Galaksi Kinanthi: Sekali Mencintai Sudah Itu Mati?


Category:Books
Genre:Romance
Author:Tasaro GK
“Perempuan yang kuharap menemaniku jika kuberuntung memasuki surga yang dibangunNya. Aku tidak butuh 1.000 bidadari.”


“Aku tidak ingin sendiri mencicipi teh pahit sepat karena kurang gula. Aku butuh kamu, Juj. Kumohon, bangunlah...sadarlah”

“Kinanthi hanya butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Mengapa kita begitu kikir untuk memberikan telinga kita, sekadar untuk mendengarkan?”

       Membaca sebuah novel selama 10 jam nonstop tanpa jeda bukan hal yang tidak biasa saya lakukan. Maka pastinya novel ini bukan yang pertama yang membuat saya tidak memicingkan mata semalaman. Yang membuat lain adalah saya sama sekali tidak menduga akan begitu terseret dalam alurnya selama 10 jam ke depan ketika melihat buku ini di salah satu toko diskon di sudut Kota Jogja sebulan lalu. 

       Saya akui sedikit melibatkan emosi ketika meletakkan buku ini di pelukan tangan kiri saya hanya dengan membaca subtitle-nya. “Sekali Mencintai Sudah Itu Mati?”. Emosi yang sama sekali tidak berhubungan dengan novel ini. Tasaro GK, sang penulis, benar-benar bukan nama yang akrab di mata saya. Belum lagi ketika akhirnya melirik ke nama penerbitnya, saya menyiapkan mental untuk membaca sebuah dongeng melankolis kacangan. Bahkan saya sengaja meletakkannya di urutan pertama yang akan dibaca. Bukan tanda positif dari seorang yang mempunyai prinsip save the best for the last. Maka tak salah, ketika akhirnya saya menyelesaikan kata terakhir di buku ini, saya masih tidak bisa mempercayai mata saya ketika melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 pagi. 

       Sebetulnya jam-jam membaca itu bukannya tanpa jeda. Saya harus berkali-kali mengambil jeda membaca untuk menyeka mata dan hidung saya yang basah. Atau sekedar mengatur nafas menahan isak agar tidak terlampau mengganggu teman yang tidur tepat di sebelah. Dan juga sesekali meraih air minum untuk membasahi tenggorokan yang terasa berat karena tangis tertahan. Well, saya toh sudah bilang di atas, saya memang sedang penuh emosi di waktu-waktu itu.

       Meskipun begitu, kenyataan bahwa - dengan atau tanpa emosi saat membacanya - novel ini menyuguhkan sesuatu yang berbeda, tidak bisa dipungkiri. 
       Di sisi dominannya, novel ini membuai kita dengan kisah cinta Ajuj dan Kinanthi yang terpisahkan waktu, jarak dan jurang sosial. Sebuah kisah yang akan saya sebut sebagai Romeo&Juliet versi ke 5437 (sebagai informasi, saya samasekalibukan penggemar R&J), jika saja cinta itu tidak dibalut dengan tekad, semangat, keikhlasan dan akal sehat untuk membedakan antara romantis dan tolol. Masih sebagai informasi pembanding, bagi saya, bunuh diri karena cinta adalah salah satu bentuk ketololan ironis yang tak termaafkan. 
Sebuah cinta yang terangkum tulus dari seorang pemuda dusun bahkan sebelum dia mengetahui apa hakekat cinta itu sendiri, “Sebab ada tidaknya kamu disampingku, tetap saja kamu menemaniku”.
       Dan sebaris kewarasan seorang perempuan muda dalam memahami definisi cinta tanpa menjadi babi buta “Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau cintai. Sebab dengan atau tanpa seseorang yang kamu kasihi, hidup harus tetap dijalani.”

       Di sisi yang terjalin erat lainnya, novel ini membawa kita pada kepolosan cinta platonis dunia anak-anak. Mereka yang tak terkontaminasi segala atribut orangtua dan sosial. Mereka yang tidak pernah mengerti, bagaimana mungkin sebuah pertemanan terhadang kepentingan seluruh warga desanya. Pertemanan anak seorang rois desa dengan anak seorang penjudi yang berkakakkan lonthe.

       Novel ini membentangkan setting imajiner kita dari deretan pegunungan Rocky di USA, Empire State Building, pusat kota Riyadh sampai ke sebuah rumah reyot di pinggiran dusun kering di kaki pegunungan kapur di Gunung Kidul. Membimbing kita menyusuri kita lusinan tradisi masyarakat dari pelosok Gunung Kidul hingga gemerlap dunia di negara yang dianggap super power, Amerika.

       Membuka mata kita tak hanya pada perpaduan klasik novel cinta, tapi lebih jauh pada issue dunia yang sedang hangat, human trafficking. Menyentil ketidakmampuan negeri gemah ripah loh jinawi ini membela anak-anak bangsanya sendiri, baik ketika dalam gendongan atau setelah bisa lari dan berjalan. Menyengat nasionalisme basi yang tidak bisa bicara banyak ketika seorang Kinanthi berlari ke pelukan negara yang membentangkan perlindungan untuknya. Negara yang ironisnya dipandang dengan kebencian setengah hati oleh negara kandung yang tak pernah ada untuknya.

       Mengumbar kata-kata puitis tentang perpaduan galaksi alam semesta tidak lantas membuat novel ini seperti nyanyian nina bobo. Rangkaian kata itu justru membawa kita menjelajah ketiadabatasan jagad raya. Jauh membentuk imajimasi kita pada sebuah konstelasi bintang-bintang di bawah Gubuk Penceng yang dipersembahkan Ajuj pada cinta masa kecilnya, Kinanthi. Galaksi yang dia beri nama Galaksi Cinta.
2 Responses
  1. pura2 ngambil mc buat nulis blog. piye toh


  2. QueeNerva Says:

    Ini tulisan lama yaaaa...
    #ngiri ya karena ga bisa sering-sering MC? :p


Thanks for leaving comment..