Your Mate, Your Soul

Teng..teng..teng..
Suara dentang tiang listrik itu menyadarkan Resti dari lamunan. "Arrggh..dah jam 3 pagii!! Tidur dong please..." erangnya perlahan, lebih ke dirinya sendiri. Mana mau tahu si Bos soal insomnia sialan ini kalau nanti dia sampai telat ke kantor.
Dengan kesal, dia kembali menyusupkan kepalanya ke tumpukan bantal. Mengusahakan tidur yang entah keberapa kalinya malam ini. Tapi meskipun dengan mata terpejam, dia masih bisa mengeja dengan jelas SMS terakhir Dio semalam.
"Resti, biarlah cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta telah memilihmu untukku, dan itu cukup bagiku. Jangan tanyakan mengapa, jujurlah pada dirimu sendiri dan kau tahu jawabannya."
Itu bukan satu-satunya hal yang membuatnya tak juga bisa memicingkan mata malam ini. Rentetan percakapan antara Dio dan dia tiga hari ini, baik lewat telepon, SMS maupun YM, terasa seperti triatlon yang begitu menguras tenaganya. Dan dia yakin, tenaga Dio juga.

Sabtu malam itu seperti akhir pekan yang lain, mereka melewatkannya dengan berburu film di bioskop. "Apa saja, asal bukan horor Indonesia" itu motto mereka. Bingung memutuskan hendak ke mana untuk menghabiskan malam setelahnya, mereka sepakat memborong gorengan dan melanjutkan malam itu di depan rumah Resti.
"Bisa cepet kaya pacarku ntar kalo tiap malem minggu aku mau-maunya nongkrong di teras aja kaya gini" gelak Resti sambil menghempaskan badannya ke sofa yang segera diamini oleh Dio.
Cukup lama mereka asyik dengan gorengan masing-masing, sambil mengamati lalu lintas senyap di jalanan depan.
"Res, lo mau kita gini terus?"suara Dio tiba-tiba memecah hening.
"Terserah si..huff..huff..hahhh..nanas.. hehang hahuh ho hemahna?"
Mau tidak mau Dio tertawa geli melihat tingkah gadis di depannya. "Lo tu ya..jadi cewek berantakan amat.."
"Huah..panas tau..eh tissue dong tolong di depanmu. Mang kamu mo kemana lagi? Dah malem gini lho.."
"Hubungan kita Res..bukan gw.."
Lama Resti terdiam.
"Kamu..Hmm sebentar..hubungan apa ni?" tuntut Resti, meski lebih terkesan seperti bisikan. Gorengan yang akan ditelannya serasa menyangkut di kerongkongan.
"Kita. Ke depannya. Aku dan kamu. Aku mencintaimu Resti"
Dalam kondisi normal, Resti pasti tesedak karena tawa mendengar Dio beraku-kamu dengannya. Tapi kali ini, Resti merasakan dorongan untuk minum bukan karena tersedak, tapi lebih untuk mengulur waktu.
"Ini bukan April mop kan? Kamu ga bercanda? Kalau kamu bercanda, it will gonna to much Yo" ditatapnya Dio yang menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku serius Res."
"Tapi kenapa? Kenapa aku? Arrgh..Ya Allah Yo!! Kamu tau persis itu hampir ga mungkin kan Yo..."
"Kenapa ga mungkin? Dan sejak kapan cinta butuh alasan Res?"
"Pertama kalo kamu lupa, kita beda keyakinan. Dan for God sake, kamu jauh lebih muda dari aku Yo.."
"Hei rileks..cuma beda setahun ini. It's not big deal girl.."
"Gimana dengan poin pertama? Doh, aku bahkan ga percaya kita ngomongin ini."
Cukup lama mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Yang jelas aku ga bisa membohongi diri sendiri Res. Dan aku juga ga mau selamanya membohongi kamu, berlaku seolah-olah semua baik-baik saja."
Resti terpekur bergeming.
"Sekarang bola ada di tangan kamu, terserah kamu sepenuhnya. Kalau kamu memang tidak punya perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan, tatap mataku dan bilang bahwa kamu tidak mencintaiku."
Perlahan Resti mengangkat kepalanya, dicarinya manik mata Dio. Lama ia menatap mata elang itu, sebelum akhirnya membuang muka "Andai semudah itu Yo.."

***
Ya, andaikan semudah itu.
Belum lagi genap setahun usia pertemanan mereka. Resti ingat saat pertama mereka bertemu di salah satu toko buku. Kala itu Dio jalan dengan Rama, teman kerjanya. Dari Rama jugalah Resti tahu kalau Dio juga tergila-gila dengan fiksi fantasi, sama seperti dirinya. "Haha..bisa tukeran buku ni!!", sambut Dio yang langsung diiyakan penuh semangat olehnya. Dan dari buku-buku itulah pertemanan mereka berlanjut.
Buat Resti, Dio itu teman jalan yang seirama dengannya sekaligus lawan diskusi yang tangguh. Tak jarang diskusi mereka menjadi ajang cela satu sama lain, meskipun tak akan bertahan lama.
Kebiasaan Dio bertutur puitis tak jarang membuat Resti menemukan amunisi untuk mencela sahabatnya itu. Seperti ketika sehabis mereka melihat film "Soulmate", yang sudah diputar entah yang keberapa kalinya, di teras rumah Resti.
"Menurutmu, apa si soulmate?"
"Belahan jiwa? Hmm...rumah." jawab Dio seketika sambil sedikit menerawang.
"Maksudnya?"
"Iya..rumah..tempat untuk pulang. Tempat kepada siapa kita kembali pulang setelah penat akan dunia. Ke pada siapa kita tidak lagi perlu mengenakan topeng kepalsuan. Seorang yang bakal menemani gue menertawakan dunia dan menangisi bahagia. Buat gue itu soulmate, seorang belahan jiwa"
"Yah Mas.. Orang aneh. Soulmate malah diajak menangisi bahagia. Ketawa dong...kasian amat"
"Menertawakan bahagia itu seperti menabur garam ke lautan Res..sia-sia"
"Hahahaha..pujangga kelas teras lu.." tak lagi bisa ditahan gelak Resti menyembur.

Kebersamaan dan kecocokan mereka, sedikit demi sedikit memupuk perasaan berbeda jauh di dasar hatinya. Perasaan yang tidak seharusnya ada dari seorang sahabat ke sahabatnya.
Terlalu menyederhanakan masalah sebenarnya jikalau dia hanya mengambinghitamkan persahabatan atas bungkam diam perasaan di hatinya. Ada lebih dari itu. Semua kesamaan dan kecocokan antara dia dan Dio hanyalah sebuah titian rapuh atas kelam dan dalamnya jurang perbedaan antara mereka. Jurang yang tak akan mungkin terjembatani hanya dengan kesamaan hobi. Lubang menganga itu bernama agama. Atas dasar itu, ia simpan rasa hatinya mungkin sampai selamanya andai saja Dio tidak pernah mengungkapkannya terlebih dulu malam itu.
 *** 
Azan subuh sayup terdengar dari mushalla kecil di ujung gang. Resti baru saja menyelesaikan rekaat terakhir sholat malamnya. Perlahan dia bangkit, mengambil HPnya yang tergeletak serampangan di kasur. Tak butuh waktu lama, sampai dia tekan tombol send message di gadget mungilnya itu. Terdengar hembusan nafas panjang dari bibirnya, "Que sera-sera, Dio."

Sementara itu di sisi lain kota, Dio terjaga dari tidur gelisahnya yang hanya 2 jam. Diraihnya HP, sebuah pesan singkat menyambutnya di halaman muka.
"Temani aku menertawakan dunia dan menangisi bahagia, Dio. I do"

Dio memejamkan mata dan menghela nafas panjang, "I will, Resti..I will"



*****
5 Responses
  1. Anonymous Says:

    merinding bacanya...kok kaya baca cerita horor ya :))
    romantic n hmmm... ;;)


  2. QueeNerva Says:

    Pasti bacanya sambil ditiup-tiup tengkuknya ya? Kok merinding..
    Btw, I think I know who you ;;)
    Kalo bener ini kamu, thanks buat conversation kita yang aku paste ke sini. Mizz u Beib, always.. :*


  3. noerazhka Says:

    "menertawakan bahagia itu seperti menabur garam ke lautan"

    like this .. ^^


  4. QueeNerva Says:

    @Zou: Suwun Bu.. mari kita tertawakan dunia :D


  5. ria Says:

    bagus mbak #terharu


Thanks for leaving comment..