Heartbeats

  "Semua bagus, kecuali detak jantungmu."
  Kualihkan pandanganku dari monitor kecil yang menunjukkan 3 angka yang berbeda itu. "110 per menit itu ya Dok?"
  "Iya, terlalu tinggi."
  "Euhm, tadi lari dari halte bus ke sini, Dok" jawabku pelan berusaha memberi alasan, "Biasanya kurang dari 80".
  Perempuan berjas putih itu tampak tak mengacuhkan alasanku dan berkutat dengan catatan medis di hadapannya. Beberapa pertanyaan dia lontarkan padaku, terkait jawaban yang aku tuliskan di sana. Pertanyaan yang aku jawab sambil berusaha menenangkan detak jantungku. Tidak lucu kalau hasil medical cek ini gagal karena alasan sepele. Baiklah, 150% dari normal memang bukan hal sepele.
  "Kita cek lagi heartbeat ratenya ya.." tawarnya yang segera aku sambut dengan anggukan kepala. Tak berapa lama, monitor tadi kembali menampilkan beberapa angka, dan angka 110 tadi sudah berubah ke 90. Tetap tinggi sebetulnya, tapi tampaknya perempuan di hadapanku cukup puas dengan hasilnya. 
  "Oke, kamu bisa lanjut". Segera kuraih formulir yang dia sodorkan dan menuju ruang tunggu, tidak mau menunggu hingga dia berubah pikiran.


  Tak sampai sepuluh langkahku, ketika kusadari detak jantungku mulai kembali merambat naik. Ketika di saat yang sama mataku menemukan sosokmu yang sedang tersenyum di seberang ruangan besar itu. Ah, mungkin benar, terlalu dekat denganmu tidak bagus untuk kesehatan jantungku.


************************
Image diambil dari sini
7 Responses

  1. QueeNerva Says:

    Prekitiew... :-"
    (piye kabare Jeng?) --> translate bebas.. :D


  2. martini Says:

    Prekitiewwwwww........



  3. handa Says:

    menarik... singkat tapi dalem... love this one b^^d


  4. QueeNerva Says:

    @Li: Semoga juga sesingkat apa yang "aku" rasain di fiksi mini itu :p


  5. Anonymous Says:

    brot... ceplunkzz


Thanks for leaving comment..