|
Pagi masih muda, belum lagi genap pukul 10, ketika saya, yang tengah berdiskusi dengan seorang rekan kerja, dikagetkan suara Daniel Powter yang menyanyikan Bad Day, ringtone yang saya set hanya untuk beberapa orang termasuk bos saya. Pameo yang bilang bahwa telepon pagi hari dari bos tidak pernah berisi berita baik, terbukti juga hari itu.
"Itu kenapa POnya masih ada perubahan?" cecarnya seketika tanpa basa-basi begitu saya bilang hallo.
"Hah? Ga ada yang berubah kok." Saya yang tidak merasa menginstruksikan perubahan apa pun ke programmer jelas mengelak.
Ternyata si bos mempertanyakan project yang saya pegang, yang seharusnya ready untuk dites oleh user hari ini. Development process dari project itu sendiri sebetulnya sudah selesai 2 hari sebelumnya. Kemarin adalah waktunya untuk saya melakukan unit testing. Semua sesuai procedure dan sesuai jadwal. Yang terlewat dari prediksi (dan karena ketatnya schedule) adalah ada beberapa bug yang mau tidak mau harus saya kembalikan ke programmer untuk dibetulkan, kecuali kami mau mendeliver system berkutu ke user. Jadi jelas saya tidak terima kalau dibilang saya merubah spec di menit-menit terakhir.
Mendengar penjelasan saya, masih dengan nada sedikit tinggi, si bos akhirnya bilang, "Lain kali kalau ada apapun yang bikin project not in schedule, bilang ke gue"
"Iya, OK.", jawab saya. Untuk yang ini saya tidak punya pembelaan. Saya memang tidak memberikan laporan apapun mengenai kemungkinan keterlambatan project ini. "Lagian, heboh amat si. Telat cuman sehari ini, toh ini project kan emang udah telat dari berbulan-bulan lalu. Nambah sehari aja apa bedanya", tentu saja bagian ini saya ucapkan di dalam hati.
Saya pada dasarnya memang bukan tukang update, kecuali ditanya. Bahkan untuk mengupdate status helpdesk saja saya kadang terlewat. Selama sudah saya kerjakan, saya anggap kewajiban untuk melakukan closing hanyalah masalah administrasi. Jadilah tak jarang saya menjadi pemegang top scorer open helpdesk. Padahal kalau dicek satu persatu, 90% di antaranya sudah lama selesai.
Saya tidak ingat kapan persisnya kejadian itu, tapi saya ingat betul itu kali pertama bos memberi saya teguran keras (baca: memarahi). Walaupun bukan terakhir kalinya. Dan sejak itu saya cukup rajin memberi update status kerjaan saya terutama jika menyangkut schedule project dan perubahan spec, baik melalui email atau secara lisan. Itu saya lakukan lebih karena saya malas dimarahi seperti anak kecil dari pada menjalankan sebuah kewajiban yang logis, karena saya masih belum melihat pentingnya, toh dia bisa lihat apa yang saya kerjakan di cubicle saya dan dari email-email saya ke user.
Waktu berjalan, hidup berubah. Tuhan tahu, tapi menunggu. Hingga beberapa minggu lalu saya cukup dibuat kelimpungan dengan masalah update progress ini.
Seharian itu saya cukup santai. Semua feedback dari user sudah saya retest, compile dan saya kirim ke programmer kemarin. Semua instruksi untuk menyelesaikan bug hari ini sudah lengkap terkirim. Beberapa feedback dari user yang perlu penjelasan sudah saya reply balik ke mereka. Belum ada feedback baru dari user dan belum ada update ataupun pertanyaan dari China, tempat rekan programmer saya berada. So bisa dibilang kerjaan saya hari itu adalah menunggu.
Ditunggu punya ditunggu, sampai pukul 5 sore belum juga ada kabar apapun dari rekan kerja saya nun jauh di sana. Ketika saya tanyakan progress bug fixing hari itu, saya mendapatkan jawaban yang cukup mengejutkan. "Sorry, one of my colleagues is on leave. And one of the source codes is on him. I can't find it. So I'll deliver to you tomorrow." What?!?!? Ealah Mas..ngapa ndak ngomong dari tadi pagi.
Segera saya email kepada user menjelaskan keterlambatan itu tanpa memberi tahu mereka alasannya dan menjadwal ulang testing di keesokan harinya. Untungnya user saya mengerti dan tidak keberatan dengan delay tersebut.
Sedangkan kepada teman-teman saya di tim development, alih-alih marah, saya justru merasa "ditampar". Saya jadi bisa mengerti alasan mengapa bos saya bisa semarah itu kala itu. Ini bukan masalah ketidakmampuan kita menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tapi ini lebih kepada ketidakmampuan kita menjaga commitment kita. Dan repotnya adalah jika miss commitment seperti ini tidak hanya melibatkan 2pihak tapi juga pihak-pihak ke 3, 4 dan seterusnya. Pemberitahuan di muka, bukan di menit-menit terakhir, akan membuat pihak-pihak yang bersangkutan bisa menjadwalulang juga aktifitas mereka dengan segera, dan bisa menghindari delay yang tidak perlu.
Kesadaran itu seperti mengguyur kepala saya dengan air dingin, sehingga saya merasa cukup mengirim friendly email kepada mereka, "Guys, so appreciate if next time you can update me in advance if there's any possible delay."
Maka ketika salah seorang teman mengirim pesan singkat tentang pekerjaannya yang belum bisa terselesaikan ke handphone saya, "Dia bisa lihat aku ngapain. Aku rasa ga perlu konfirmasi ke dia", saya langsung bisa jawab, "Could you please inform him in advance?"
hmm... baru baca yang ini...
moral of the story-nya bagus.. bagus buat "nampar" tu temen yang sms kmu :D
Kwkwkw...jauh tu temen..asyik klo bisa "tampar-tamparan" di blog gini.. :D