|
Beberapa waktu lalu seorang teman mengirim message ke saya, singkat ... "D resign?".
Sesingkat message itu juga saya "terbang" ke cubicle teman saya itu untuk bertukar informasi (halla..bilang aja nggosip..). Dan 15 menit kemudian (setelah gosip simpang siur) saya dapat konfirmasi dari pihak pertama, si D, "Yup, gw cabut..efective akhir bulan". Ah..akhirnya, seorang lagi meninggalkan ruangan 7x10 meter2 ini.
Selama kurang dari setahun, saya merasakan 6 kali farewell temen-temen kongkow dan tukar pikiran, dengan berbagai alasan. Mulai dari yang punya keberanian (ato nekad?) resign tanpa kepastian next job sampe yang sudah punya next job kerlap gemerlap. Apa saya iri? Tepatnya bukan itu yang jadi object obrolan saya dengan diri saya sendiri. Saya jadi terfikir, betapa singkat, kadang, orang-orang di sekeliling saya hadir dalam hidup saya. Datang dan pergi silih berganti. Kok jadi kaya orang naik bis ya? Klo misalnya salah satu fragment perjalanan hidup kita, kita coba ilustrasikan seperti sebuah perjalanan naik bis. Ada orang-orang yang hanya sekilas lintas tanpa terasa jejaknya. Misal klo kita duduk di depan trus ada orang naik dari pintu belakang. Paling nyadar klo bis sempet berhenti, tapi kita ga pernah tau sapa dan gimana orang yang naik. Tapi sepanjang perjalanan kita lebih banyak orang2 yang seperti ini.
Ni seperti orang2 yang kita temui dijalan, di mall, ato numpang lewat di depan rumah kita, yang kita lihat tapi kita ga pernah kenal siapa. Kemudian orang2 yang duduk di sekitar kita, cukup lah buat kita sekadar notice sama warna bajunya, tipe mukanya, barang bawaannya ato mungkin sedikit basa-basi melempar senyuman klo2 sempat bertatap pandang. Ini adalah orang-orang, yang dalam kehidupan nyata, kita kenal sekedarnya, sekadar tahu nama dan cukup untuk dapet undangan hajatan :D Dan semakin lama perjalanan kita semakin banyak juga orang-orang ini mengisi di dalamnya.
Beberapa teman seperjalanan terutama yang duduk di sebelah kita dan menikmati pemandangan yang kurang lebih sama dengan kita, menjadi teman yang menyenangkan untuk bertukar pikiran. Dan bukan tidak mungkin kita sepakat untuk janjian mengadakan perjalanan bersama lagi lain waktu. Ini adalah temen-temen deket yang akan selalu ada untuk kita. Berikutnya adalah orang yang menggayutkan kenangan yang dalam, dalam perjalanan, orang ini bisa ada dimana saja, bisa saja hanya orang lewat tapi kita sangat notice padanya, tapi lebih banyak orang-orang ini adalah orang yang memang ada di perjalanan kita, dari satu bis ke bis lain dari satu sesi kehidupan ke kehidupan yang lain. Merekalah orang tua, keluarga, ato pasangan hidup kita ato bahkan mungkin Cuma artis di layar kaca :p
Tapi kadang ada beberapa dari kita yang tidak menghiraukan orang-orang tersebut karena saking terbiasanya kita dengan kehadirannya. Baru kita sadar betapa kita butuh mereka ketika mereka ga ada. Hmm...ga kebayang ya..klo tiba-tiba sopir bisnya ilang di tengah jalan? Padahal seberapa perduli kita dengan Pak Sopir ketika naik bis? Paling cuman klo Pak Sopir sedikit ngantuk dan bis brasa goyang kanan goyang kiri. Selebihnya?? Kita lebih notice dengan urusan kita sendiri. Tapi bagaimana pun, inilah hidup. Seperti mata uang, selalu memiliki 2 sisi yang berseberangan. Siang malam, hitam putih, gelap terang, pertemuan dan perpisahan. Atau klo Sydney Sheldon bilang, Nothing Last Forever…begitu juga dengan semua perjodohan kita dengan orang-orang di sekitar kita.
Ok, guys.. setelah melepas teman-teman saya untuk meneruskan perjalanan mereka masing-masing menggunakan bis yang lain, kini saatnya saya meneruskan pejalanan saya dengan teman-teman seperjalanan yang berbeda lagi. Pak Sopir...tarik Pak...
Dedicated for all ghost in my life. You are the best guys...always. And wait for me on the next trip.
Selama kurang dari setahun, saya merasakan 6 kali farewell temen-temen kongkow dan tukar pikiran, dengan berbagai alasan. Mulai dari yang punya keberanian (ato nekad?) resign tanpa kepastian next job sampe yang sudah punya next job kerlap gemerlap. Apa saya iri? Tepatnya bukan itu yang jadi object obrolan saya dengan diri saya sendiri. Saya jadi terfikir, betapa singkat, kadang, orang-orang di sekeliling saya hadir dalam hidup saya. Datang dan pergi silih berganti. Kok jadi kaya orang naik bis ya? Klo misalnya salah satu fragment perjalanan hidup kita, kita coba ilustrasikan seperti sebuah perjalanan naik bis. Ada orang-orang yang hanya sekilas lintas tanpa terasa jejaknya. Misal klo kita duduk di depan trus ada orang naik dari pintu belakang. Paling nyadar klo bis sempet berhenti, tapi kita ga pernah tau sapa dan gimana orang yang naik. Tapi sepanjang perjalanan kita lebih banyak orang2 yang seperti ini.
Ni seperti orang2 yang kita temui dijalan, di mall, ato numpang lewat di depan rumah kita, yang kita lihat tapi kita ga pernah kenal siapa. Kemudian orang2 yang duduk di sekitar kita, cukup lah buat kita sekadar notice sama warna bajunya, tipe mukanya, barang bawaannya ato mungkin sedikit basa-basi melempar senyuman klo2 sempat bertatap pandang. Ini adalah orang-orang, yang dalam kehidupan nyata, kita kenal sekedarnya, sekadar tahu nama dan cukup untuk dapet undangan hajatan :D Dan semakin lama perjalanan kita semakin banyak juga orang-orang ini mengisi di dalamnya.
Beberapa teman seperjalanan terutama yang duduk di sebelah kita dan menikmati pemandangan yang kurang lebih sama dengan kita, menjadi teman yang menyenangkan untuk bertukar pikiran. Dan bukan tidak mungkin kita sepakat untuk janjian mengadakan perjalanan bersama lagi lain waktu. Ini adalah temen-temen deket yang akan selalu ada untuk kita. Berikutnya adalah orang yang menggayutkan kenangan yang dalam, dalam perjalanan, orang ini bisa ada dimana saja, bisa saja hanya orang lewat tapi kita sangat notice padanya, tapi lebih banyak orang-orang ini adalah orang yang memang ada di perjalanan kita, dari satu bis ke bis lain dari satu sesi kehidupan ke kehidupan yang lain. Merekalah orang tua, keluarga, ato pasangan hidup kita ato bahkan mungkin Cuma artis di layar kaca :p
Tapi kadang ada beberapa dari kita yang tidak menghiraukan orang-orang tersebut karena saking terbiasanya kita dengan kehadirannya. Baru kita sadar betapa kita butuh mereka ketika mereka ga ada. Hmm...ga kebayang ya..klo tiba-tiba sopir bisnya ilang di tengah jalan? Padahal seberapa perduli kita dengan Pak Sopir ketika naik bis? Paling cuman klo Pak Sopir sedikit ngantuk dan bis brasa goyang kanan goyang kiri. Selebihnya?? Kita lebih notice dengan urusan kita sendiri. Tapi bagaimana pun, inilah hidup. Seperti mata uang, selalu memiliki 2 sisi yang berseberangan. Siang malam, hitam putih, gelap terang, pertemuan dan perpisahan. Atau klo Sydney Sheldon bilang, Nothing Last Forever…begitu juga dengan semua perjodohan kita dengan orang-orang di sekitar kita.
Ok, guys.. setelah melepas teman-teman saya untuk meneruskan perjalanan mereka masing-masing menggunakan bis yang lain, kini saatnya saya meneruskan pejalanan saya dengan teman-teman seperjalanan yang berbeda lagi. Pak Sopir...tarik Pak...
Dedicated for all ghost in my life. You are the best guys...always. And wait for me on the next trip.
Thanks for leaving comment..