Hunger Games: Will I Die For You?

Dua puluh empat peserta. Membunuh atau dibunuh. Hanya satu pemenang yang selamat. 


Sebentar, disclaimer, postingan ini bukan synopsis, bukan resume, dan penuh dengan spoiler. Jadi, kalau Anda belum membaca buku atau menonton film Hunger Games dan berminat membaca atau menontonnya lain waktu, saya sarankan sampai di sini saja. See you next posting…
Jadi ceritanya, setelah Amerika Serikat musnah sebagai negara, berdirilah Negara Panem. Negara ini terdiri dari Capitol (semacam ibukota) dan 12 distrik yang menjadi satelit pendukung Capitol. Dikarenakan sebuah pemberontakan di masa lalu, Capitol membuat permainan yang bertujuan untuk menghukum sekaligus sebagai pengingat bahwa 12 distrik berada di bawah kekuasaan Capitol. Dalam permainan tersebut, dipilihlah secara acak sepasang remaja dari masing-masing distrik. Mereka berdua puluh empat, akan ditempatkan di sebuah arena pertempuran, yang kali ini berupa hutan belantara. Tugas mereka hanya satu, bertahan hidup. Karena satu-satunya cara keluar dari permainan ini adalah menjadi satu-satunya yang bisa bertahan hidup. Jadi sebetulnya, inti dari cerita Hunger Games, ya itu tadi, membunuh atau dibunuh.
Sederhana? Jelas tidak. Pemilihan peserta permainan yang secara acak, jelas membuat tidak semua peserta mempunyai kemampuan bela diri dan survival yang mumpuni. Bahkan hanya mereka dengan kemampuan di atas rata-rata yang sanggup bertahan di menit-menit awal. Ditambah lagi, kenyataan bahwa peserta dari distrik yang sama juga harus saling bunuh. Beruntung jika mereka memang bermusuhan, atau setidaknya tidak saling kenal. Yang terjadi di sini Peeta, peserta dari distrik 12, harus terjun ke pertempuran bersama dengan cinta pertama dan satu-satunya, Katniss.
Lantas apakah ini hanya menjadi cerita cinta dan another Romeo and Juliet case? Nope. In fact, buku Hunger Games (bukan filmnya) ini merupakan salah satu buku paling berdarah-darah yang pernah saya baca. Sekaligus paling romantis kalau boleh saya bilang.
Ketika terpilih sebagai salah satu tribute dari distrik 12, bersama dengan Katniss, Peeta tahu bahwa satu-satunya tugasnya di dalam arena sana, bukanlah sekadar untuk bertahan hidup selama mungkin, tapi untuk memastikan keselamatan Katniss, cinta pertamanya. Dan ketika di akhir pertempuran hanya menyisakan mereka berdua, tanpa berfikir Peeta hanya berkata “Do it.” ketika meminta Katniss membunuhnya. Karena hanya dengan cara itu, Katniss bisa hidup dan keluar dari permainan Hunger Games.
Membaca buku dan menonton film Hunger Games (dua kali) membuat saya berfikir, selain keluarga, akankah saya bersedia mati demi hidup orang lain? Akankah saya rela mati agar orang lain tetap hidup?
Saya akan dengan sukarela nyebur ke kolam renang untuk menyelamatkan orang yang nyaris tenggelam, for sure. Tapi itu bukan karena saya berani mati, tapi karena saya tahu saya bisa. Ini si bukan termasuk rela mati.
Atau misalnya, ganti situasi, di tengah laut dengan ombak besar, apakah saya akan menceburkan diri untuk menolong orang, katakanlah tanpa pelampung? Nope. Itu si konyol. Karena dengan situasi seperti itu, yang ada saya hanya menambah jumlah jenasah yang mungkin ditemukan. Orang yang mau saya tolong dan saya.
Pertanyaan saya tadi terbatas kepada rela mati agar orang lain tetap hidup. Are you willing to do that? And for who? Am I? May be not, at least tidak sampai ketika saya menulis postingan ini.
Dan sampai di titik itulah perasaan seorang Peeta ke Katniss tergambarkan. Sedangkan Katniss? Baca bukunya saja lah. Kok bukan minta untuk melihat filmnya saja? Buat saya, versi film terkesan cukup terburu-buru. Seolah-olah, perasaan Peeta dan ketangguhan Katniss tidak terlalu tergambar di sana. Yah, itu hanya pendapat pribadi saya sebagai pecinta buku tentu saja.
Anyway, apapun pilihannya, Hunger Games akan selalu membuat saya bertanya, if I were Peeta, who would be my Katniss?
***

*pic taken from here


3 Responses
  1. Anonymous Says:

    ndeprok sambil nyemil krupuk ma baby D..nunggu jawaban sekalian undangannya.


  2. QueeNerva Says:

    Maksudnya jawabannya ada di undangannya gitu? *cari-cari undangan*


  3. Awidya Says:

    menyodorkan udangan kosong...silakan di tulis ndiri yaaa :D
    *nginceng jenenge sopo sing muncul


Thanks for leaving comment..