Bali Series: Dive Your Plan

“Hah? Yang bener Pak, langsung praktek di laut?” tanya saya setengah heran pada Pak Wayan, instruktur diving saya ini.
“Iya, ga papa. Kebetulan lautnya sedang tenang. Lagi pula, sudah sering snorkeling kan?” tanyanya balik yang segera saya sambut anggukan kepala. “Nanti prakteknya di tempat dangkal dulu. Terus di kedalaman 2 meteran situ ada pasir yang cukup luas, kita bisa duduk-duduk di sana sambil saya jelaskan kemudian Na bisa ikuti.” sambungnya lagi.
Saya mengarahkan pandangan ke laut lepas 3 meter di hadapan saya. Permukaan laut pasang pagi itu memang tidak banyak bergelombang. Ombak pun hanya berkecipak pelan menyentuh bebatuan di pantai. Ditambah lagi matahari yang bersinar cerah menjanjikan visibility yang baik di bawah sana. Meskipun tampak bersahabat, tetap saja saya merasa ciut nyali karena sebenarnya, jadwal saya pagi itu adalah praktek di kolam renang.
Pak Wayan, yang meskipun setelah mengoreksi jawaban2 pra ujian saya merasa cukup puas, sempat memberikan beberapa pengulangan materi teori terutama yang berkaitan dengan pengenalan dan bagaimana menggunakan peralatan menyelam seperti BCD, regulator, tank. Beliau juga menjelaskan beberapa teknik yang harus kami praktekkan di bawah air nanti, mulai dari bagaimana menemukan regulator yang terlepas, membersihkan mask dalam air, melepas pasang weight belt sampai bagaimana menggunakan alternate air dari buddy. Tak lupa juga mendiskusikan isyarat-isyarat tangan yang akan kami pakai di bawah sebagai cara berkomunikasi.
Lebih dari 3 jam saya digelontor penjelasan demi penjelasan dan pengulangan demi pengulangan untuk memastikan saya terbiasa. Sampai akhirnya lepas tengah hari saya dinyatakan siap untuk selaman pertama saya. Setelah berganti body suit, Pak Wayan mengulurkan 5 timah pemberat yang sudah terangkai di belt. Tidak siap dengan beratnya timah yang akan saya terima, saya sempat terperangah ketika sabuk itu sampai di tangan saya. Itu berat ya… Dan jauh lebih terasa berat ketika sudah terpasang erat di pinggang. Teman-teman di dive centre, yang tertawa geli melihat reaksi saya, menyeletuk, “Itu belum pake BCD lho...”. Benar saja, setelah semuanya bertengger di badan saya, derita saya menggendong backpack biru ke mana-mana belum ada apa-apanya. Fiuh … 
Karena penyelaman dekat dengan garis pantai, kami menggunakan teknik beach entry. Yang bearti selain kami harus menggendong-gendong tank, menenteng fin, mask dan snorkel, kami juga hanya bisa memakai fin di dalam air. Setelah masuk ke air dan mengembungkan BCD, saya membersihkan mask dari pasta gigi yang sebelumnya dioleskan untuk mencegahnya berembun. Ombak yang beberapa kali datang, meskipun tidak besar, cukup membuat saya oleng ke sana kemari. Apalagi saat saya berusaha meraih ujung kaki untuk memakai fin. Akhirnya setelah berjuang beberapa menit dengan dibantu Pak Wayan yang memegangi BCD saya, terpasang juga si kaki katak. Setelah dirasa air cukup dalam, segera snorkel yang sudah saya pakai sebelumnya saya lepas untuk digantikan dengan first stage regulator. Begitu Pak Wayan memberikan kode jempol menunjuk bawah, mulailah saya membenamkan kepala saya ke air, deflate BCD, siap menyelam.
Belum ada semeter di bawah permukaan ketika saya merasakan ketidaknyamanan di telinga. Ups, saya lupa equalizing. Teknik ini dibutuhkan untuk menyamakan tekanan di dalam telinga dengan tekanan air di luar yang semakin meningkat seiring dengan semakin dalam kita menyelam. Jujur, dalam beberapa penyelaman saya beberapa hari setelahnya pun, saya cukup mengalami kesulitan untuk equalizing. Tak jarang saya harus berhenti sesaat bahkan kadang harus kembali naik beberapa centi agar bisa ber-equalizing.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, di sebelah kanan kami ada semacam hamparan pasir hitam tanpa batu yang cukup luas. Segera saja kami menuju ke sana. Pak Wayan memberi saya tanda untuk mengikuti gerakan beliau. Pertama, berlutut di pasir dan memposisikan tubuh vertikal. Rasanya bermenit-menit sampai akhirnya saya bisa mendaratkan lutut saya di pasir dan menahan badan agar tetap tegak, bukannya satu kaki di mana, kaki lain di mana, badan saya ke mana. Pelajaran kedua berkaitan dengan mask, mulai dari membersihkan mask dari air yang masuk sampai melepas mask di dalam air dan memakainya kembali. Di sinilah untuk pertama kalinya ketenangan kita dalam air diuji. Karena untuk sebagian orang, membiarkan mata dan hidung terpapar air laut dalam kondisi tetap harus bernafas bukan pengalaman yang menyenangkan, apalagi di kedalaman 3 meter.
Yang terakhir, Pak Wayan meminta saya menjatuhkan tubuh ke depan dari posisi berlutut, hingga hampir menyentuh dasar, tapi tidak sampai di dasar. Intinya, beliau meminta saya melayang. Di sinilah saya akhirnya tahu mengapa hampir semua penyelam pemula ribut tentang buoyancy. Menjaga buoyancy netral itu susah Jendral! Mengikuti instruksi, saya berusaha tetap melayang dengan beberapa kali deflate dan inflate BCD. Sampai-sampai terpikir, bisa-bisa udara dalam tank bukannya saya habiskan untuk bernafas, tapi untuk inflate BCD.
Setelah dirasa cukup, pak Wayan mulai mengajak saya berkeliling coral garden. Tentu saja, saya yang cukup tahu diri tentang buoyancy saya yang masih di bawah standard, tidak berani melayang terlalu dekat ke coral. Tidak lama kami berkeliling karena pada dasarnya ini hanya perkenalan saya bagaimana menyelam. Tak lama kemudian, kami kembali ke hamparan pasir untuk mengulang kembali beberapa teknik yang harus saya pelajari, sebelum kembali ke daratan.
Meskipun hanya terasa sebentar, penyelaman pertama saya ternyata cukup lama. Total 40 menit dengan kedalaman max 13 meter. Berhubung sudah tengah hari dan penyelaman yang beberapa menit itu benar-benar membuat naga di perut saya terbangun, saya memanfaatkan surface interval time untuk makan siang. Lepas pukul 2, kami kembali menyelam. Kali ini Pak Wayan memfokuskan saya untuk melatih cara mendapatkan buoyancy netral.
 
Belajar dari pengalaman pertama, saya cukup bisa mengontrol buoyancy dengan lebih baik. Namun tetap dengan menjaga jarak aman dari karang dan pak Wayan yang memimpin di depan saya, tentu saja. Tidak begitu lama, pak Wayan menunjuk ke arah jam 9, yang segera saya toleh. Seekor ikan putih panjang tampak berenang dengan tenang. Gurat-gurat di sisi badannya dan kepalanya yang khas, meskipun saya tidak bisa melihat gigi runcingnya dengan jelas, membuat saya teringat ikan apa ini. Yap, that’s Barracuda. Sayangnya, saya hanya melihat satu Barracuda, berlawanan dengan habbit mereka yang biasanya berburu berkelompok. Suatu kali, Pak Wayan juga menunjukkan semacam rumpon di depan saya, dan ketika saya ikuti telunjuknya, ternyata persis di sebelah saya, adalah rumpon berbentuk pesawat yang saya ceritakan di sini.
Pukul 3 sore Pak Wayan mengakhiri sesi pelajaran untuk hari ini. Saya yang masih full energy, setelah membereskan peralatan menyelam, segera kembali menyambar fin dan snorkel. Hampir 2 jam saya menyusuri kembali jalur menyelam dari atas. Beberapa kali sempat melihat para diver sedang mengamati gugusan anemone laut. Tiba-tiba, seorang dive master yang kebetulan berada di bawah saya mengarahkan pointernya ke arah jam 3. Ketika saya ikuti, di sebelah kanan saya meluncur pelan seekor ikan terbesar yang pernah saya lihat 2 hari ini. Dengan mulut terbungkam snorkel, saya hanya bisa jerit-jerit takjub dalam hati. Setelah di atas, saya bertanya pada dive master tadi, dan menurut dia, ikan itu adalah bumphead. Saya kurang tahu, jenis bumphead apa tadi, tapi masih menurut beliau, jika kita dive di wreck cukup pagi bisa menjumpai sekumpulan schooling bumphead. Membayangkan puluhan ikan sebesar itu bergerak bersama-sama, membuat saya tidak sabar menunggu besok pagi, karena jadwal besok pagi adalah diving di Liberty dan Drop Off.
Sayangnya, sebelumnya malam ini saya harus menyelesaikan 50 soal final exam dengan tubuh pegal-pegal kecapekan dan pingul lebam menahan beban weight belt.

* Pic taken from herehere and here. Maklum, no underwater camera :)
1 Response
  1. Bagus bu tulisan dan gambar2nya :)

    Kapan2 kl k Bali lg ketemuan yah :))

    Ayun


Thanks for leaving comment..