Have you donated your blood this quarter?

       Aku edarkan pandangan di ruangan yang didominasi warna putih itu. Bau antibiotik khas rumah sakit tercium samar. Beberapa kali terlihat perawat berpakaian putih-putih itu melintas di hadapanku. Seorang bapak dan perempuan muda tampak duduk bersandar di bangku seberang. Seorang sedang berbicara dengan perawat di ruang kaca, entah apa yang mereka bicarakan. Sedang 2 orang lain aku lihat berbaring di sebuah tempat tidur. Semuanya tampak sibuk dengan urusan dan pikiran masing-masing.
       "Buat siapa Mbak?" sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku dari pengamatan iseng ruangan ini.
       "Maaf, apa Bu?" ternyata seorang perempuan setengah baya duduk di sebelahku.
       "Mbak'e mau donor buat siapa?" ulangnya lagi.
       "Oh, ndak buat siapa-siapa. Ini rutin aja."
       "Golongan darah apa?"
       "O"
       "Oh, kalau gitu buat aku saja ya Mbak..buat anakku. Dia kena leukimia. Darah yang dibutuhkan belum cukup. Ya Mbak?" lanjutnya antusias menjelaskan tanpa aku minta.
       Tanpa pikir panjang, aku segera mengiyakan permintaannya dan memastikan ke perawat bahwa darahku nantinya akan digunakan oleh anak ibu itu.
       Pada awalnya perawat itu cukup ragu dengan keputusanku. Karena biasanya yang menjadi donor darah untuk kasus kanker darah adalah laki-laki, mengingat darah yang akan diambil lebih banyak daripada donor darah biasa. Setelah meyakinkan perawat, bahwa ini bukan pertama kalinya aku donor, akhirnya anggukan kepalanya mengembangkan senyum di bibir si ibu.
       Donor darah adalah salah satu keinginan terpendamku yang tidak pernah bisa aku realisasikan saat aku masih tinggal dengan orang tua. Keinginan yang lain adalah menjadi anggota Paresmapa (Pecinta Alam SMA 1 Pa*i), hehehe. Hingga akhirnya ketika kuliah, di saat ijin orang tua kadang bisa diminta setelah hal dilakukan, terealisasikanlah keingingan itu.
       Aku ingat donor darah pertama kali di Fakultas Kedokteran Umum kampus. Tidak ada persiapan, karena aku tahu ada kegiatan donor pun ketika melewati banner pengumuman di sebelah fakultas. Bahkan kala itu aku yang bersepeda sempat berfikir, "Setelah donor kuat naik sepeda ga ya?". Ternyata semua berjalan lancar. Tidak ada terasa pusing, berkunang-kunang, lemas, atau segala hal yang sempat aku kuatirkan. Selain Jogja, terhitung Sukoharjo, Batam dan Singapore pernah menjadi tempat donor darahku di tahun-tahun berikutnya.

Apa si donor darah?
Creative campaign of blood donation
       Donor darah merupakan proces ketika seorang yang sehat secara sukarela diambil darahnya yang kemudian digunakan dalam transfusi darah atau disimpan di bank darah guna dipakai sewaktu-waktu dibutuhkan (Wikipedia).
       Pada umumnya darah dari pendonor akan digunakan/diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Tapi bisa juga melakukan donor darah untuk diri sendiri. Karena, dengan berbagai alasan, bagaimanapun juga menerima darah sendiri jauh lebih baik daripada darah orang lain. Praktek ini belum umum, atau aku saja yang jarang menemukan, di Indonesia, tapi sepertinya cukup umum di Singapore. Keterangan lebih lengkap donor untuk diri sendiri ada di sini.

"Bisa donate ga ya?"
       "Wah..aku darah rendah." atau "Sorry Na, sepertinya gue kurang darah". Itu 2 dari sekian banyak jurus mengelak paling sering aku temui ketika mengajak orang untuk donor darah. Padahal keputusan seorang bisa donor darah atau tidak baru bisa diambil setelah serangkaian pemeriksaan sebelumnya. Tapi apa saja si batasan seorang bisa mendonor atau tidak?
       Aku ambil dari website HSA (Health Science Authority), pada dasarnya syarat untuk menjadi donatur darah tidaklah sulit, yaitu:
  • Berusia antara 16 sampai 60 tahun
  • Berat badan lebih dari 45 kg
  • Sehat atau merasa sehat
       Pada dasarnya hanya itu syarat utama seorang bisa mendonorkan darahnya, untuk kategori syarat yang bisa kita lihat tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Begitu sampai di tempat donor darah, akan ada pemeriksaan lanjutan yaitu pemeriksaan kadar hemoglobin dan tekanan darah. Kadar hemoglobin atau zat besi dalam darah untuk menjadi donor harus  lebih dari 12.5 g/dl. Tapi tidak boleh terlalu kental juga. Batas atas yang masih diperbolehkan setahuku 16 g/dl. Sedang untuk tekanan darah yang diperbolehkan yaitu systole 110 – 160 mm Hg dan diastole 70 – 100.  
Namun perlu diperhatikan juga beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang menunda dulu keinginannya untuk donor darah, antara lain:
  • Mempunyai gejala infeksi, seperti radang tenggorokan, diare, diharapkan menunda hingga 1 minggu setelah sembuh.
  • Demam lebih dari 38 derajat Celcius, diharapkan menunda hingga 3 minggu setelah sembuh. 
  • Setelah membersihkan karang gigi, diharapkan menunda sehari tapi kalau cabut gigi, ditunda dulu 3 hari. Khusus untuk cabut gigi geraham bungsu (wisdom tooth), harus menunda donor hingga 3 bulan.
  • Infeksi kulit ringan, diharapkan tunggu 1 minggu setelah sembuh
  • Berada di lingkungan yang terkena demam berdarah, cikungunya tapi tidak terinfeksi, ada baiknya menunggu 3 minggu. Ini sebabnya dalam pemeriksaan selalu ditanyakan apakah calon donor baru saja dari daerah rural di Indonesia atau negara-negara tropis lainnya dalam jangka waktu 3 minggu sebelumnya. Jika positif terinfeksi, maka waktu tunggu menjadi 6 bulan setelah penyembuhan.
  • Khusus untuk malaria, masa tunggu menjadi lebih lama, setidaknya 3 tahun setelah penyembuhan. Dan untuk orang yang berpergian ke daerah rural dimana malaria masih merupakan penyakit endemik, maka diharapkan menunggu hingga 6 minggu. 
  • Kontak dengan penderita Hepatitis B, diharapkan menunggu hingga 12 bulan dan telah mendapatkan imunisasi penuh Hepatitis B. 
  • Tattoo, tindik telinga atau bagian badan lainnya, akupuntur, dan tranfusi darah, diharuskan menunggu 1 tahun.
       Selain hal-hal diatas yang memaksa seseorang menunda donor darah, ada beberapa hal yang membuat seseorang tidak memungkinkan untuk mendonorkan darahnya. Syarat khusus itu adalah:
  • Penderita AIDS atau mereka yang berpotensi terpapar virus HIV seperti pengguna obat-obatan terlarang, pekerja seks komersial, seorang yang berganti-ganti pasangan seksual, pria yang melakukan hubungan homoseksual, dan siapa pun yang berhubungan seksual dengan dalam lingkungan di atas.
  • Penderita Hepatitis B
  • Penderita Syphilis 
Jadi, punya alasan yang lebih baik dong untuk menolak ajakan donor darah?

Donation process
       Ada lagi alasan yang beberapa kali aku dengar, "Ga deh, takut jarum gw". Oke, untuk alasan ini aku tidak bisa bilang apa-apa. Tapi bagaimana sebetulnya process donor darah? Semenakutkan pandangan orang ga si? Jarumnya segede apa si? Dan sakit ga si? 
       Secara garis besar, standard operation procedure untuk donor darah hampir sama antara Singapore maupun Indonesia. Pertama, kita akan diminta untuk mengisi formulis yang berisi data diri, riwayat kesehatan, aktifitas seksual, dan aktifitas mobilitas terakhir kita. Kemudian dilakukan pemeriksaan oleh dokter yang meliputi suhu tubuh, tekanan darah, dan berat badan. Untuk yang terakhir ini sepertinya tidak pernah ada yang meragukan aku *curcol*. Dokter ini juga bertugas untuk mengkonfirmasi kembali jawaban di lembar formulir yang kita isi.
       Pemeriksaan berikutnya adalah pemeriksaan hemoglobin. Pemeriksaan hemoglobin dilakukan dengan cara mengambil sedikit darah dari ujung jari menggunakan alat semacam pulpen tapi dengan ujung jarum halus. Setahun lalu, pemeriksaan hemoglobin dilakukan dengan menjatuhkan tetesan darah kita ke dalam cairan berwarna-biru-yang-aku-tidak-tahu-namanya. Jika darah mengambang, maka dianggap tidak memenuhi 12.5 g/dl yang ditentukan. Sekarang pengukuran dilakukan dengan semacam alat ukur digital yang akan menunjukan secara akurat berapa kadar hemoglobin dalam darah.
       Jika lolos, maka tahap berikutnya adalah pasrah. Maksudnya, waktunya donor darah. Kita akan diminta tiduran, walaupun beberapa teman memanfaatkannya untuk tidur beneran, dan ditanya akan mendonorkan tangan kanan atau tangan kiri. Maksudnya lagi, akan diambil darah di tangan kanan atau tangan kiri. Setelah itu, proses mencari pembuluh vena dilakukan. Pada beberapa kasus, pembuluh darah begitu kecil atau tertanam dalam, hingga sulit ditemukan. Termasuk kasus seorang teman yang mencak-mencak tidak terima setelah ditolak 2 kali karena pembuluh darahnya tidak ditemukan. 
       Setelah itu, petugas akan memberi anestesi di daerah yang akan diambil darahnya. Setelah sekitar 3 menit, maka proses pengambilan darah bisa dimulai. Prosesnya sendiri tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 10-20 menit. Tergantung amal ibadah dan kondisi darah masing-masing. Ada tips untuk mempercepat darah keluar, yaitu melakukan gerakan meremas secara kontinyu. Biasanya akan disediakan semacam bola karet kecil yang bisa diremas untuk membantu gerakan, dan boleh dibawa pulang jika tidak malu meminta ke petugasnya.
       Setelah kantong darah penuh, biasanya petugas akan meminta kita tetap berbaring hingga beberapa saat sebelum membebatkan perban warna-warni di siku. Lengkaplah proses donor darah dan tugas kita sebagai umat manusia.
       Sebelum dan setelah donor darah ada baiknya perbanyak minum untuk mempercepat regenerasi darah, perbanyak makanan yang mengandung zat besi, cukup tidur. Khusus sehari setelah donor, usahakan jangan mengangkat barang berat dan terlalu intens berolahraga. Intinya, istirahat dulu deh sehari.

Fun in blood
       Pernah ga ditolak donor darah? Pernah, sekali. Waktu itu tetesan darahku mengambang di pemeriksaan hemoglobin. Pernah pingsan setelah donor darah? Untungnya belum pernah, dan jangan pernah. Kata bu Guru, tidak baik menyusahkan orang lain, apalagi untuk menggotong aku yang pingsan kan?
       Pengalaman tidak terlupakan donor darah aku alami di Batam. Dengan hasrat dan semangat menggebu, akhir minggu itu aku menyambangi kantor PMI Batam yang terletak tepat di depan pusat perbelanjaan paling besar di Batam. Tak perlu waktu lama, setelah pemeriksaan dan sebagainya, proses pengambilan darah pun dimulai. Tunggu punya tunggu, pengambilan darah yang biasanya hanya memakan waktu 15 menit molor hingga lebih dari 30 menit. Penasaran dengan apa yang terjadi, petugasnya pun mengecek selang yang menghubungkan jarum di lenganku dengan kantong darah. Dan ternyata, selangnya tertekuk. Akibatnya darah yang sudah terlanjur keluar tidak lancar masuk ke kantong darah tapi membeku dan menyumbat selang. Akhirnya, kantong yang sudah berisi setengah itu terpaksa dibuang. Sedangkan nasib lenganku, meskipun tidak sakit, lebam kehijauannya tidak hilang selama seminggu penuh.
       Pengalaman lain lagi yang tidak terlupakan adalah donor darah pertama. Bukan donor darahnya sendiri yang begitu memorable, tetapi setelahnya. Seperti biasa setelah donor darah, kita akan diberi multi vitamin penambah zat besi dalam darah. Kala itu aku ingat sebotol "Sangobion" cair ukuran kecil. Entah petugasnya yang tidak menjelaskan atau aku yang sedemikian antusiasnya atas donor darah pertamaku waktu itu, sambil jalan meninggalkan meja pemeriksaan, segera aku buka botol itu dan aku minum hingga habis setengah.
       "Mbak, itu diminum nanti saja di rumah" ujar petugas PMI yang memeriksaku sebelumnya. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Hingga akhirnya sampai di rumah terbaca olehku cara pemakaian yang tercantum di botol kecil itu.
       "Dosis anjuran: 1 sendok teh (5 ml) / hari."
        "........"
0 Responses

Thanks for leaving comment..