Catatan Perjalanan - Final AFF: It's Not About Football - 2

Baca: Catatan Perjalanan - Final AFF: It's Not About Football - 1


     Di Bukit Bintang, kami bertemu teman-teman Indonesia yang berdomisili di KL sembari makan siang di salah satu gerai cepat saji di sana. Dilanjutkan dengan sesi pencarian hostel dan nge-mall (lagi) di Pavilion. Jangan dikira aktifitas mall dari mall kami di sini untuk belanja. Kunjungan mall ke mall ini hanya untuk memuaskan nafsu foto-foto narsis berlatar belakang gemerlap hiasan Natal yang banyak bertebaran di sana. Siang itu kami akhiri dengan cemilan singkat ke ISetan depan Pavilion. 

Mungkin karena masih termasuk jam makan siang, basement food court itu luar biasa penuh. Perjuangan kami untuk mendapatkan meja baru terbayar hampir setengah jam dan lebih dari 4 kali tawaf. Saya yang masih kenyang "hanya" memesan minum dan beberapa butir gorengan bola-bola talas dan ubi jalar. Awalnya, saya tidak yakin ada yang bisa saya "makan" di sana. Karena memang sepertinya kebanyakan adalah makanan yang tidak halal. Tapi karena melihat seorang penjualnya berjilbab, saya pun meembeli gorengan itu. Ketika saya pesan, ibu-ibu penjual itu melontarkan kata-kata yang saya anggap sebagai pertanyaan, "Dibungkus?". Saya yang berniat makan di tempat tentu saja bilang "Tidak, makan sini". Eh, tidak disangka si ibu dengan keukeuh-nya bilang "Dibungkus saja ya..". Sepersekian detik otak saya teringat adegan "pengusiran" di salah satu gerai fast food di Mersing pada bulan puasa lalu, "Not again.." pikir saya. Tapi demi melihat senyum si ibu akhirnya saya mengerti maksud dan tujuannya, segera saya iyakan untuk dibungkus.
     Pukul 4 sore kami sudah bersiap menuju ke Bukit Jalil. Sepanjang stasiun ke arah bukit Jalil sudah penuh dengan teriakan-teriakan suporter yang cukup membuat nyali ciut. Apalagi, meskipun ada beberapa orang berbaju merah, supporter Garuda, jauh lebih banyak lagi supporter-supporter Harimau yang berseragam kuning. Meski terdengar berisik deengan segala macam yel-yel yang mereka teriakkan, saya jujur salut, mereka memasuki gerbong dengan tertib. Tidak ada aksi dorong meskipun gerbong kereta begitu penuh dengan ribuan orang yang tidak semuanya "berwarna" seragam. Bahkan saya masih bisa menyelipkan tas saya yang cukup besar tanpa kerepotan dan seorang teman bahkan masih sempat, dan berani, memotret dalam gerbong. Sesuatu yang langka saya jumpai di negeri saya sendiri.
     Dari pukul 5 sesampainya kami di Bukit Jalil, sampai pukul 7 adalah waktunya menunggu tiket. Waktu selama itu kami habiskan berkeliling mencari apa saja untuk melengkapi penampilan, mulai dari atribut kaos, bendera, slyer, ikat kepala atau sekedar saya manfaatkan untuk mengabadikan moment-moment perpaduan Merah dan Kuning.

Kami benar-benar larut ke dalam euforia Merah Putih. Kenal tidak kenal selama beratribut Merah Putih adalah saudara. Saya, kami, yang tidak pernah, sama sekali, menonton langsung pertandingan sepakbola dan terkadang merasa aneh melihat orang-orang yang mau-maunya berdandan konyol untuk tim kesayangan mereka menjadi sedikit bisa mengerti. Ini bukan lagi hanya soal sepakbola, ini masalah kebanggaan. 
Ketika pukul 7 pintu  gerbang dibuka, kami mulai bergabung dengan pasukan merah lainnya menyemut ke arah gerbang khusus suporter Indonesia, seperti tercantum di tiket.      Yang sebetulnya tidak seorang pun dari kami tahu di mana. Cukup mengikuti keramaian saja lah..selama masih warna yang sama ditanggung sampai gerbang yang benar. Sepanjang mengelilingi stadium beberapa kali kami melewati konsentrasi massa Kuning, dan sekali lagi saya salut dengan mereka yang tidak melakukan tindak provokasi fisik dan membiarkan kami lewat dengan tenang. 

     Begitu memasuki gerbang, mencari tribun seperti tercantum di tiket, kami baru sadar satu hal. Tribun kami bukan salah satu tribun Indonesia, dengan kata lain tiket kami harusnya tiket untuk Malaysia saja. Karena tidak mungkin mencari tribun yang benar, akhirnya kami bertujuh memutuskan untuk menyelinap saja di salah satu tribun terdekat dari pintu keluar.
     Satu hal yang baru saya sadari ketika menonton pertandingan langsung adalah tidak ada komentator yang menjelaskan jalannya pertandingan termasuk tim mana berseragam warna apa. Lebih parah lagi karena saat itu tim Garuda tidak mengenakan seragam merah seperti dugaan kami sebelumnya. Riuh rendah suara suporter juga tidak membantu kami mengidentifikasikan dengan jelas tim dengan seragam biru atau hijau yang harus kami bela. Sampai akhirnya kami bisa mengenali lambang Pancasila di kaos salah satu pemain yang berhasil saya foto. Dan karena ramai suporter yang luar biasa itu juga kami melewatkan moment menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Deg-degan, itu yang bisa saya gambarkan saat itu. Antara deg-degan melihat aksi tim Garuda, dan deg-degan dengan status kami sebagai supporter tim lawan di antara puluhan ribu suporter tuan rumah yang mulai panas. Walaupun kebanyakan aksi berbahaya mereka lebih banyak terjadi di tribun seperti menyalakan petasan, menyulut kembang api dan yang terakhir, lebih cocok disebut kocak, adalah menggelar bendera besar Malaysia yang ternyata dalam posisi terbalik ketika lagu kebangsaan dikumandangkan.

     Aksi yang paling membuat saya senam jantung adalah ketika gelombang besar massa Kuning mulai memasuki area suporter Indonesia. Lebih gawatnya lagi adalah karena mereka berusaha menguasai tribun bagian atas dari tribun Indonesia. Walhasil jadilah adu makian dan perang botol air mineral dari atas ke bawah dan sebaliknya. Puncaknya adalah di awal babak kedua ketika Markus, penjaga gawang Garuda melancarkan protes keras karena ulah suporter Malaysia yang mengarahkan laser hijau ke mukanya. Sebetulnya itu bukan pertama kalinya, karena kamera saya sempat mengabadikan laser hijau yang sama jatuh di badan Firman Utina, sang kapten Garuda ketika melakukan tendangan sudut di babak pertama. Mulai dari situ, yang berbuntut kebobolannya gawang Garuda 3 kali dalam waktu kurang dari 10 menit, satu per satu suporter Garuda mulai beringsut meninggalkan tribun. Hingga akhirnya kami mengikuti keluar bersama dengan satu gelombang besar teman-teman yang lain. Saat itu posisi saya ada di bangku tribun paling belakang, dan di barisan belakang, tepat di balik punggung saya adalah massa Harimau. Maka demi melihat suasana yang sudah sangat panas, kami memutuskan untuk mengikuti keluar dari stadion dengan dada sesak mendengar riuh rendah sorakan supporter Malaysia yang masih dengan semangat penuh memberi semangat tim mereka.
    Sebetulnya apa yang dilakukan suporter Malaysia kala itu masih dalam kisaran normal dan wajar. Karena saya yakin, kalau pertandingan dilakukan di Indonesia dan supporter Malaysia yang hadir di GBK puluhan ribu seperti kami saat itu di Bukit Jalil, maka hanya Tuhan yang tahu apa jadinya itu GBK. 
     Di luar stadion, sambil menunggu bis pukul 11, kami habiskan waktu dengan menandaskan 2 mangkok sup ayam, semangkok sup daging, dan sepiring ayam madu dalam diam.
     Juga ketika dalam bis, yang ternyata tempat duduknya 2-2 (itu mengapa saya menyesal), kami hanya mengatur posisi tidur masing-masing tanpa banyak antusiasme seperti ketika kami berangkat. Separoh karena aura kekalahan yang masih menyesakkan dan selebihnya karena memang kantuk yang sudah luar biasa.
     Tiba di Singapore pukul 7 pagi, perjalanan kurang dari 36 jam ini menguras dompet saya sebanyak MRY 183, yang seperti biasa, tidak tahu rinciannya.


Courtesy Foto: Tommy Khoe, Lily Sumiko
0 Responses

Thanks for leaving comment..