|
"Sudah lima menit berlalu dari pertama kali aku menangkap sosoknya dari balik viewfinder kameraku. Dan sudah entah berapa puluh kali aku menekan tombol shutter kameraku mengabadikannya. Laki-laki itu tampak berdiri begitu saja. Bersandar tak acuh di salah satu pilar gedung besar ini sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Begitu kontras dengan lalu lalang bising orang di sekitarnya. Namun sekaligus juga begitu melebur tak terasing. Kombinasi yang membuatku semakin sering mencuri-curi menatapnya dalam diam. Aku seratus persen yakin ini untuk pertama kalinya aku melihatnya. Tapi entah kenapa, sosok itu tampak tidak asing. Mata tajam berbingkai kacamata persegi itu seperti menyajikan dejavu buatku. Aku seperti sudah mengenalnya seumur hidupku, dan tidak keberatan untuk menghabiskan sisanya bersamanya juga."
Oke, saya menyerah. Saya, berusaha lebih tepatnya, menulis paragraf di atas selama hampir seharian, dan belum juga mendapatkan feel yang nyaman untuk menggambarkan sudut pandang perasaan seseorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Jika orang mengenal love at first sight, saya cenderung mendeskripsikan itu sebagai lust at first sight. Pardon my word, but that's true. Paragraf di atas contohnya. Imagi saya menyatakan bahwa ketika saya melihat seseorang untuk pertama kali, to be honest, ya fisik. Maka dalam logika saya, jika saya harus jatuh cinta pada pandangan pertama ya pasti karena fisik.
Ironisnya, menurut saya, hampir semua fairy tales menggambarkan cinta pada pandangan pertama. Sebut saja, Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, Rapunzel (bukan Taggled version). Semua dengan kompak menyebutkan seorang putri bertemu pangeran, seketika mereka jatuh cinta dan menikah. Happily ever after. The end. Yeah plastic bag please... Konsep seperti itu mungkin karena tidak mungkin menjelaskan sebuah proses rumit tentang definisi jatuh cinta, berprosesnya hormon Endorpin, Dopamin, Serotonin, kepada anak-anak, sebagai konsumen. Well, mungkin itu juga mengapa saya tidak pernah tertarik dengan cerita-cerita itu, bahkan sejak anak-anak.
Seorang teman yang notabenenya pengikut konsep cinta pada pandangan pertama, menyebut bahwa it's not how it works. Ketertarikan itu bukan karena fisik, tapi lebih ke sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. It's just, in a few second, you know that he/she is the one. Nah, tambah absurd kan? Memang. Atau apa karena cinta itu sendiri sudah absurd, maka tidak jadi soal ditambah lagi satu keabsurdan? Entahlah. Mungkin seperti teman saya bilang, cinta tidak butuh alasan, karena jika cinta butuh alasan, maka cinta juga akan luntur jika alasan itu tak lagi ada di sana. Oke, di point ini saya setuju sekali. Tapi ...
To be fair, saya penganut "witing tresno jalaran ra ono sing liyo saka kulino". Falsafah Jawa yang sampai sekarang masih berlaku untuk saya. Sebuah konsep akan cinta yang tumbuh dari sebuah kebersamaan. Maka kalau saya ditanya fairy tales favorit saya adalah Beauty and The Beast. Kebersamaan itu bukan untuk mencari alasan untuk jatuh cinta, karena cinta memang tak butuh alasan. Tapi ini lebih kepada bagaimana kita nyaman untuk menjadi diri sendiri di hadapannya, tentang seseorang yang kita tahu bisa mendengarkan kita dan kita dengarkan meskipun dengan diam seribu bahasa. Tentang bagaimana you can not judge the book from its cover, tentang menemukan something inside. Sesuatu yang saya tidak yakin bisa kita dapat pada pandangan pertama.
"True that he's no Prince Charming
But there's something in him that I simply didn't see "
~Something There - Beauty and The Beast~
Bicara konsep bagaimana kita jatuh cinta, membuat saya berfikir bahwa itu mungkin ada kaitannya dengan mengapa saya ketika shopping tidak bisa seketika menyebut "Eh, bagus ni yang ini, I'll take it.". Kebanyakan dari barang yang saya beli, memang saya sudah merasa "cukup" bagus ketika di toko, tapi akan lebih terasa "klop dan cocok" untuk saya ketika sudah sampai di rumah.
Yah, mungkin ini hanya sebuah perbedaan pandangan yang tidak perlu diperdebatkan, seperti halnya cinta itu sendiri yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Yah, mungkin ini hanya sebuah perbedaan pandangan yang tidak perlu diperdebatkan, seperti halnya cinta itu sendiri yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Image Source: http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR2Li3vzl5bN8m7mr9kONPqhNzn_7LDZq3qoY1W5EhHMtjOZDMgDQ

Thanks for leaving comment..