|
Pernah merasa marah pada diri sendiri?
Saya hampir tidak pernah. Jengkel si kadang. Feel stupid and ridiculous itu sering. Banget bahkan. Tapi tidak dengan merasa marah.
Tapi beberapa hari belakangan ini saya merasakan perasaan itu. Perasaan yang bikin saya pengen ngomong "Enough, that's it Na!!"
Tiga belas tahun terlewat, dan saya masih sama saja dengan anak kelas 6 SD yang merasa insecure dengan ranking temannya yang semakin membaik.
Dua puluh tahun berlalu, dan ternyata saya masih perempuan kecil 7 tahun yang merasa jengkel karena paman kesayangannya tidak lagi hanya untuknya.
Tiga windu waktu berjalan dan saya tetap anak kecil yang menangis dan mengadu pada ibunya ketika semua teman-temannya pulang ke rumah masing-masing dan tidak lagi bermain dengannya.
Possessive, salah satu teman saya pernah dengan lugas menyebut saya. Bukan atas benda, mainan atau sesuatu yang fisikal bisa saya punya, tapi terhadap orang-orang di sekitar saya dan terhadap sesuatu yang membuat saya nyaman.
Bertahun-tahun belajar dalam hidup, tidak membuat saya lebih bijak menyikapi sebuah rasa kehilangan. Menyikapi bahwa kadang hidup tidak seperti yang kita harapkan. Saya tetap menjadi pecundang yang men-shutdown diri sendiri ketika itu terjadi.
Well, saya tahu itu kekanak-kanakan. Saya tahu apa yang mungkin kamu bilang, belajarlah berlapang dada. Belajar bahwa dunia saya tidak berhenti ketika orang-orang yang kita cintai tak lagi sepenuhnya milik kita. Dan belajar untuk berbagi. Karena mereka toh tidak pernah meninggalkan saya, meskipun tak lagi sepenuhnya untuk saya.
In the end, maaf saya untuk beberapa orang yang merasa tiba-tiba saya shutting down. Maaf. Tolong beri saya waktu. Waktu untuk menenangkan dan berdamai dengan diri saya sendiri.
**Lama-lama merasa ini postingan blog banyak curcol-nya.
Saya hampir tidak pernah. Jengkel si kadang. Feel stupid and ridiculous itu sering. Banget bahkan. Tapi tidak dengan merasa marah.
Tapi beberapa hari belakangan ini saya merasakan perasaan itu. Perasaan yang bikin saya pengen ngomong "Enough, that's it Na!!"
Tiga belas tahun terlewat, dan saya masih sama saja dengan anak kelas 6 SD yang merasa insecure dengan ranking temannya yang semakin membaik.
Dua puluh tahun berlalu, dan ternyata saya masih perempuan kecil 7 tahun yang merasa jengkel karena paman kesayangannya tidak lagi hanya untuknya.
Tiga windu waktu berjalan dan saya tetap anak kecil yang menangis dan mengadu pada ibunya ketika semua teman-temannya pulang ke rumah masing-masing dan tidak lagi bermain dengannya.
Possessive, salah satu teman saya pernah dengan lugas menyebut saya. Bukan atas benda, mainan atau sesuatu yang fisikal bisa saya punya, tapi terhadap orang-orang di sekitar saya dan terhadap sesuatu yang membuat saya nyaman.
Bertahun-tahun belajar dalam hidup, tidak membuat saya lebih bijak menyikapi sebuah rasa kehilangan. Menyikapi bahwa kadang hidup tidak seperti yang kita harapkan. Saya tetap menjadi pecundang yang men-shutdown diri sendiri ketika itu terjadi.
Well, saya tahu itu kekanak-kanakan. Saya tahu apa yang mungkin kamu bilang, belajarlah berlapang dada. Belajar bahwa dunia saya tidak berhenti ketika orang-orang yang kita cintai tak lagi sepenuhnya milik kita. Dan belajar untuk berbagi. Karena mereka toh tidak pernah meninggalkan saya, meskipun tak lagi sepenuhnya untuk saya.
In the end, maaf saya untuk beberapa orang yang merasa tiba-tiba saya shutting down. Maaf. Tolong beri saya waktu. Waktu untuk menenangkan dan berdamai dengan diri saya sendiri.
**Lama-lama merasa ini postingan blog banyak curcol-nya.
Thanks for leaving comment..