda pula, saya akan berjuang untuk itu. Tapi tidak dengan apa yang saya dan dia punya sekarang.

Saya tidak ingin memperjuangkan buah simalakama. Untuk sebuah kata “ya”, “saya” dan “dia” tidak akan pernah menjadi “kami”. Sedangkan jika hasilnya “tidak”, saya mungkin akan kehilangan semuanya. Saya tidak ingin merengek pada Tuhan meminta seseorang yang, seperti saya sering bilang, “forbidden” untuk saya.

"Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah .. Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu."
~Galaksi Kinanthi – Tasaro GK~


2 Responses
  1. zou Says:

    " Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah. Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu .. "

    :'(


  2. QueeNerva Says:

    Enggak kok Zou...aq ga akan merengek padaNya meskipun konstelasi bintang-bintang melukiskan sosoknya... :D


Thanks for leaving comment..