“Dear God …”


          "Hidup jauh dari keluarga, teman-teman, orang yang kita kenal sebelumnya. Ga ada temen ngobrol, curhat, ngomongin masalah-masalah kita. Pasti kerasa sepi."
          "Kamu kan punya Tuhan."
Sebuah percakapan dengan seorang teman 5 tahun yang lalu.
          "Tapi Tuhan kan tidak akan menjawab dan berkomunikasi dua arah dengan kita seperti kalo kita ngobrol dengan temen."
          "Dia jawab. Loe aja yang ga dengar."
Sebuah percakapan lanjutan dengan teman yang berbeda, 3 bulan yang lalu.

          
Sebuah sekuel percakapan itu berdengung di kepala saya akhir-akhir ini. Yah, saya memang sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya berdialog dengan Tuhan. Berdialog, bukan sekadar monolog doa yang lebih terkesan sebagai rutinitas yang sepertinya lebih sering saya lakukan. 
          Saya akui, saya lebih sering melarikan diri dari dunia nyata dengan menekuri laptop berselancar di dunia maya, atau menyambar passport saya dan membiarkan sebuah burung besi membawa saya terbang. Sebuah pelarian yang selalu membuat saya berakhir di pelarian yang lain namun tetap dalam kesoliteran saya.
          Mungkin ini saatnya, bukan untuk menghentikan semua kegilaan pelarian saya, tapi meminta Dia menemani saya dalam pelarian saya.
So, "Dear God, nice to meet you. Sorry to not listen you this few years."
0 Responses

Thanks for leaving comment..