Platonic

Sepertinya sudah setengah jam aku baca Wikipedia. Tak kurang dari belasan lembar hasil kerja Google aku bolak-balik. Tapi entah mengapa definisi cinta platonic yang ada di sana tak juga masuk ke otakku. Apa karena definisinya yang tidak valid, atau karena definisinya yang diluar ekspektasiku, atau simple karena seperti seseorang pernah bilang “Memangnya sampeyan punya otak?”. Dianc*k… Eh, maaf, harusnya pisuhan itu aku alamatkan pada orang yang dengan tidak bernuraninya memintaku menulis artikel kecil tentang cinta platonic.
“Tolong lah Rin, di tim kita cuman kamu yang bisa dan biasa nulis. Ntar kalau ada lomba Winning Eleven, aku  deh yang maju.”, bujuk Wiryo kala itu. Bulan ini giliran tim kami yang harus memberikan kontribusi pada isi majalah bulanan kantor.
“Sampeyan itu lahir tahun berapa si? Memangnya masih ada yang main Winning Eleven sekarang?” semburku manyun.
“Sudah ndak ada tho? Yo, ndak penting itu. Yang penting ini artikel tanggung jawab kamu ya.”, cengiran terakhir dari Wiryo seolah mengultimatum bahwa diskusi selesai. Dan begitulah sampai akhirnya aku harus rela membagi-bagi waktu kerja dengan kewajiban menjadi penulis dadakan.
Bicara soal Wiryo, tak bisa kucegah mataku mengarah ke sosok yang duduk di cubicle depanku. Laki-laki di awal 30an itu tampak serius menekuri layar monitor. Sesekali keningnya berkerut dan tak jarang sebelah tangannya memijat ujung hidungnya, kebiasaan yang selalu dilakukannya kala sedang serius. Meskipun posisi kami di perusahaan ini bisa dibilang sama, prakteknya aku lebih sering menganggapnya seperti mentor dan supervisorku. Maklumlah, dari urutan masuk dia setahun lebih senior dari pada aku.
Pertama kali kenal, pria yang tidak bisa dibilang pendiam ini jauh dari kriteriaku sebagai pria idaman. Kriteria yang mana Rin? Oh ayolah..fisik dong, kan bagaimana pun kesan pertama pasti mata yang berbicara. Ditambah lagi Wiryo yang cukup hyperactive dalam hal percakapan, well said bawel, membuat dia tercoret dari daftar. Namun seiring waktu, ada sisi lain dari Wiryo yang mengubah cara pandangku ke dia.
He’s an observer. Great observer, I can say. Dibalik kecerewetannya, dia punya natural talent untuk menganalisa  dan membaca seseorang. Oh, did I say membaca? Of course he’s not Professor X. Tapi lebih pada mengerti apa yang orang lain pikirkan dan rasakan tanpa harus orang itu mengatakannya. Bisa dibilang sebuah bakat langka untuk makhluk Tuhan yang indentik dengan insensitivity mereka.
Dan itu membuatku memambahkan satu lagi poin di senarai kriteria non fisikalku tentang cowok idaman. Senarai yang sepertinya tidak bertambah dari belasan tahun lalu. Isn’t great to have a partner yang bisa mengerti apa yang kita inginkan hanya dengan menatap ke manik matanya? Bukankah hidup sangat indah jika ada seseorang yang tahu apa maksudmu hanya dengan kerlingan matamu?
Sebuah gerakan tangan di seberang menyadarkanku dari lamunan. Wiryo, dengan kerutan yang makin dalam di keningnya menatapku sambil bertanya tanpa suara, “Ngopo?”.
“Ga papa. Lagi mikir aja.” jawabku sambil nyengir. Kuharap mukaku tidak terlalu memerah karena kepergok memandangnya.
Dering telepon di meja menyelamatkanku dari tatapannya yang masih berusaha menyelidik.
“Hallo?” tanpa menunggu deringan kedua segera aku sambar gagang telepon itu.
“Eh Mbak, nyari Wiryo ya? Bentar ya...”
“Wir, nyonyah.” Seruku pada Wiryo. Aku langsung mengenali suara perempuan di seberang tadi, Mbak Lanny, istri Wiryo. Perempuan lemah lembut yang jago membuat brownies coklat kesukaanku. Perempuan yang selalu protes mengapa aku panggil dia Mbak sementara aku tidak pernah memanggil Wiryo Mas. Perempuan yang karena dia, aku mengubur jauh-jauh perasaanku. Yah, karena bagaimanapun urutan kedua dalam senaraiku masih tertulis “Bukan suami orang.”.
“Woi...matamu itu lho. Jadi perempuan mbok ya jaga pandangan. Lagian ngopo tho? Sepagian mirip jin botol kurang sesajen. Kadang manyun, sebentar cengar-cengir. Yang kurang si cekikikan sendiri.“ tegur Ndari yang duduk di sebelahku.
“Bingung aku. Bingung harus nulis apa soal cinta platonicnya.”
“Yang buat majalah?” sambungnya yang kubalas anggukan malas.
“Apa bikin antologi cinta platonicku dengan Wiryo aja ya?”, kurendahkan suaraku untuk memastikan hanya kami berdua yang mendengar percakapan ini. Maklum, urusan seperti ini bahkan tembok pun kadang ingin tahu. Ndari sudah cukup lama tahu kalau aku mempunyai perasaan istimewa kepada supervisorku itu.
“Ide bagus.” Ndari ikut-ikutan merendahkan suaranya sambil menyondongkan tubuhnya ke arahku. “Tapi yang jadi pertanyaan, kamu tu mau nulis soal cinta platonic atau cinta pathetic?”, kalimat terakhir yang diucapkannya dengan volume normal tak urung membuat beberapa kepala menoleh ke arah kami.
“Lagian,” menyadari akibat dari volume suaranya, Ndari kembali berbisik “Kalau kamu gandrung itu suami orang karena talent dia yang kamu bilang bisa membaca pikiranmu tanpa kamu perlu mengucapkannya, kenapa kamu ga sekalian pacaran sama dukun?”
“Somplak!” umpatku pelan sambil meluncurkan segumpalan kertas malang ke meja sahabatku itu.
***********
2 Responses
  1. handa Says:

    Apa bedanya somplak ma koplak?? hehehe...
    btw interesting as always... love how you reveal the tricky part of your story b^^d


  2. QueeNerva Says:

    Somplak --> istilah buat benda yang rada cuil (apa lagi cuil.. --') ga utuh gtu deh..
    Koplak --> istilah buat benda berongga yang ga penuh..cenderung ke isi kepala LOL

    Makasih as always... semoga bisa dapet point dari cerita yang errr...separo curcol ini :))


Thanks for leaving comment..