|
Ada ratusan pilihan jurusan penerbangan dari bandar udara terbesar se-Asia Tenggara ini. Tapi tentu bukan tanpa alasan kalau saya akhirnya memutuskan Jakarta sebagai tempat melarikan diri saya minggu lalu. Alasan yang tidak perlu lah kita bahas di ranah publik ini.
Tidak tidur semalaman benar-benar melumpuhkan otak saya. Saya yang memutuskan untuk cepat-cepat masuk pesawat pada panggilan boarding pertama segara menutup mata begitu duduk. Saya tertidur bahkan sebelum pesawat 1/3 penuh. Saya sempat terkejut ketika tersadar pesawat melaju kencang di runway, saya pikir sudah mendarat. Ternyata pesawat baru saja akan take off. Maka lanjutlah acara tidur saya pagi itu. Begitu tersadar lagi hal pertama yang saya dengar adalah pengumuman pramugari bahwa dalam beberapa menit lagi kami akan mendarat. Pemandangan kota Jakarta tenggelam dalam kabut segera menghampar di bawah saya. Kabut yang cukup membuat miris memang. Kota di pesisir ini memang tidak seharusnya berkabut di pagi hari, apa lagi saat itu sudah lebih dari pukul 7.30. Sepertinya asap pembuangan segala hal telah betul-betul meresap di kota metropolitan ini.
Jarum pendek jam baru saja melewati angka 2 ketika saya melangkahkan kaki keluar dari taksi yang membawa saya dari Tampines di Changi airport. Pagi itu bandara tampak masih lenggang. Satu dua orang tampak saya lihat menyerah pada kantuk dan merebahkan diri di tempat-tempat yang mereka rasa nyaman untuk sekadar meluruskan punggung. Changi memang cukup ramah untuk para musafir kemalaman. Beberapa orang tampak asyik menekuri komputer jinjing mereka. Sebelum saya menyusul mereka menikmati wifi gratis yang ditawarkan bandara ini, saya menyempatkan diri berkeliling area keberangkatan terminal 2 itu, untuk mencari colokan listrik, mengingat baterai laptop saya yang kritis. Tidak susah sebenarnya mencari colokan listrik di sini. Di setiap pilar gedung dan di beberapa tempat di dinding ada kotak putih colokan listrik. Hanya saja, hampir semua colokan, yang jumlahnya puluhan itu, terkunci. Usaha pantang menyerah saya membuahkan hasil. Di area check in Singapore Airlines, tepat di depan gerbang utama keberangkatan terminal 2, ada semacam alat X ray untuk bagasi penumpang. Di bawah alat tersebut mencuat 2 buah colokan listrik yang saya cari-cari. Maka tanpa menghiraukan dinginnya lantai bandara, mulailah saya menjadi penguasa area itu beberapa jam ke depan sambil menunggu waktu check in.
| Jakarta pagi ini |
Eat and Eat
Saya harus bilang di awal bahwa saya bukan penikmat wisata kuliner yang baik. Bukan karena saya tidak suka makan (jelas kalau itu), tapi karena buat saya makanan itu hanya ada enak dan enak sekali. Jadi entah mau wisata kuliner atau tidak, buat saya tidak ada bedanya.
Tapi pulang ke Indonesia tanpa mengkhususkan diri mencicipi kuliner populer terakhir di sini memang kurang afdol. Maka saya langsung mengiyakan dengan antusias begitu teman saya mengajak saya makan malam di D'Cost Plaza Semanggi. Saya pertama kali mendengar nama D'Cost ketika teman-teman milis berencana mengadakan buka bersama di sana. Di Jakarta sendiri ada 34 gerai D'Cost yang tersebar di banyak mal-mal besar. Tempat makan yang mengusung line "Mutu bintang lima, harga kaki lima" ini betul-betul membuktikan janjinya. Yang paling mencolok mata adalah harga "Es Teh - Rp500,00", harga yang terakhir kali saya temui di warung makan 12 tahun lalu.
Malam itu kami berdua memesan Kepiting Soka Saus Telur Asin, Ikan Patin Tim Kecap, Tumis Kangkung Belacan, masing-masing satu porsi. Dua porsi nasi putih. Dan 3 gelas es teh manis (tidak perlu bertanya siapa yang memesan 2 gelas). Kepiting Soka Saus Telur Asinnya, terasa menggoyang lidah. Paduan rasa manis kepiting dan masir kuning telur asin membuat saya betah berlama-lama mengulum potongan-potongan kepiting itu di mulut sebelum memerintahkan gigi saya untuk mencacahnya lebih kecil. Sedangkan tim Patin-nya yang sangat lembut, terasa lumer di mulut. Meskipun dibilang harga kaki lima, porsi yang dihidangkan cukup membuat saya dan teman saya puas kekenyangan.
Selain makanan dan harganya, yang membuat saya cukup kagum dengan konsep restoran ini adalah pelayanannya yang sangat cepat. Dengan area seluas itu dan pengunjung yang memenuhi semua kursi (bahkan kami harus mengantri sebelum bisa mendapatkan tempat duduk), makanan bisa dihidangkan dalam waktu kurang dari 15 menit setelah kami memesan. Pramusaji di D'Cost rupanya sudah tidak lagi menggunakan pulpen dan kertas manual untuk mencatat pesanan tamu. Setiap dari mereka dibekali semacam data collector untuk mencatat dan walky-talky untuk berkomunikasi satu sama lain. Hal yang cukup efektif saya lihat untuk ruangan restoran sebesar itu. Overall, tempat ini rekomended sebagai tempat makan di Jakarta, tidak hanya dari mutu makanan dan harga, tapi juga atraksi pelayanan mereka yang juara.
Kebun Raya Bogor
| KRB Corner |
| From Gate 3 |
Sebetulnya, saya tidak punya agenda khusus ketika memutuskan untuk ke Jakarta. Tapi sesampainya di Jakarta, ketika teman saya bertanya, saya lantas teringat salah satu tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi, Kebun Raya Bogor (KRB).
| Kuncup |
Beberapa teman saya mengklaim Kebun Raya ini sedikit banyak mirip dengan Singapore Botanical Garden (SBG). Tapi saya yakin KRB seluas 80 hektar ini jauh lebih luas dan punya jauh lebih banyak koleksi tumbuhan dibandingkan SBG. Kehadiran Rafflesia Padma, yang mengukuhkan kelengkapan KRB sebagai satu-satunya botanical garden di dunia yang berhasil membudidayakan tanaman ini di luar habitatnya, menambah semarak kebun raksasa ini. Belum lagi koleksi ratusan rusa yang sengaja dipelihara di taman istana kepresidenan Bogor, yang termasuk juga dalam kompleks KRB.
| Landing |
Meskipun kalau buat saya pribadi, tidak adil membandingkan antara KRB dan SBG. Not apple to apple. Di satu sisi, tidak bisa dipungkiri, sebagai pengunjung saya merasa sedikit tidak cukup nyaman dengan minimnya fasilitas yang tersedia di KRB. Baik itu toilet, tempat sampah, bangku taman, peta, informasi dan beberapa hal lain yang harusnya bisa lebih menambah daya tarik tempat ini. Di sisi lain, keberadaan ruang hijau sebesar ini di tengah-tengah kota Bogor dan terawat baik, dalam ukuran Indonesia, cukup diacungi jempol.
Indonesia dalam KRL ekonomi
| KRL Ekonomi |
Untuk mencapai KRB dari Jakarta tidak diperlukan waktu lama. Saya yang kebetulan bermalam di Kalibata hanya memerlukan waktu kurang dari 1.5 jam dengan KRL ekonomi dari Stasiun Kalibata. Tinggal pilih, dengan Rp 5.500,00 menggunakan KRL ekonomi AC atau Rp 2.000,00 tanpa AC. Karena satu dan lain hal, saya sempat mencicipi keduanya. Pergi dengan AC pulang tanpa AC.
Meskipun sama-sama berjudul KRL ekonomi, perbedaan Rp 3.500 berbicara cukup banyak di mata saya. Mulai dari pintu kereta, tempat duduk, lantai, dan penumpang yang mengisi gerbong per gerbongnya. Jangan pernah mengharapkan pintu kereta di ekomoni non AC. Tak ada kata safety first di sana. Saya sempat tertegun sebentar melihat tempat duduk yang tampak compang-camping itu. Juga lantai dengan sampah di mana-mana bercampur dengan air hujan yang sedikit menerpa, membentuk beberapa genangan air di hampir semua tempat. Meskipun hanya berbeda Rp 3.500,00 saya bisa melihat penumpang di ekonomi non AC selalu lebih membludak dibanding berAC.
Tiga lembar uang seribuan dan sekeping lima ratus rupiah yang memetakan keadaan sosial masyarakat kita. Kenyataan yang membuat saya dan teman saya menelan keluhan kami. Tak pantas rasanya kami mengeluh tentang keadaan kereta itu jika hanya sekali itu kami menaikinya.
Tak pantas saya mengeluhkan hidup saya, jika saya selalu masih punya pilihan.
| Morning Life |
ough....terpesona aku lihat foto2nya...jadi teringat juga dan bertanya tanya...kapan ya aku terakhir ke Bogor?
Lessy: :) Makasih.. Kalau aku harus diganti tu pertanyaannya, kapan aku pertama dan terakhir kalinya ke Bogor? Minggu lalu :D