Tidung: Antara Sepeda dan Tongkol

Sekilas Lintas Latar Belakang

"Sudah pernah ke Kepulauan Seribu? "

Pertanyaan itu dilontarkan seorang teman 2 tahun yang lalu. Saat itu si terpikir, "Jakarta? Yeah..please deh.. Thanks, but no thanks"

Eh, lama-lama kok banyak ulasan mengenai Kep.Seribu yang totally tidak bercirikan Jakarta. Laut membiru, bebas polusi, jajaran terumbu karang, merah saga langit senja. Rasanya perlu dicoba. Setelah 2 tahun teracunilah juga saya. 

So, lupa kapan tepatnya, tapi pasti lebih dari 5 bulan sebelumnya, saya beli tiket one way Singapore - Jakarta. Ya, cuman one way. Kenapa? Karena yang promo waktu itu ya cuman tiket berangkat ^^. Beberapa bulan setelahnya baru saya menemukan tiket balik dengan harga yang cukupan untuk kantong.

Trus, kenapa Tidung? Salahkan mailing list dan blog-blog itu!!! Kenapa juga semua ngebahas Tidung ya? Hehe..

Selama tahun 2010, pertanyaan saya ke temen-temen di Jakarta adalah "Mei ini ke Tidung yuks..". 
Maklum, single fighter juga perlu temen sharing ongkos kapal. Sayangnya, sampe H minus 2 minggu, belum juga saya bertemu dengan partner yang menganggukkan ketersediaannya. **Padahal sudah pake iming-iming free penginapan dan kapal**

Dengan sedikit putus asa, saya pun menjual diri di milis. 
"Ditemukan anak hilang..halla...Barang siapa hendak ke Tidung (ato bagian mana saja dari Kep. Seribu) tolong adopsi saya dong...."
*Telah diedit seperlunya*

Ga butuh waktu lama, kucuran dana eh tawaran bergabung bermunculan. Aih...benar-benar milis power ^^
Tawaran pertama dan paling menjanjikan datang dari Ade. Rombongan berduapuluh. (Yups..20 saudara-saudara.. Brasa eksodus ga si...) So, dengan senang hati sukarela tralala lala..saya terimalah pinangan itu.

Antara Serangoon North dan Muara Angke
H minus seminggu, bukannya istirahat, biar nanti pas liburan fit, saya menghabiskan hampir 18 jam sehari di kantor. *SIAL* Tidur tidak pernah lebih dari 5 jam setiap pagi (tidur jam 2 bangun jam 7 itu pagi ya..). Beruntung sampe hari Jumat itu bisa terlewati tanpa insiden yang bearti (selain terancam batal gara-gara "rencana" implementasi project gila).

Dan meluncurlah saya jam 3.40 dari gedung ungu-hitam-putih itu. Kerusakan mulai terjadi..Total mencapai S$ 16 untuk taksi ke Changi (hiks..) Setelah melalui rintangan-rintangan mulai dari pesawat delay 1 jam, lupa bawa Rupiah (maaf, kebiasaan..), salah nunggu bis Damri, sampai mengarungi macetnya tol dalam kota (cuman di Jakarta tho ada tol macet???) selama 1.5 jam, akhirnya sampai juga di TMP Kalibata (Kuburan?Bukan..sebelahnya..). 

Setelah mengatupkan mata barang 3-4 jam, bangun jam 3.30 pagi. Siap-siaplah kita.. (yihaa...sekali-kalinya dalam hidup, alarm HP burfungsi di telinga). Jam 4.40 lebih dikit meluncurlah taksi yang dipesan semalam sebelumnya ke Pancoran, tempat janjian dengan rombongan Ade. Hmm..sekedar informasi, Kalibata - Pancoran tu deket bo' (informasinya cukup buat lo aja kali Na!!!). Jadilah ga sampe 15 ribu dan 10 menit kemudian sampelah di halte di seberang Mustika Ratu. 
Spooky..gelap..sendirian.. Sial..salah tempat ternyata. Ada halte yang lebih manusiawi di setelahnya. Setelah berparno-parno ria setiap ada bayangan orang mendekat (sumpah rasanya pengen ngeluarin tripod buat bela diri) selama 10 menitan, taksi yang berpenghunikan Ade, Reiny dan Ruth pun menghampiri (hip hip huree...kalian selamatkan jiwa saya). Dan setelah menjemput satu orang kawan lagi (btw, yang pagi itu sapa si? Sorry gelap..kwkwk..bilang aja lupa cuy..) meluncurlah kami berlima ke Muara Angke.

Tips: Jangan tanya saya rute dari Pancoran ke Muara Angke. Saat itu saya pasrahkan jiwa dan liburan saya ke temen-temen baru ini dan sopir taksi tentu saja :D Satu hal yang pasti, taksi dari Pancoran - Muara Angke sangat murah..cuman 15 ribu (kan dibagi ber5..hehe)

Muara Angke
Gabungan antara bau amis ikan, bau solar kendaraan, kubangan air menghitam, lubang menganga di jalanan, riuh rendah pasar, lalu lalang macetnya angkutan kota, tebaran gundukan sampah dan malang melintang kapal nelayan. Ya..itu lah Muara Angke.
Kalo tiba-tiba ada setan yang membisiki Anda untuk ikut-ikutan trip ke Kep.Seribu dan menggunakan kapal dari Muara Angke, maka saran saya hal pertama yang harus Anda siapkan bukan duit, tapi mental..
Kapal ke Tidung (dan semua pulau di Kep.Seribu) adalah kapal nelayan. Jangan bermimpi tempat duduk..adanya ya tikar (udah bagus ga pake ada tumpukan ikan). Ada 2 pilihan, duduk di dalam atau di lantai 2 (ok..atap). Semua dengan pros dan cons. Duduk di dalam, ga kena sengatan matahari yang panasnya ga kira-kira, tapi gerah, sumpek dan goyangannya lebih tidak terantisipasi. Atau duduk di lantai 2 (atap sekali lagi..) kena angin, jelas ga sumpek tapi sumpah mampus itu matahari kaga pake kira-kira panasnya.. (catatan: 
Berangkat jam 6.30 pagi aja puanasnya minta ampun..) Jadi wajar kalo pas baliknya ga ada satupun diantara kami yang duduk di ok..atap. Sebetulnya kalo beruntung, bisa mendapatkan kapal yang atapnya beratap (ada beberapa anomali di sini yang bisa diabaikan oleh logika normal).
Jangan bertanya soal standard keselamatan di sini. Kapal itu hanya dan hanya akan berangkat kalo sudah penuh. Penuhnya kapasitas berapa orang? Hmm..hanya yang ngitung dan Tuhan yang tahu. 
Perjalanan memakan waktu 3 jam. Yak..3 jam kepanasan, 3 jam kejepit diantara kaki dan kepala orang, 3 jam antara ada dan tiada. Mangkanya kan tadi dah dibilang, siapin mental bukan uang. Karena total kerusakan di sini ga seberapa. Hanya 33 ribu sekali jalan. (sepertinya ada benang merah kebetulan yang dipaksakan di sini mengenai angka 3.. Ajaran penglaris buat Tidung apa ya?)
Tips: Ada beberapa pilihan lain untuk ke Tidung. Mengutip dari beberapa orang (karena
saya juga baru tau kok) selain dari Angke, ke Tidung juga bisa dari Ancol Marina dan Muara Saban Tangerang. Kedua cara ini memakan waktu yang lebih singkat. Caranya ke Marina dan Muara Saban? Duh..cari ndiri ya..please..










TIDUNG..TIDUNG..dan TIDUNG
Tidung adalah satu dari banyak kecamatan di wilayah Kep.Seribu Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Terdiri dari 2 pulau, Tidung Besar dan Tidung Kecil. Semua aktifitas kemanusian (maksudnya yang berhubungan dengan manusia) ada di Tidung Besar. Karena Tidung Kecil memang pulau kosong tidak berpenghuni. Kalau tidak salah hanya ada 1 rumah penjaga di Tidung Kecil. Kehadiran jembatan yang menghubungkan 2 pulau ini menjadi daya tarik tersendiri dari Tidung. Dari ujung timur Tidung Besar atau ujung barat Tidung Kecil inilah, kita bisa menikmati sunrise dan kalo beruntung sunset.
Fasilitas pulau ini terbilang lengkap. Mulai dari sekolah SD sampai dengan SMK, Puskesmas, Kantor Polisi, Kantor Lurah, sampai dengan kapal cepat untuk kondisi medis darurat yang saya sempat lihat bersandar di dermaga Tidung. Listrik pun menyala 24 jam sehari. Jadi jangan kuatir untuk yang tidak bisa tidur tanpa lampu.

Kesempatan kemarin, kami ber18 menginap di penginapan Audy milik pak Bustanil. 

Tips:
1. Pastikan jangan makan ikan setidaknya seminggu sebelum ke Tidung. Karena dalam 5 kali makan, pasti akan ketemu ikan..ikan dan ikan..tongkol..tongkol..dan tongkol..
2. Kalo ga mau rugi dan keluar uang lagi, bawa air minum dari Jakarta. Karena pengeluaran tak terduga di Tidung banyak jatuh ke air mineral.
3. Belajar naik sepeda dulu sebelum ke Tidung. Repot tau klo sampe ga bisa naik sepeda. Secara alat transportasi satu2nya di Tidung ya sepeda itu ato silakan jalan kaki :D
4. Belajar berenang. Setidaknya belajar ga takut sama air lah..Kenapa? Ga perlu dijelaskan kaliii...
5. Belajarlah naik tangga vertikal. Itu akan membantu pas naik ke kapal setelah snorkeling. (KOk ga ada yang bilang klo naik kapal itu susah ssseeee???)
6. Pergilah berombongan. Banyak yang bisa dishare dengan rombongan. Selain cerita dan kegokilan, duit juga salah satu hal. Dan satu lagi..ada yang memfoto-foto selama snorkeling.
7. Bawa kipas. Sumpah asli puanas di dalem rumah di sana. Apalagi klo pas pulsa listrik habis --"
8. Penduduk Tidung benar-benar welcome dengan pendatang. So, jangan ragu-ragu untuk tebar senyum dan menyapa mereka dengan riang..

Note: Perjalaanan ini mengurangi kantong saya sebanyak Rp 300.000 terhitung dari Kalibata - Angke - Tidung - Angke. Belum termasuk ongkos terbang dan ongkos terkapar keracunan di hotel semaleman :(
0 Responses

Thanks for leaving comment..