|
Kutemukan foto ini di sebuah kotak berdebu di sudut hatiku. Masih ingatkah kamu ujung jalan itu? Pasti tidak. Tak apa. Aku saja yang bercerita.
Di sebuah warung kecil di sudut jalan itu, bertahun lalu, kau tepati janji pertamamu padaku. Janji sambil lalu, bahwa suatu hari akan kita sempatkan mengunjunginya. Bukan kencan. Hanya janji antara dua mangkuk bakso dan sepasang es teh manis.
Ijinkan aku mengaku. Aku bahkan tidak ingat bagaimana rasa baksonya kala itu. Enak? Entahlah. Tapi aku masih ingat persis, kejutan kecilmu tatkala menjemputku dari tugas mengajarku siang itu. Bukannya mengantarku kembali pulang, kau arahkan motor ke arah berlawanan. "Makan dulu ya. Bakso di ujung jalan itu. Kan kapan hari aku janji.", penjelasan singkatmu menjawab keherananku. Ah, kalau saja kau tahu, meronanya aku di belakang waktu itu. Atau mungkin juga sebaiknya kamu tidak pernah tahu.
Tahun berlalu. Hidup berjalan. Kau. Aku. Dan mungkin juga ujung jalan itu.
Tapi kali ini biarkan aku yang berjanji. Kalau suatu hari nanti kamu tiba-tiba kangen bakso bening di ujung jalan itu, kamu tahu harus menghubungiku ke mana. Oh, maaf, aku tidak berjanji akan menemanimu, tapi aku pasti akan memberimu arahan bagaimana menemukannya.
Sampaikan saja salamku. Untuk penjual bakso di situ. Dan sepenggal masa lalu.
Dariku,
yang jauh dari ujung jalan itu.
* Ditulis untuk mengikuti
**Besok ganti objek, mulai ga sehat otaknya.
seburuk itu kah navigasinya "kau"?
You have no idea Dear...
Somehow, saya percaya, di kehidupan lain, mungkin "aku" dan "kau" dipasangkan sebagai navigator and driver... Mungkin...