Ketika Hidup Bukan di Atas Kertas …

                Tepat seperti tertulis di user requirement document, enhancement system yang saya pegang dirilis pada tanggal 12 January 2011. Yang berarti kemarin malam, tepat pukul 06.30 PM. Sepuluh menit sebelum saya mengemasi barang-barang saya dan berlari pulang, setelah memastikan tidak ada yang salah dari deployment yang dilakukan tim operational. Karena everything goes well, secara official berakhir juga kerusuhan testing yang selama hampir 2 minggu ini membuat saya “bekerja”. Dan di sini lah saya hari ini, kembali ke pekerjaan utama saya, nulis blog. Fiuh…
                User Requirement Document, masyarakat IT biasa menyebutnya UREQ, URS, atau apapun sebutan lainnya, adalah sebuah document di mana keinginan user dijelaskan dengan detail dalam bahasa manusia. Tidak ada format resmi atau baku dalam sebuah user requirement. Tapi biasanya sebuah perusahaan pasti punya template design masing-masing. Di perusahaan tempat saya sekarang mencari sesuap berlian, UREQ selain mencantumkan semua hal yang berhubungan dengan system yang akan dibangun, juga mencantumkan target tanggal testing dan tanggal implementasi. Tanggal yang jelas harus dipatuhi, tanpa mendiskreditkan pihak lain, bukan sekedar hiasan dan “pantes-pantesan”.
                Dalam kehidupan nyata, baik sadar atau tidak, kita pasti punya yang namanya requirement. Sebuah kehendak, keinginan, sesuatu yang akan mengarahkan kita untuk melakukan hal-hal demi mencapai apa yang kita mau tersebut. Dari sana, akan lahirlah sebuah rencana-rencana baik jangka panjang maupun jangka pendek untuk mewujudkannya. Biasanya orang menyusunnya di awal sebuah hitungan, baik tahun atau umur. Dan menyebutnya sebagai resolusi.
Berbeda dengan URS system yang hanya urusan binary nol dan satu, true dan false, kehidupan mempunyai variable yang lebih kompleks. Variable-variable tersebut yang akhirnya menentukan final product, atau keberhasilan kita dalam meraih apa yang sudah kita impikan dari awal.
Dari situ muncul pertanyaan, apakah kita perlu mempertimbangkan segala variable-variable yang mungkin ada dalam membuat URS kehidupan? Sebagai informasi, saya bukan risk taker. Maka jika pertanyaan itu ditujukan ke saya, saya akan menjawab ya, penting untuk mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan akan seperti apa requirement hidup kita  ke depan.
Sebagai contoh, saya merencanakan untuk membeli rumah begitu saya mempunyai penghasilan. Membeli di sini bearti meliputi segala scope seperti, menentukan daerah yang saya ingin tinggali, mempersiapkan design atau mencari design jika tidak memungkinkan untuk mendesign sendiri, menabung untuk untuk keperluan uang muka, dan mempersiapkan KPR. Setelah saya mulai bekerja, saya menengok kembali requirement saya. Setelah beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk membekukan requirement tersebut hingga waktu yang saya belum tahu. Mengapa? Pertimbangan yang paling utama adalah saya belum bisa berkomitment untuk settle down. Yang artinya, saya tidak bisa memutuskan hendak tinggal di mana saya setahun atau dua tahun lagi, dan jelas mempunyai rumah di Singapore adalah di luar spesifikasi requirement. Tidak perlu bertanya mengapa karena pertanyaan itu akan mengarah ke penjelasan-penjelasan yang sangat tidak relevan.
Buat saya, mempertimbangkan beberapa variable yang bisa kita kendalikan atau kita tahu batasannya adalah sebuah keharusan yang masuk akal. Tapi, saya garisbawahi di sini, bukan bearti kita perlu untuk mempertimbangkan semua variable. Let say, saya sudah memutuskan untuk settle down, design sudah ada, rumah impian sudah ditemukan, ada tabungan atau berencana menabung untuk uang muka, maka bukan tidak mungkin saya akan mengeksekusi requirement saya.
Bagaimana dengan variable lain? Apakah tidak menjadi pertimbangan saya? Bagaimana dengan cicilan? Biasanya cicilan akan memakan waktu 15 tahun. Bagaimana jika dalam 15 tahun itu, ada masa dimana saya tidak lagi berpenghasilan sebesar sekarang? Bagaimana kalau sebelum 15 tahun saya dipecat dari perusahaan dan tidak bekerja? Bagaimana kalau umur saya tidak sampai 15 tahun lagi? Sampai di sini, pasti semua setuju jika saya menjawab tidak. Karena hal-hal tersebut ada di luar kendali kita.
Mempersiapkan hal yang terburuk bukan bearti kita berhenti mengharapkan yang terbaik. Karena kekhawatiran-kekhawatiran tidak perlu itu hanya akan membuat kita berhenti di tempat. Mengkhawatirkan semua hal yang belum terjadi sama saja seperti kita mendahului takdir berbicara.
Panjang lebar nulis ini sebetulnya saya hanya ingin bilang, hidup bukan di atas kertas, maka sudah seharusnyalah hitung-hitungan dan pertimbangan kita tidak terbatas di atas kertas. Tidak perlu kuatir untuk memimpikan dan merancang hidup kita hanya karena ‘kertas’ kita tidak cukup untuk memuatnya. Karena sekali lagi, hidup bukan di atas kertas.
“Bermimpilah, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”, kata Arai dalam “Sang Pemimpi”.
“Gusti Alloh ga pinter matematika”, kata ayah saya dalam semua kesempatannya.
0 Responses

Thanks for leaving comment..