|
Musim kembali menorehkan catatannya pada rona daun-daun
Mengetuk rikuh, mengintip malu-malu, tatkala ia tau alam tak memberinya waktu
Namun tetap kurasa, pelukan dinginnya pada malam-malam yang berlalu
Menyelimutiku dengan ribuan dejavu
Merajut sintesa retorika yang masih tak tergapai logika kecilku
Meski tlah kali kedua dia menyentuhkan jemari di depan pintu
Tak jarang kuberhenti mengayun hari tuk sekedar menyelip tanya
Apakah sedemikian pekat kebodohan yang kucipta?
Hingga tak mampu ku berdamai, bahkan dengan diriku sendiri
Apakah salah kalau aku tak merasa salah menggantung asa pada apa yang mereka anggap
hanya titik kesalahan silam?
Kesalahan yang masih mampu menyentak adrenalin dan meruntuhkan tirai melodia hatiku
Kesalahan yang hanya tertegun dalam tawa pedihnya tanpa mampu menjawab atas semua asaku
Tak perlu menghakimiku,
Karena kini bersama waktu dia menghukumku hingga saat yang belum kutau
Entah hingga kucukup mampu mencipta retorika baru
Atau haruskah kutunggu, hingga waktu dendangkan retorika itu untukku?
Yang entah kapan – tak pernah kutau
Namun satu yang kutau, musim kan selalu menggoreskan catatannya
Dengan atau tanpa aku.
Satu malam di Juni 06
Thanks for leaving comment..