Tattoo: Should I Get One?

            Siang belum lama tergelincir ke barat, ketika saya kedinginan sendirian di ruangan besar ini. Ruangan yang seharusnya dihuni seratusan orang ini tiba-tiba kosong karena hampir semua penghuni "memaksakan diri" ke lantai 7 untuk meeting. Sedang saya? Tentu saja sebagai kompensasi sebagai seorang consultant (love that word), saya cukup beruntung untuk menghadiri acara makan-makannya saja. Setelah itu, bersantai-santai sambil browsing dan chatting seperti sekarang ini.
            Chatting dengan seorang teman di belahan bumi bagian sana, membahas hidup dan masa depan, sampai akhirnya dia bertanya,
"Kalo bertato kira-kira nilainya minus ga ya? :-S"
Seketika tawa kecil saya menyembur, dan sambil masih menahan tawa saya ketik jawaban saya.
"For me? Come on .. you know me better than that."
            Ya, teman saya itu pasti tahu persis, bahwa saya jauh dari kata alergi untuk urusan tato. Buat saya tato lebih condong merupakan kebebasan kehendak dan seni daripada pandangan negative. Sebuah freedom ideology yang dituangkan dalam seni rajah tubuh. Meskipun tidak hanya terbatas di sana, tato juga merupakan media religi dan spiritualitas untuk beberapa kalangan. Seorang teman bahkan menggabungkan seni dan spiritualitas dalam beberapa tatoo di tubuhnya. Instead of menato diri dengan tribal, naga atau pattern populer lainnya, dia menorehkan wajah Yesus dan bunda Maria di masing-masing lengan, sebuah formasi 3 salib di punggung dan sebuah kalung berliontin salib "tergantung" dari leher hingga perut. Harus saya akui ini kombinasi tato terunik yang pernah saya lihat (Kombinasi tato loe Man, bukan loe-nya!). 
            Iseng-iseng membuka Wikipedia, tato, atau tattoo dalam bahasa Inggris, pertama kali dikemukakan oleh Joseph Bank, seorang peneliti, dalam jurnalnya "Endeavour" di tahun 1769. Mengutip apa yang ditulisnya di sini, "I shall now mention the way they mark themselves indelibly, each of them is so marked by their humor or disposition". 
            Seni tato telah lama dipraktekan di seluruh belahan bumi . Mulai dari Ainu, sebuah suku tradisional di Jepang, Berbers di Tamazgha (Afrika Utara), Maori di Selandia Baru, sampai suku Avatal di Taiwan, mereka mentato wajah sebagai tradisi. tato juga dikenal di segala penjuru Polinesia, Philippines, Borneo, Mentawai Islands, Africa, North America, South America, Mesoamerica, Europe, Cambodia, dan Micronesia. Terlepas dari hal tabu yang tentang tato, seni ini tak urung menjadi seni yang popular di seluruh pelosok dunia.
            Hubungan saya dan tato memang tidak begitu dekat, dalam artian tidak ada satu sentimeter persegi pun kulit saya yang pernah dirajah jarum tato. Tapi bukan bearti saya bukan penggemar seni ini. Saya ingat akhir tahun 2003 ketika pertama kalinya saya tertarik dengan seni melukis tubuh ini. Kala itu kebetulan ada trip keluarga ke Bali. Bukan dengan tato sebenar-benarnya tato memang. Hanya temporary tato atau lukisan tinta di kulit yang bisa bertahan 2 minggu, dengan catatan tidak kena air, atau seminggu kurang sedikit lah dengan mandi teratur. Tapi sayangnya, meskipun hanya lukisan kecil, dan tidak permanen, kala itu orang tua saya keberatan. Jadi akhirnya hanya bisa melihat-lihat cantiknya hasil lukis itu di tangan dan kaki orang lain. 
            Tahun 2004 Februari saya memberanikan diri untuk membuat tato temporer ketika berjalan-jalan di Malioboro Yogyakarta. Tepat di emperan jalan, di trotoar Malioboro, saya mendapat tato temporer pertama saya. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan orang tua. Jangan tanya di mana saya minta untuk dilukis ya..karena Mas-nya sendiri pun sedikit takjub dengan kenekatan saya. "Mbaknya berani ya? Biasanya klo minta ditato di sebelah sini tu minta natonya di sebelah sana, agak masuk gang, yang ga rame orang. Bukan di pinggir jalan gini." Whattt!?!?! Kenapa ga bilang dari tadi?
            Terhitung 2 kali saya punya temporary tato. Yang berikutnya saya dapatkan sambil menikmati dinginnya udara Kintamani dan memandang gagahnya siluet gunung Batur di Bali. Dan kali ini tidak senekat yang pertama, hanya di punggung tangan. Cukuplah.
            Sebenarnya, saya juga berkeinginan untuk mempunyai tato permanen. Belum tahu memang gambar apa, tapi harus yang cukup unik untuk dikenang sebagai kenang-kenangan umur 20an. Sayangnya, keinginan itu terbentur di beberapa hal. Pertama, setau saya, dalam agama saya tidak memperbolehkan tato, tapi lebih dari itu, saya lebih memikirkan komentar orangtua saya kalau tahu anak perempuan mereka satu-satunya bertato. Yang untuk mereka jauh lebih parah dibanding piercing. Dengan alasan karena piercing bisa dengan mudah menutup, sedangkan tato, sampai sekarang procedure penghilangan tato masih terbilang cukup rumit.
            Tapi terlepas dari agama dan ijin orangtua, alasan kenapa saya masih berfikir-fikir untuk menato tubuh saya adalah bahwa tato itu seperti komitmen seumur hidup. Ketika umur 20an mungkin sangat gaya untuk punya tato. Umur 30an dan 40an, tato adalah lambang kematangan. Tapi misal saya diberi umur panjang sampai 70 atau bahkan 80 tahun, masih cukup pantaskah tato yang saya torehkan 50 tahun sebelumnya? Jadi buat saya, memutuskan untuk mempunyai tato itu sama saja memutuskan akan menjadi seperti apa hidup saya 40 atau 50 tahun lagi.
            Jadi, mungkin masih butuh waktu dan usaha yang panjang guna meyakinkan saya untuk mendapatkan permanen tato pertama saya. Challenged to convince me?



6 Responses
  1. aki Says:

    wuiiiiii...
    ternyata si mbak nyeleneh


  2. QueeNerva Says:

    @Aki: Wah..lom tau aja kau.. :p


  3. handa Says:

    terlepas pantas atau tidak setelah beberapa dekade lagi setidaknya itu pantas untuk jadi kenangan yang bikin senyam-senyum sendiri (salah satu reaksi) entah karena ada kenangan manis atau memalukan hahahahaha


  4. QueeNerva Says:

    Kwkwkw...saya yakin lebih ke yang nomer 2 deh...kenangan memalukan :p


  5. live while we're young, do what ever you want to do
    termasuk tattooing

    karena nantinya itu akan jadi kenangan tersendiri untuk diri kita dan orang2 terdekat :D


  6. QueeNerva Says:

    Hanggono Oka Eki: Pembenaran aja kamu Ki... :p


Thanks for leaving comment..