"Aku jatuh cinta, Za ... "


Selimut yang menutupi tubuh kami bergemerisik pelan. Erang tempat tidur kayu itu terdengar cukup nyaring membelah malam ketika tubuh di atasnya bergerak perlahan. Meningkahi gema kata-katanya tadi.

"Za..kok diem?"

"Mencoba mencerna kalimatmu tadi. Kenapa?"

"Kenapa aku jatuh cinta atau kenapa aku bilang itu ke kamu?"

"Kenapa harus jatuh cinta ke orang itu?"

"Kamu dan sok tahu itu."

"Karena aku memang tahu Zi. Seumur hidup itu cukup untuk mengenalmu dengan baik. Dia kan?" tuntutku sambil menghela nafas pelan. Zi kadang cukup naif.

"Iya. Dia.", mata Zi menerawang ke langit-langit kamar diatas kepala kami. Kuikuti pandangannya. Tak kurang dari plafon dan lampu neon saja di sana.

"Salahkah?"

"Aku bertanya kenapa, bukan menyalahkan."

"Entahlah. Tapi bukankah cinta memang tidak memerlukan alasan? Hingga kita pun tak perlu mencari alasan untuk memepertahankannya?"

"Salah poin Nona. Pertanyaanku tadi ada di objek jatuh cinta, bukan cinta itu sendiri. Mengapa dia?"

"Seperti jatuh pada umumnya, bukankah kamu tidak bisa memilih jatuh di mana? Aku juga tidak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa."

"Walaupun kamu tau dia forbidden? Walaupun kamu tahu ada 1000 dan 1 alasan untuk kamu menolak perasaan itu tumbuh?"

Lama Zi terdiam. Terdiam bukan bearti diam. Aku tau ada banyak percakapan dalam diamnya. Selimut tersibak halus saat dia turun dan beranjak ke depan lemari es di sudut kamar. Dibawanya sekaleng coke ke tepi jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu kota. Aku mengikutinya menatap titik yang sama. Terdiam kami tenggelam dalam lamunan.

"Kamu tahu Za, betapa beratnya bertahan untuk tidak jatuh? Betapa pedihnya buku-buku hati yang bergelayut pada benang tipis akal sehat? Sementara gravitasi itu menarikmu tanpa ampun. Menyedotmu ke dasarnya. Menggodamu dengan gemerlap dan tawaran kehangatan penuh rindu yang kau telah lupa kau alamatkan pada siapa."

"Fatamorgana Zi. Ketika kamu telah terhempas di dasarnya kamu akan tersadar bahwa kehangatan itu hanya di imagimu belaka. Bahwa kerinduan itu hanya akan berakhir pada kerinduan akan malam-malam yang terlewat. Dan kamu akan tersadar tak kan ada lagi tempat berpulang, karena rumah hatimu itu telah tercabik berkeping."

Zi bergeming, tapi aku tahu dia menyimak semua kata-kataku, seperti spon pada air.

"Kamu tahu itu lebih dari siapa pun Zi. Kamu yang pernah melewati itu semua tak perlu aku ajari rasa sakitnya. Kamu tahu persis berdarahnya membangun hati dari reruntuhan, keping demi kepingan."

"Za.." menggantung.

"Bertahan Zi. Aku bukan pakar jatuh cinta. Aku hanya tahu hukum sebab akibat. Aku hanya tahu apa dan mengapa. Tapi aku pernah ada di sana melihatmu jatuh, terhempas, berdarah, menggapai, sampai akhirnya kamu di sini sekarang. Bertahanlah. Buku-buku hatimu mungkin akan berdarah, tapi percayalah, itu tak terhingga kali jauh lebih baik daripada membiarkannya kembali menjadi serpihan luka. Jangan mempertaruhkan hatimu pada sebuah iming-iming cinta yang tak punya masa depan. Cinta yang kamu tahu akan selalu berakhir pada kata ganti kamu dan dia, bukan kalian."

Zi menyecap coke dari kaleng berembun itu. Manis sempriwingnya tercecap juga oleh perasaku. Ditariknya nafas panjang dengan mata terpejam. Seketika lampu-lampu kota menghilang dari pandanganku dan hangat udara malam ini memenuhi paru-paruku. 

Lebih dari seperempat abad aku dan Zi berbagi dunia yang sama, dalam tubuh yang sama. Orang di luar sana menyebutku teman khayalan, Zi memanggilku logika.
7 Responses
  1. zou Says:

    Za, Zi ..
    Hmm, Ziza ? ^^ v



  2. QueeNerva Says:

    Test add comment ad feeder


  3. Anonymous Says:

    just let it be... and enjoy it..


  4. QueeNerva Says:

    Enjoy it..its ok, but let it be? I wish I could..


  5. Anonymous Says:

    Who's that guy?


  6. QueeNerva Says:

    Seseorang yang tidak boleh disebut namanya ...


Thanks for leaving comment..