|
Hari sudah mulai terik meskipun matahari belum terlalu tinggi di jam 10 pagi itu. Menggelandangku untuk mencari taksi sebelum dahi ini tersergap butir-butir keringat. Apa lacur...ternyata tidak mudah menemukan taksi kosong di negara kecil ini. 15 menit penantian membuahkan hasil ... sebuah percakapan pertama hari ini.
" .... please" demi alasan kondusifitas ada baiknya tetap sebagai ....
"Hah?Where?" Tampang di depanku jelas bukan pura-pura.
"Hmm...wait the minutes." Rasanya ada kertas sakti di saku tas. ".... Avenue 5." Sekali lagi atas nama kondusifitas.
"OO..OK"
Fiuh...menunggu hasil conversation tadi dengan harap cemas, we won't lost will we? 10 menit kemudian logo yang sudah familier itu pun tampak di depanku. Ha...finally..mimpi buruk selama 3 hari ini mewujud jua..solid. Tarik nafas..panjangggg....ah...tetap saja..ada rasa ini di dada.
"I have an appointment with Mr. Al" jawabku ketika si Cantik itu menanyakan tujuanku.
"Ah ya..please sit down and wait a moment"
Yah...dan terduduklah aku di salah satu sofa di tengah ruangan yang cukup luas itu. Hampir 20 menit aku terpekur menunggu sambil menekuri name tag tanda pengenal lusuh yang diberikan oleh security di pintu gerbang tadi.
"Miss Ratna?" suara panggilan dari seorang cowok berkemeja rapi membuatku menoleh kebelakang. Oke..here we go...real battle is began.
Sedikit basa-basi, kemudian dia menyerahkan padaku plastik biru tipis itu. Rasanya menyenangkan..memegang sesuatu yang sudah begitu aku kenal dan bersyukur hari itu aku pake sepatu hak rendah. Ga lucu aja..klo sampe belum apa-apa, itu plastik rapuh sudah terkoyak-koyak hak sepatu. Setelah mengenakan plastik itu di sepatuku, dia mempersilakan aku untuk masuk ke (another) security gate. Ah...ini juga sama saja. Procedure standard hanya saja sedikit lebih canggih dengan metal detector seperti di bandara.
"Hm..what language you prefer to use?" Al bertanya sesaat sebelum kami masuk lift.
Dan berikut adalah yang terjadi di otakku dalam waktu kurang dari 2 detik.
"Lah..kok baru nanya sekarang? Bukannya dari tadi pake bahasa Inggris yak?" pikirku dalam hati. "Ngetes ya..."
"English is Ok.." jawabku
"Ah..becandain ah..orang dari negara yang sama ini..sapa tau beneran boleh dalam bahasa ndiri" pikirku lagi.
"But I prefer bahasa Indonesia" sambungku.
Setengah geli, seperempat takjub, seperempat speechless dia berkata, "Hmm..programming language I mean..what programming language you prefer?"
................................. (giliran aku yang speechless)
Moral cerita: Kenali siapa lawan bicara Anda dan dunia yang Anda masuki.
hhahahaha lucu...lucu...
lebih parah dari nanyain ijazah asli dijawab asal daerah hihihi...
*blog mu aku link balik ya...
^^' Ini jadi trend mark ngerjain kandidat baru yang mo interview di sini sekarang :D:D
(setelah mengorbankan harga diri nyeritain ini ke temen-temen)
*Silakannn....
kekeke... dl aku pas interview kan nunggunya lama. trus bossnya masuk ngulurin tangan sama bilang 'Hello, I'm David'. aku jawab 'Hi, I'm Nia' singkat kata aku gak dpt kerjaan itu. trus aku tanya ke temenku mestinya jawab apa ya? kt mereka 'NICE TO MEET YOU! baru ngenalin diri. itupun yg sopaaannnn...'
@Nia: Klo lagi grogi gitu mana inget proper introduction greeting ... :))