Memiliki Kehilangan

Agustus, 2007
Malam kian beranjak ke barat. Lelah mataku memicing mencari-cari ke langit hitam di atas kepalaku. Pukul 2 pagi. Waktu yang harusnya kulewatkan bergelung di atas kasur menghitung mimpi. Dan karena selembar SMS dari Alf, disini lah aku sekarang. Di balkon dingin, yang bahkan tanpa bulan menemani.
“Eh, ada hujan meteor ya ntar malem? Asyik ni kayanya klo bisa liat... :D ” Pesan singkatnya terkirim sore tadi.
Kubalas dengan antusias yang sama “Yup, barusan liat di koran ni. Kayanya agak pagian si. Nonton ah..”
Tapi bahkan jarum jam belum menunjukkan pukul 10 malam ketika dia bilang sudah ngantuk, dan kayanya bakal tidur. “Ntar klo dah nongol bangunin yak..!!” Hmm..dasar pangeran tidur..harusnya emang aku ga berharap banyak dari manusia satu itu..
Seberkas sinar samar itu menyentakku dari lamunan. Bintang jatuh. Hure...cepat-cepat kupejamkan mata, make a wish. Dari sekian banyak permohonan, entah mengapa yang terlintas di pikiranku hanyalah aku ingin melihat bintang jatuh malam ini dengan Alf. Permohonan bodoh...
Tapi ga ada salahnya dicoba. Aku sambar HP, send message, “Banguuuuunnn.. bintangnya dah jatuh..!!!” 1 menit, 2 menit. Belum ada balasan. Coba telpon. Tiga deringan, cukup. Aku ga siap mendengar suaranya.
Mungkin memang permohonan bodoh. Kembali aku menekuri langit kelam, sambil menikmati beberapa lirik keemasan yang tercipta ketika meteor2 itu menghantam atmosfer. Cantik..
Klingtuling...Reflek aku sambar HP di sebelahku dengan senyum terkembang lebar. Bintang mengabulkan permohonanku.
“Dapet satu....make a wish.. Tapi agak jarang ya??”
“Hooh, sepertinya puncaknya kemarin si..” balasku. “Make a wish apaan?” kali ini hanya dalam hatiku saja.
Cukup lama kami menikmati atraksi alam itu. Sentuhan teknologi komunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan ratusan kilometer yang terbentang di antara kami. Buatku cukuplah untuk menggantikan tangan yang tertaut. Aku tertidur dengan senyum simpul pagi itu. Terima kasih bintang jatuh..
*****************

Taufan Alfian Dinata. Tidak ada yang istimewa dari sosok cowok berkacamata yang aku kenal dari salah satu kegiatan kampus di pertengahan 2004 itu. Sederhana, tak banyak bicara. Sosok yang akan membaur dalam keramaian, menghilang tanpa terjejak dalam memori ingatan. Biasa, sangat biasa. Sampai ketika aku sadar, aku jatuh cinta padanya. Atau setidaknya aku pikir ketika itu aku jatuh cinta.
Ada benarnya kalo orang tua berkata, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta ada karena kebersamaan. Kegiatan kampus yang membutuhkan mobilitas tinggi membuat kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Entah untuk urusanku, urusannya, atau memang untuk keperluan unit. Dua bulan kebersamaan yang membuat aku merasa nyaman. Menemukan orang yang tidak hanya bisa mendengarkanku, tapi juga bisa aku dengarkan. Cinta yang aku redam dalam kesunyian atas nama persahabatan.
Selepas kegiatan kampus, kami tetap berkomunikasi sebagai teman. Berbagi tentang banyak hal. Kuliah, pekerjaan, pertemanan. Tak lebih tak kurang. Karena memang tak ada yang bisa aku harapkan lebih. Dia bergeming dengan semua perhatian dan pesan tersirat yang kukirimkan.
*****************

Penghujung 2005 roda takdir membawaku jauh meninggalkan Yogyakarta. Seminggu sebelum burung besi membawaku terbang bersama mimpi-mimpi, kami bertemu. Sedikit perpisahan, kalo-kalo ini merupakan kesempatan terakhir untuk bertemu.
“Eh, nanya sesuatu tapi jawab yang jujur ya?” tanyaku sambil meletakkan HP yang sedari tadi aku mainkan.
“Apaan? Yup, jujur deh..”
“Kamu tau klo selama ini aku suka kamu?”. Itu pertanyaan tercepat yang pernah keluar dari mulutku. Tak akan pernah aku ulangi. Pertanyaan yang akan menghantui hidupku selanjutnya klo tidak mendapatkan jawaban.
Perlu 2 detik untuk Alf mengatasi keterkejutannya, sebelum akhirnya tersenyum dan berkata “Ya, aku tau..”
Bukan jawaban yang aku harapkan. “Kebaca jelas ya? Sial..jadi malu ni..” Aku tak tahu entah apa warna mukaku saat ini.
“Baru beberapa bulan ini si..SMS-SMSmu menjelaskan semuanya. Santai aja.. perasaan kan bukan hal yang bisa dipaksakan ato kita kendalikan” senyumnya tetap meneduhkan meskipun aku tau mata itu juga menyimpan grogi yang sama seperti yang aku rasakan. Bukan topik bahasan yang menyenangkan memang.
“Hmm..soal yang tadi, apapun yang aku rasakan ke kamu dan apapun perasaanmu sama aku, ga akan mengubah apapun kan? Kita tetep temen kan? Ga ada yang akan berubah?” tanyaku sesaat sebelum dia meninggalkan rumahku.
“Tentu aja ga ada yang akan berubah. Dan memang ga ada yang harus berubah. Kita teman” 
He keeps his words. Tiga tahun berlalu, dan tak ada yang berubah. Entah siapa dulu yang memulai setidaknya ada satu dua message tiap bulan. Sekedar untuk say hello, met wiken, sharing cerita lucu hari ini, janjian jalan bareng saat pulang kampung, curhat urusan kerjaan yang seperti tak ada habisnya sampai melihat hujan meteor. Dia ke aku sebagai teman, aku ke dia...ah, entahlah.
********************

Somewhen at 2009
“Ni.. Pos dari Jawa ya? Ga kenal email apa?” kata temanku sambil menyerahkan amplop tebal berwarna biru muda itu.
“Hehe..kan special..pake telor..” sahutku asal sambil masuk kamar.
Tak sabar kubuka sampul surat itu. Sebuah undangan. Bukan kejutan, undangan ini hanya formalitas. Senyumku mengembang mengenali nama yang terukir di undangan itu. Taufan Alfian Dinata.
Selamat berbahagia teman, sahabat, Brother, Cinta...Mencintai dan memiliki adalah dua hal yang berbeda, dari akar yang berbeda pula. Kalau aku tak boleh mendapatkan keduanya, biarlah aku memilih yang pertama.* 

Sayup ku dengar Letto dari balik pintu kamar 
.......
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya
Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya
……
1 Response
  1. Anonymous Says:

    Test comments


Thanks for leaving comment..