Jakarta Bogor Dalam Pelarian

  Ada ratusan pilihan jurusan penerbangan dari bandar udara terbesar se-Asia Tenggara ini. Tapi tentu bukan tanpa alasan kalau saya akhirnya memutuskan Jakarta sebagai tempat melarikan diri saya minggu lalu. Alasan yang tidak perlu lah kita bahas di ranah publik ini.
  Jarum pendek jam baru saja melewati angka 2 ketika saya melangkahkan kaki keluar dari taksi yang membawa saya dari Tampines di Changi airport. Pagi itu bandara tampak masih lenggang. Satu dua orang tampak saya lihat menyerah pada kantuk dan merebahkan diri di tempat-tempat yang mereka rasa nyaman untuk sekadar meluruskan punggung. Changi memang cukup ramah untuk para musafir kemalaman. Beberapa orang tampak asyik menekuri komputer jinjing mereka. Sebelum saya menyusul mereka menikmati wifi gratis yang ditawarkan bandara ini, saya menyempatkan diri berkeliling area keberangkatan terminal 2 itu, untuk mencari colokan listrik, mengingat baterai laptop saya yang kritis. Tidak susah sebenarnya mencari colokan listrik di sini. Di setiap pilar gedung dan di beberapa tempat di dinding ada kotak putih colokan listrik. Hanya saja, hampir semua colokan, yang jumlahnya puluhan itu, terkunci. Usaha pantang menyerah saya membuahkan hasil. Di area check in Singapore Airlines, tepat di depan gerbang utama keberangkatan terminal 2, ada semacam alat X ray untuk bagasi penumpang. Di bawah alat tersebut mencuat 2 buah colokan listrik yang saya cari-cari. Maka tanpa menghiraukan dinginnya lantai bandara, mulailah saya menjadi penguasa area itu beberapa jam ke depan sambil menunggu waktu check in.
Jakarta pagi ini
  Tidak tidur semalaman benar-benar melumpuhkan otak saya. Saya yang memutuskan untuk cepat-cepat masuk pesawat pada panggilan boarding pertama segara menutup mata begitu duduk. Saya tertidur bahkan sebelum pesawat 1/3 penuh. Saya sempat terkejut ketika tersadar pesawat melaju kencang di runway, saya pikir sudah mendarat. Ternyata pesawat baru saja akan take off. Maka lanjutlah acara tidur saya pagi itu. Begitu tersadar lagi hal pertama yang saya dengar adalah pengumuman pramugari bahwa dalam beberapa menit lagi kami akan mendarat. Pemandangan kota Jakarta tenggelam dalam kabut segera menghampar di bawah saya. Kabut yang cukup membuat miris memang. Kota di pesisir ini memang tidak seharusnya berkabut di pagi hari, apa lagi saat itu sudah lebih dari pukul 7.30. Sepertinya asap pembuangan segala hal telah betul-betul meresap di kota metropolitan ini. 
Eat and Eat
  Saya harus bilang di awal bahwa saya bukan penikmat wisata kuliner yang baik. Bukan karena saya tidak suka makan (jelas kalau itu), tapi karena buat saya makanan itu hanya ada enak dan enak sekali. Jadi entah mau wisata kuliner atau tidak, buat saya tidak ada bedanya.
  Tapi pulang ke Indonesia tanpa mengkhususkan diri mencicipi kuliner populer terakhir di sini memang kurang afdol. Maka saya langsung mengiyakan dengan antusias begitu teman saya mengajak saya makan malam di D'Cost Plaza Semanggi. Saya pertama kali mendengar nama D'Cost ketika teman-teman milis berencana mengadakan buka bersama di sana. Di Jakarta sendiri ada 34 gerai D'Cost yang tersebar di banyak mal-mal besar. Tempat makan yang mengusung line "Mutu bintang lima, harga kaki lima" ini betul-betul membuktikan janjinya. Yang paling mencolok mata adalah harga "Es Teh - Rp500,00", harga yang terakhir kali saya temui di warung makan 12 tahun lalu.
  Malam itu kami berdua memesan Kepiting Soka Saus Telur Asin, Ikan Patin Tim Kecap, Tumis Kangkung Belacan, masing-masing satu porsi. Dua porsi nasi putih. Dan 3 gelas es teh manis (tidak perlu bertanya siapa yang memesan 2 gelas). Kepiting Soka Saus Telur Asinnya, terasa menggoyang lidah. Paduan rasa manis kepiting dan masir kuning telur asin membuat saya betah berlama-lama mengulum potongan-potongan kepiting itu di mulut sebelum memerintahkan gigi saya untuk mencacahnya lebih kecil. Sedangkan tim Patin-nya yang sangat lembut, terasa lumer di mulut. Meskipun dibilang harga kaki lima, porsi yang dihidangkan cukup membuat saya dan teman saya puas kekenyangan.
  Selain makanan dan harganya, yang membuat saya cukup kagum dengan konsep restoran ini adalah pelayanannya yang sangat cepat. Dengan area seluas itu dan pengunjung yang memenuhi semua kursi (bahkan kami harus mengantri sebelum bisa mendapatkan tempat duduk), makanan bisa dihidangkan dalam waktu kurang dari 15 menit setelah kami memesan. Pramusaji di D'Cost rupanya sudah tidak lagi menggunakan pulpen dan kertas manual untuk mencatat pesanan tamu. Setiap dari mereka dibekali semacam data collector untuk mencatat dan walky-talky untuk berkomunikasi satu sama lain. Hal yang cukup efektif saya lihat untuk ruangan restoran sebesar itu. Overall, tempat ini rekomended sebagai tempat makan di Jakarta, tidak hanya dari mutu makanan dan harga, tapi juga atraksi pelayanan mereka yang juara.

Kebun Raya Bogor
KRB Corner

From Gate 3

  Sebetulnya, saya tidak punya agenda khusus ketika memutuskan untuk ke Jakarta. Tapi sesampainya di Jakarta, ketika teman saya bertanya, saya lantas teringat salah satu tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi, Kebun Raya Bogor (KRB).
Kuncup

   
  Beberapa teman saya mengklaim Kebun Raya ini sedikit banyak mirip dengan Singapore Botanical Garden (SBG). Tapi saya yakin KRB seluas 80 hektar ini jauh lebih luas dan punya jauh lebih banyak koleksi tumbuhan dibandingkan SBG. Kehadiran Rafflesia Padma, yang mengukuhkan kelengkapan KRB sebagai satu-satunya botanical garden di dunia yang berhasil membudidayakan tanaman ini di luar habitatnya, menambah semarak kebun raksasa ini. Belum lagi koleksi ratusan rusa yang sengaja dipelihara di taman istana kepresidenan Bogor, yang termasuk juga dalam kompleks KRB.
Landing

 
  Meskipun kalau buat saya pribadi, tidak adil membandingkan antara KRB dan SBG. Not apple to apple. Di satu sisi, tidak bisa dipungkiri, sebagai pengunjung saya merasa sedikit tidak cukup nyaman dengan minimnya fasilitas yang tersedia di KRB. Baik itu toilet, tempat sampah, bangku taman, peta, informasi dan beberapa hal lain yang harusnya bisa lebih menambah daya tarik tempat ini. Di sisi lain, keberadaan ruang hijau sebesar ini di tengah-tengah kota Bogor dan terawat baik, dalam ukuran Indonesia, cukup diacungi jempol. 

Indonesia dalam KRL ekonomi
KRL Ekonomi
  Untuk mencapai KRB dari Jakarta tidak diperlukan waktu lama. Saya yang kebetulan bermalam di Kalibata hanya memerlukan waktu kurang dari 1.5 jam dengan KRL ekonomi dari Stasiun Kalibata. Tinggal pilih, dengan Rp 5.500,00 menggunakan KRL ekonomi AC atau Rp 2.000,00 tanpa AC. Karena satu dan lain hal, saya sempat  mencicipi keduanya. Pergi dengan AC pulang tanpa AC. 
  Meskipun sama-sama berjudul KRL ekonomi, perbedaan Rp 3.500 berbicara cukup banyak di mata saya. Mulai dari pintu kereta, tempat duduk, lantai, dan penumpang yang mengisi gerbong per gerbongnya. Jangan pernah mengharapkan pintu kereta di ekomoni non AC. Tak ada kata safety first di sana. Saya sempat tertegun sebentar melihat tempat duduk yang tampak compang-camping itu. Juga lantai dengan sampah di mana-mana bercampur dengan air hujan yang sedikit menerpa, membentuk beberapa genangan air di hampir semua tempat. Meskipun hanya berbeda Rp 3.500,00 saya bisa melihat penumpang di ekonomi non AC selalu lebih membludak dibanding berAC. 
  Tiga lembar uang seribuan dan sekeping lima ratus rupiah yang memetakan keadaan sosial masyarakat kita. Kenyataan yang membuat saya dan teman saya menelan keluhan kami. Tak pantas rasanya kami mengeluh tentang keadaan kereta itu jika hanya sekali itu kami menaikinya. 
Tak pantas saya mengeluhkan hidup saya, jika saya selalu masih punya pilihan.
Morning Life

“Dear God …”


          "Hidup jauh dari keluarga, teman-teman, orang yang kita kenal sebelumnya. Ga ada temen ngobrol, curhat, ngomongin masalah-masalah kita. Pasti kerasa sepi."
          "Kamu kan punya Tuhan."
Sebuah percakapan dengan seorang teman 5 tahun yang lalu.
          "Tapi Tuhan kan tidak akan menjawab dan berkomunikasi dua arah dengan kita seperti kalo kita ngobrol dengan temen."
          "Dia jawab. Loe aja yang ga dengar."
Sebuah percakapan lanjutan dengan teman yang berbeda, 3 bulan yang lalu.

          
Sebuah sekuel percakapan itu berdengung di kepala saya akhir-akhir ini. Yah, saya memang sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya berdialog dengan Tuhan. Berdialog, bukan sekadar monolog doa yang lebih terkesan sebagai rutinitas yang sepertinya lebih sering saya lakukan. 
          Saya akui, saya lebih sering melarikan diri dari dunia nyata dengan menekuri laptop berselancar di dunia maya, atau menyambar passport saya dan membiarkan sebuah burung besi membawa saya terbang. Sebuah pelarian yang selalu membuat saya berakhir di pelarian yang lain namun tetap dalam kesoliteran saya.
          Mungkin ini saatnya, bukan untuk menghentikan semua kegilaan pelarian saya, tapi meminta Dia menemani saya dalam pelarian saya.
So, "Dear God, nice to meet you. Sorry to not listen you this few years."

“Could you please inform me in advance?”


            Pagi masih muda, belum lagi genap pukul 10, ketika saya, yang tengah berdiskusi dengan seorang rekan kerja, dikagetkan suara Daniel Powter yang menyanyikan Bad Day, ringtone yang saya set hanya untuk beberapa orang termasuk bos saya. Pameo yang bilang bahwa telepon pagi hari dari bos tidak pernah berisi berita baik, terbukti juga hari itu.
            "Itu kenapa POnya masih ada perubahan?" cecarnya seketika tanpa basa-basi begitu saya bilang hallo.
          "Hah? Ga ada yang berubah kok." Saya yang tidak merasa menginstruksikan perubahan apa pun ke programmer jelas mengelak.
            Ternyata si bos mempertanyakan project yang saya pegang, yang seharusnya ready untuk dites oleh user hari ini. Development process dari project itu sendiri sebetulnya sudah selesai 2 hari sebelumnya. Kemarin adalah waktunya untuk saya melakukan unit testing. Semua sesuai procedure dan sesuai jadwal. Yang terlewat dari prediksi (dan karena ketatnya schedule) adalah ada beberapa bug yang mau tidak mau harus saya kembalikan ke programmer untuk dibetulkan, kecuali kami mau mendeliver system berkutu ke user. Jadi jelas saya tidak terima kalau dibilang saya merubah spec di menit-menit terakhir.
            Mendengar penjelasan saya, masih dengan nada sedikit tinggi, si bos akhirnya bilang, "Lain kali kalau ada apapun yang bikin project not in schedule, bilang ke gue"
            "Iya, OK.", jawab saya. Untuk yang ini saya tidak punya pembelaan. Saya memang tidak memberikan laporan apapun mengenai kemungkinan keterlambatan project ini. "Lagian, heboh amat si. Telat cuman sehari ini, toh ini project kan emang udah telat dari berbulan-bulan lalu. Nambah sehari aja apa bedanya", tentu saja bagian ini saya ucapkan di dalam hati.
            Saya pada dasarnya memang bukan tukang update, kecuali ditanya. Bahkan untuk mengupdate status helpdesk saja saya kadang terlewat. Selama sudah saya kerjakan, saya anggap kewajiban untuk melakukan closing hanyalah masalah administrasi. Jadilah tak jarang saya menjadi pemegang top scorer open helpdesk. Padahal kalau dicek satu persatu, 90% di antaranya sudah lama selesai.
            Saya tidak ingat kapan persisnya kejadian itu, tapi saya ingat betul itu kali pertama bos memberi saya teguran keras (baca: memarahi). Walaupun bukan terakhir kalinya. Dan sejak itu saya cukup rajin memberi update status kerjaan saya terutama jika menyangkut schedule project dan perubahan spec, baik melalui email atau secara lisan. Itu saya lakukan lebih karena saya malas dimarahi seperti anak kecil dari pada menjalankan sebuah kewajiban yang logis, karena saya masih belum melihat pentingnya, toh dia bisa lihat apa yang saya kerjakan di cubicle saya dan dari email-email saya ke user.
            Waktu berjalan, hidup berubah. Tuhan tahu, tapi menunggu. Hingga beberapa minggu lalu saya cukup dibuat kelimpungan dengan masalah update progress ini.
            Seharian itu saya cukup santai. Semua feedback dari user sudah saya retest, compile dan saya kirim ke programmer kemarin. Semua instruksi untuk menyelesaikan bug hari ini sudah lengkap terkirim. Beberapa feedback dari user yang perlu penjelasan sudah saya reply balik ke mereka. Belum ada feedback baru dari user dan belum ada update ataupun pertanyaan dari China, tempat rekan programmer saya berada. So bisa dibilang kerjaan saya hari itu adalah menunggu.
            Ditunggu punya ditunggu, sampai pukul 5 sore belum juga ada kabar apapun dari rekan kerja saya nun jauh di sana. Ketika saya tanyakan progress bug fixing hari itu, saya mendapatkan jawaban yang cukup mengejutkan. "Sorry, one of my colleagues is on leave. And one of the source codes is on him. I can't find it. So I'll deliver to you tomorrow." What?!?!? Ealah Mas..ngapa ndak ngomong dari tadi pagi.
            Segera saya email kepada user menjelaskan keterlambatan itu tanpa memberi tahu mereka alasannya dan menjadwal ulang testing di keesokan harinya. Untungnya user saya mengerti dan tidak keberatan dengan delay tersebut.
            Sedangkan kepada teman-teman saya di tim development, alih-alih marah, saya justru merasa "ditampar". Saya jadi bisa mengerti alasan mengapa bos saya bisa semarah itu kala itu. Ini bukan masalah ketidakmampuan kita menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tapi ini lebih kepada ketidakmampuan kita menjaga commitment kita. Dan repotnya adalah jika miss commitment seperti ini tidak hanya melibatkan 2pihak tapi juga pihak-pihak ke 3, 4 dan seterusnya. Pemberitahuan di muka, bukan di menit-menit terakhir, akan membuat pihak-pihak yang bersangkutan bisa menjadwalulang juga aktifitas mereka dengan segera, dan bisa menghindari delay yang tidak perlu.
            Kesadaran itu seperti mengguyur kepala saya dengan air dingin, sehingga saya merasa cukup mengirim friendly email kepada mereka, "Guys, so appreciate if next time you can update me in advance if there's any possible delay."
            Maka ketika salah seorang teman mengirim pesan singkat tentang pekerjaannya yang belum bisa terselesaikan ke handphone saya, "Dia bisa lihat aku ngapain. Aku rasa ga perlu konfirmasi ke dia", saya langsung bisa jawab, "Could you please inform him in advance?"

Tioman, The Easiest Weekend Escape


               Pernah mendengar pulau bernama Tioman sebelumnya? Kalau belum, Anda tidak sendiri. Pulau yang berada di timur Malayan Peninsula alias semenanjung Malaysia ini memang tidak popular bagi seorang Indonesia. Wajar lah, kita punya pulau-pulau yang jauh lebih banyak dan jauh lebih cantik. Kalau saya akhirnya memilih pulau ini sebagai tempat melarikan diri di akhir pekan, itu tidak lain karena letaknya yang relatif cukup dekat dengan Singapore dan akses perjalanan darat yang relatif mudah dan murah, memungkinkan saya tidak perlu memesan tiket jauh-jauh hari.
              Tioman sendiri sebetulnya masuk dalam wilayah administrasi negara bagian Pahang, Malaysia. Tapi dari Singapore, gerbang masuk paling dekat adalah melalui Mersing, negara bagian Johor. Gerbang masuk yang lain berada di Tj. Gemok yang berada lebih ke utara. Berjarak kurang lebih 57 kilometer dari Mersing, perjalanan dengan ferry ke Tioman bisa ditempuh dalam 2 jam, tergantung kampong (desa) tujuan. Bluewater adalah salah satu ferry yang melayani rute Mersing – Tioman. Ada beberapa kali jadwal keberangkatan baik dari Mersing maupun Tioman dalam sehari. Jadwal ini sendiri tidak tetap karena bergantung pada pasang surut air laut. Jadi, ada baiknya sebelum berangkat pastikan dulu jadwal keberangkatan ferry pada hari itu. Tiket bisa didapatkan di jetty maupun di beberapa travel agent di sekitar jetty. Untuk wisatawan, diharuskan membeli tiket pulang pergi seharga RMY 70. Setelah itu perlu memberitahukan jadwal kepulangan. Meskipun jika mempertimbangkan untuk tinggal sampai waktu yang belum ditentukan, hal tersebut bisa dinegosiasikan.
               Jetty atau pelabuhan ferry berada cukup jauh dari terminal maupun jalur bis antar negara bagian. Jika naik bis tujuan Mersing, bisa minta ke sopir untuk mengantar kita ke jetty, dengan biaya tambahan. Tapi kalau bis antar negara bagian, biasanya akan diturunkan di pertigaan setelah gas station. Dari sana tinggal berjalan ke arah KFC, kemudian ambil jalan lurus. Jetty ada di akhir jalan sebelah kanan, tidak sampai 1 km. 
              Dari Larkin terminal di Johor Bahru, ada banyak bis yang mengarah ke Mersing. Tiket bis bisa dibeli di loket-loket yang banyak bertebaran di terminal dengan tarif RMY 11.50. Saya pribadi lebih menyarankan untuk mengambil bis langsung ke Mersing, bukan bis antar negara bagian. Karena bis antar negara bagian sering kali menyempatkan diri mampir ke rumah makan, yang bearti akan menambah waktu perjalanan. Catatan terakhir 156 km jarak Larkin – Mersing bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit dengan bis yang cukup nyaman. Bahkan dalam perjalanan terakhir, bis Causeway Link yang saya naiki hanya diisi oleh kurang dari 10 penumpang, termasuk saya dan 3 orang teman. Sedangkan dari Singapore ke Larkin banyak pilihan bisa diambil antara lain dengan bis SBS Transit 170 atau Causeway  Link baik dari Queen Street Terminal maupun Kranji MRT Station.

Kampong Pilihan
              Ketika membeli tiket, kita harus mencatatkan nama dan kampong tujuan, karena ferry akan menurunkan kita di desa tujuan. Ferry akan merapat di semua desa yang dituju oleh menumpang kecuali desa Juara yang terletak di sebelah timur pulau. Beberapa desa yang cukup populer sebagai tujuan wisatawan adalah, berurutan dari selatan, Mukut, Genting, Tekek, Air Batang (ABC), Panuba, dan Salang. Yang saya sebutkan terakhir merupakan desa tujuan terfavorit dari beberapa sumber yang saya baca. Sedangkan Tekek merupakan daerah administratif Tioman. Desa ini cukup ramai dan terfasilitasi dengan baik, mengingat bandara udara Tioman juga terletak di desa ini. Sedangkan Juara adalah desa yang paling sepi mengingat letaknya yang tidak dilewati ferry dari Mersing. Untuk mencapai tempat ini, selain dengan trekking menembus hutan, juga tersedia mobil penggerak 4 roda (4WD) yang biasa menawarkan  jasanya dengan RMY 30 sekali jalan per orang.  

Things to do
               Seperti island trip lain-lainnya, aktifitas yang bisa kita lakukan di Tioman tidak jauh dari air. Mulai dari sun bathing, berenang, snorkeling, sampai menyelam. Khusus untuk aktifitas terakhir saya belum punya pengalaman di sana. Jika tertarik untuk snorkeling, tidak perlu khawatir tidak punya alatnya. Karena di Tioman banyak terdapat penyewaan snorkel, mask sampai fin. Harga rata-rata RMY 15 per paket per hari. Atau jika tertarik canoeing di seputaran pantai, ada juga canoe yang bisa dipinjam dengan RMY 15 per jam. 


              Terumbu karang di daerah ini, bahkan di Salang yang merupakan tempat paling populer untuk snorkeling, tidak bisa dibilang bagus. Tidak banyak karang yang masih hidup. Kalaupun ada sepertinya karang di sini banyak mengalami coral bleaching, terlihat dari warna-warnanya yang kebanyakan kelabu kusam dan pudar. 
              Selain berbasah-basah, aktifitas lain yang bisa dilakukan adalah trekking melintasi hutan. Ada beberapa jalur trekking populer di Tioman. Salah satunya yang pernah saya lintasi adalah jalur dari desa Juara ke Tekek. Rute sejauh 7 km ini bisa ditempuh dalam 2.5 jam tergantung kemampuan mengingat rute ini didominasi tanjakan. Bahkan ada satu poin di mana kita harus melompati, atau memanjat lebih tepatnya, pohon tumbang yang cukup besar. Jalurnya sendiri tidak terlalu sulit untuk dilewati. Sebagai gambaran ketika saya melintasi rute ini, yang mana sehari sebelumnya Tioman diguyur hujan sangat deras semalam suntuk. Tapi jalur di dalam hutan sendiri masih nyaman untuk ditapak. Ditambah lagi kebanyakan tanjakan sudah berupa tangga beton. Sepanjang jalur trekking sendiri, karena benar-benar di dalam hutan, tidak ada petunjuk jalan. Satu-satunya yang bisa dijadikan pedoman hanyalah power line atau kabel listrik yang membentang dari Juara ke Tekek. Jadi saran saya sering-seringlah mendongak ke atas. 

Sleep and Eat
               Hal lain yang  bisa dilakukan di pulau kecil ini adalah tidur, bersantai dan bermalas-malasan. Baik itu di kamar maupun di pinggir-pinggir pantai. Hammock yang tergantung di depan hampir setiap penginapan menambah kenyamanan. Penginapan di pulau ini terbilang cukup sangat banyak. Jadi, kalau tidak termasuk pick season, tidak perlu pemesanan di muka. Harga kamar bervariasi, tergantung dari fasilitas dan kondisi penginapan tentunya. Mulai dari RMY 40 per kamar per malam untuk berdua sampai RMY 700 per malam untuk kelas Berjaya Tioman Resort. Kebanyakan penginapan di sana berbentuk chalet atau bungalow per kamar. Untuk mendapatkan kamar yang cukup relatif layak bagiu kebanyakan orang, berAC, kamar mandi dalam dan bonus halaman kamar langsung ke pantai, seperti yang terakhir kali saya tempati, cukup dengan merogoh kocek sebesar RMY 55 per orang permalam.
              Untuk kebutuhan makan, di Tioman memang relatif mahal dibanding dengan wilayah Malaysia yang lain. Hal yang wajar seperti halnya semua pulau di mana semua keperluan bahan makanan pokok disuplai dari pulau utama. Saya kurang memperhatikan berapa persisnya pengeluaran untuk sekali makan, tapi rata-rata sekitar RMY 10 - 15 lengkap dengan minum. Hampir setiap penginapan di Tioman mempunyai rumah makan. Jadi tinggal pilih, mau murah di warung-warung biasa, atau mempersiapkan dompet lebih tebal dengan makan di restoran. 

              Secara keseluruhan, tempat ini cukup saya rekomendasikan sebagai agenda menghabiskan akhir pekan jika dalam keseharian, Anda terjebak di Singapore. Satu hal lagi yang terlupa, sebelum menyeberang siapkan uang tunai yang cukup, karena tidak ada satu pun mesin ATM di pulau ini. 
              Bon voyage ....

Tattoo: Should I Get One?

            Siang belum lama tergelincir ke barat, ketika saya kedinginan sendirian di ruangan besar ini. Ruangan yang seharusnya dihuni seratusan orang ini tiba-tiba kosong karena hampir semua penghuni "memaksakan diri" ke lantai 7 untuk meeting. Sedang saya? Tentu saja sebagai kompensasi sebagai seorang consultant (love that word), saya cukup beruntung untuk menghadiri acara makan-makannya saja. Setelah itu, bersantai-santai sambil browsing dan chatting seperti sekarang ini.
            Chatting dengan seorang teman di belahan bumi bagian sana, membahas hidup dan masa depan, sampai akhirnya dia bertanya,
"Kalo bertato kira-kira nilainya minus ga ya? :-S"
Seketika tawa kecil saya menyembur, dan sambil masih menahan tawa saya ketik jawaban saya.
"For me? Come on .. you know me better than that."
            Ya, teman saya itu pasti tahu persis, bahwa saya jauh dari kata alergi untuk urusan tato. Buat saya tato lebih condong merupakan kebebasan kehendak dan seni daripada pandangan negative. Sebuah freedom ideology yang dituangkan dalam seni rajah tubuh. Meskipun tidak hanya terbatas di sana, tato juga merupakan media religi dan spiritualitas untuk beberapa kalangan. Seorang teman bahkan menggabungkan seni dan spiritualitas dalam beberapa tatoo di tubuhnya. Instead of menato diri dengan tribal, naga atau pattern populer lainnya, dia menorehkan wajah Yesus dan bunda Maria di masing-masing lengan, sebuah formasi 3 salib di punggung dan sebuah kalung berliontin salib "tergantung" dari leher hingga perut. Harus saya akui ini kombinasi tato terunik yang pernah saya lihat (Kombinasi tato loe Man, bukan loe-nya!). 
            Iseng-iseng membuka Wikipedia, tato, atau tattoo dalam bahasa Inggris, pertama kali dikemukakan oleh Joseph Bank, seorang peneliti, dalam jurnalnya "Endeavour" di tahun 1769. Mengutip apa yang ditulisnya di sini, "I shall now mention the way they mark themselves indelibly, each of them is so marked by their humor or disposition". 
            Seni tato telah lama dipraktekan di seluruh belahan bumi . Mulai dari Ainu, sebuah suku tradisional di Jepang, Berbers di Tamazgha (Afrika Utara), Maori di Selandia Baru, sampai suku Avatal di Taiwan, mereka mentato wajah sebagai tradisi. tato juga dikenal di segala penjuru Polinesia, Philippines, Borneo, Mentawai Islands, Africa, North America, South America, Mesoamerica, Europe, Cambodia, dan Micronesia. Terlepas dari hal tabu yang tentang tato, seni ini tak urung menjadi seni yang popular di seluruh pelosok dunia.
            Hubungan saya dan tato memang tidak begitu dekat, dalam artian tidak ada satu sentimeter persegi pun kulit saya yang pernah dirajah jarum tato. Tapi bukan bearti saya bukan penggemar seni ini. Saya ingat akhir tahun 2003 ketika pertama kalinya saya tertarik dengan seni melukis tubuh ini. Kala itu kebetulan ada trip keluarga ke Bali. Bukan dengan tato sebenar-benarnya tato memang. Hanya temporary tato atau lukisan tinta di kulit yang bisa bertahan 2 minggu, dengan catatan tidak kena air, atau seminggu kurang sedikit lah dengan mandi teratur. Tapi sayangnya, meskipun hanya lukisan kecil, dan tidak permanen, kala itu orang tua saya keberatan. Jadi akhirnya hanya bisa melihat-lihat cantiknya hasil lukis itu di tangan dan kaki orang lain. 
            Tahun 2004 Februari saya memberanikan diri untuk membuat tato temporer ketika berjalan-jalan di Malioboro Yogyakarta. Tepat di emperan jalan, di trotoar Malioboro, saya mendapat tato temporer pertama saya. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan orang tua. Jangan tanya di mana saya minta untuk dilukis ya..karena Mas-nya sendiri pun sedikit takjub dengan kenekatan saya. "Mbaknya berani ya? Biasanya klo minta ditato di sebelah sini tu minta natonya di sebelah sana, agak masuk gang, yang ga rame orang. Bukan di pinggir jalan gini." Whattt!?!?! Kenapa ga bilang dari tadi?
            Terhitung 2 kali saya punya temporary tato. Yang berikutnya saya dapatkan sambil menikmati dinginnya udara Kintamani dan memandang gagahnya siluet gunung Batur di Bali. Dan kali ini tidak senekat yang pertama, hanya di punggung tangan. Cukuplah.
            Sebenarnya, saya juga berkeinginan untuk mempunyai tato permanen. Belum tahu memang gambar apa, tapi harus yang cukup unik untuk dikenang sebagai kenang-kenangan umur 20an. Sayangnya, keinginan itu terbentur di beberapa hal. Pertama, setau saya, dalam agama saya tidak memperbolehkan tato, tapi lebih dari itu, saya lebih memikirkan komentar orangtua saya kalau tahu anak perempuan mereka satu-satunya bertato. Yang untuk mereka jauh lebih parah dibanding piercing. Dengan alasan karena piercing bisa dengan mudah menutup, sedangkan tato, sampai sekarang procedure penghilangan tato masih terbilang cukup rumit.
            Tapi terlepas dari agama dan ijin orangtua, alasan kenapa saya masih berfikir-fikir untuk menato tubuh saya adalah bahwa tato itu seperti komitmen seumur hidup. Ketika umur 20an mungkin sangat gaya untuk punya tato. Umur 30an dan 40an, tato adalah lambang kematangan. Tapi misal saya diberi umur panjang sampai 70 atau bahkan 80 tahun, masih cukup pantaskah tato yang saya torehkan 50 tahun sebelumnya? Jadi buat saya, memutuskan untuk mempunyai tato itu sama saja memutuskan akan menjadi seperti apa hidup saya 40 atau 50 tahun lagi.
            Jadi, mungkin masih butuh waktu dan usaha yang panjang guna meyakinkan saya untuk mendapatkan permanen tato pertama saya. Challenged to convince me?