|
"Arep adol opo maneh kowe nggo rabi?"1
"Karepmu arep nglamar anak'e priyayi kuwi wis mbok pikir tenan tho Nang...?" 2
Kata-kata Kang Moh dan Mak'e kemarin sore masih jelas terngiang di telingaku. Tajam menghujam sisi kesadaranku. Aku sendiri juga bukannya membabi-buta tak tau diri ketika meminta Mak'e ngelamar Retno. Di mana tho letak salahnya anak seorang papa yang tak lagi berayah ingin berumah tangga dengan putri bungsu seorang priyayi terhormat? Status sosial? Basi..jaman dah berubah. Memang kita hidup di jaman Mojopait apa?
Tapi klo mau jujur, statusku yang sekarang yang cuman bantu-bantu ga jelas di rumah Pak Carik memang bukan kerjaan yang bisa dibanggakan di depan calon mertua. Lha wong bayaran aja ga jelas kapan. Yang penting makan dan numpang tidur bisa gratis. Kerjaan sambilan yang aku jalani dari masa SMEA juga ga terlalu membantu. Duit apa yang mau dipake buat mantenan? Apa ya istriku nanti mau aku kasih makan cinta thok? Lha wong kerikil aja ga kuat lagi beli. Oalah kenang...nang..urip kok jan abot tenan3.
Sebagai anak kampung, masa kecilku aku lewatkan sebagaimana anak kampungku pada umumnya. Sebut saja, mengembala biri-biri ato wedhus gibas klo kampungku menyebutnya, mandi di kali, perosotan dengan pelepah daun kelapa. Semua aku pernah alami. Yang berbeda mungkin hanya saja dari kecil aku terbiasa hidup mandiri ato sendiri lebih tepatnya. Menjadi anak bungsu bukan bearti aku bisa bermanja-manja. Menjadi anak bungsu membuat aku harus berjuang lebih keras untuk terlihat di antara kakak-kakakku. Menjadi anak bungsu membuat aku hanya sedikit kebagian orang tua. Hanya sampai SD aku merasakan mempunyai seorang bapak. Pak'e meninggal waktu aku masih ga tau apa itu arti hidup. Aku melanjutkan sekolah atas biaya Kang Mat yang sudah bekerja di lain kota. Sampai ketika kelas 1 SMA, Kang Mat pun dipanggil yang punya hidup. Keinginan untuk menjadi beda dari orang-orang kebanyakan dan motivasi kuatku untuk merubah hidup yang membuat aku tetap bertahan untuk sekolah.
Gusti memang tidak tidur, saat aku perlu biaya untuk sekolah, ada tawaran kerja paruh waktu setiap Sabtu di kecamatan tetangga, 24 km dari kota dimana aku kost waktu itu. Walopun tidak seberapa, upah yang aku dapat cukup untuk menyambung hidup dan sekolah tanpa sokongan orang tua.
Masalah lain timbul. Sabtu itu bukan hari libur sekolah. Jaman itu belum ada mesin waktu yang bisa bikin aku ada di 2 tempat sekaligus. Jalan satu-satunya, bolos sekolah tiap Sabtu. Beruntung teman-teman sekelas mengerti keadaanku, maka absensi bukan menjadi sebuah masalah karena mereka selalu bersedia untuk sekedar menorehkan tanda tangan atas namaku. Bahkan ketika wali kelasku menyadari kejanggalan itu dan menanyakannya padaku, beliau pun mengerti alasan yang aku berikan. Bahkan menawariku tempat tinggal gratis walopun butuh waktu lama buatku untuk menerima tawarannya. Haha..Tuhan memang tidak tidur, bahkan untuk kecurangan yang aku lakukan atas nama bertahan hidup.
Ternyata hidup ga sekedar sampai lulus SMEA. Hidup masih panjang. Tak perlu lah ditanya kenapa aku tidak meneruskan ke perguruan tinggi walopun soal otak itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah aku tidak bisa bayar uang kuliah dan segala macam keperluan hidup dengan otak. Maka aku jalani saja hidup seperti layaknya orang-orang pra sejahtera di negeri ini. Kerja, cari duit buat ngelamar anak orang, kerja, cari duit buat menghidupi anak istri, kerja, kerja dan kerja.
Bicara soal ngelamar anak orang membuat aku teringat lagi soal lamaran tadi. Soal Retno. Aku kenal dia dari SMP, dua belas tahun yang lalu. Aku ingat gadis kecil yang selalu mengekor kemanapun kedua kakak perempuannya pergi. Kakak pertamanya adalah teman sekelasku. Entah bagaimana gadis kecil ingusan itu berubah menjadi seorang yang sangat bearti di hidupku sekarang. Ah..cinta tak perlu alasan kan? So ga perlu repot mempertahankan alasan itu. Jatuh ya jatuh saja..tak perlu mempersiapkan diri untuk jatuh. Sederhana. Kalo ditanya kapan kami mulai pacaran, aku pun tak tau. Sepertinya aku dan dia ya seperti ini sedari apa yang kami ingat. Tidak ada sebuah awal, karena kami tidak menginginkan akhir. Walah..jadi sok romantis.
Repotnya ya itu, sapa si aku ini? Buruh kasar lulusan SMEA yang bahkan tanggal lahirnya sendiri saja tak pernah tercatat di selembar akta kelahiran. Sementara dia, meskipun bukan orang sangat berada, setidaknya kedua orang tuanya guru. Ayahnya seorang kepala sekolah, jabatan yang cukup disegani. Dan seperti belum cukup, darah biru mengalir di keluarganya dari pihak ayah. Priyayi klo mak'e bilang. Dan ndilalahnya4 kok ya aku yang jelata ini nekat-nekatnya macarin dia tho ya... Untungnya, orang Jawa tu selalu untung mungkin, keluarganya sedikit liberal. Bukan status dan warna darah buat mereka yang terpenting. Yang penting anak mereka bahagia. Satu point buatku. Dan lebih penting anak mereka tidak kelaparan. Satu hal yang belum bisa aku jamin.
"Jadi apa rencanamu?" tanya calon mertuaku suatu hari waktu aku bertamu sementara Retnonya malah entah kemana.
"Nggih, ndak tau Pak"
"Mau kerja serabutan begini terus?" kejarnya lagi.
"Ndak tau juga Pak. Belom mikir"
Beliau menghela nafas panjang. Entah memang merasa perlu bernafas lebih banyak atau tiba-tiba kena serangan sesak nafas memikirkan nasib anak gadisnya atau mungkin sedang memikirkan kemungkinan calon menantu yang lebih potensial.
Tapi klo dipikir sebenernya aku yang nekat ato Retnonya yang udah ga bisa berfikir jernih dengan tetep jalan ma aku ya? Jangan berfikir aku tak pernah menanyakan itu padanya. Karena kadang aku juga ngerasa pacarku satu ini rada sedikit putus asa ato apa lah..kok ya sampe mau-maunya sama aku.
“Nduk, takon no5..” ucapku pelan-pelan satu saat kami sedang berduaan.
“Opo?”
“Kok kamu bisa seneng ma aku si?”
“Kepaksa. Lha orang dari kecil liatnya cuman kamu aja” sahutnya sambil terus asyik ma jarum jahitnya. Benar-benar calon ibu rumah tangga, pas wakuncar aja aku masih diduakan ma pesenan jahitan. Nasib.
“Serius ki.. Kaya Warto ato Harso kan mapan dari aku. Ya..emang ga lebih cakep si. Setidaknya kan duit orang tuanya bisa menjamin kamu ga kelaparan.”
“Lha yo apa aku mo kawin ma bapaknya Warto ato Harso?” bibirnya yang sedikit manyun waktu menjawab itu mau ga mau bikin aku gemas.
“Ya ndak gitu. Daripada ntar pas kita dah kawin trus kamunya nyesel, njur purik6, minta dipulangin ke rumah bapakmu, apa ga malah repot akunya. Eh, emang kamu mau kawin ma aku gitu?”
“Ga ada yang bilang mau si”, diletakkannya jahitan yang entah bagian apa itu, dan akhirnya fokus padaku. “Nopo tho? Kok tiba-tiba nanyain itu? Buat aku ga penting berapa banyak duit yang bisa kamu bawa pulang, tapi tanggung jawab kamu untuk mengusahakannya. Ga penting apa kerjaan kamu, asal itu halal untuk memberi anak istrimu makan nantinya. Aku ga peduli seberapa lama kamu ninggalin rumah untuk kelonan ma karung berasmu itu, asal kamu punya komitmen untuk pulang. Apa aku minta terlalu banyak sampai kamu harus ngejodoh-jodohin aku ma bapaknya Warto?”
“Aku kan waton takon. Ra sah nesu tho7..” geli campur seneng aku mendengar oemelan panjang lebarnya. “Bapak bakal kasih restu ga ya?”
“Yang mau jadi mantunya kan kamu. Tanya gih..” senyum nakalnya menyimpul sebelum kembali menekuri lubang jarumnya.
Sambil mengamati wajahnya yang tampak tanpa dosa itu tiba-tiba aku terpikir, apa ni cewek tau tibo ra konangan8 pa ya? Jadi sedikit ada masalah dengan akal sehatnya. Retno..Retno...
Aku melompat turun. Kalo kita tidak sanggup memikirkan masa depan setidaknya kita tidak menyerah untuk masa sekarang.
Tenang Kasihku, hidup itu seperti roda truk. Mungkin sekarang kita di bawah. Tapi selama kita berjalan, pasti suatu saat akan terasa manisnya di atas. Jangan lupa berdoa, moga-moga truknya ga mogok, jadi kita ga dapat giliran di bawah terus.
Translate:
1 “Memang kamu mau jual apa lagi buat nikah?”
2 “Keinginanmu untuk melamar anak priyayi itu apa sudah kamu pikirkan baik-baik Nak?”
3 hidup kok berat sekali
4 kebetulan
5 “Dik, tanya dong”
6 ngambek
7 “Aku kan asal tanya. Jangan ngambek gtu dong..”
8 jatuh tidak ketahuan
7 pethangkringan (sumpah ga tau gimana bahasa indonesianya) di atas aja, turun sini
Beautiful...
Thanks..thanks...appreciate it :)