|
Rembang petang baru saja turun. Gema adzan Magrib bahkan masih sayup terdengar dari langgar di tengah dusun. Tapi tampaknya malam tak sudi lama menunggu. Kegelapan dengan cepat melingkupi rumah di ujung dusun itu. Rapat tersembunyi di balik kebun singkong yang mengapit di halaman kanan dan kiri serta rungkutnya rumpun bambu yang menjadi latar belakang, membuat suasana malam di rumah itu menua dengan segera. Bahkan bias cahaya lampu petromak yang biasa menerobos sela dinding anyaman bambu pun tak tampak. Sebagai gantinya, selarik kuning redup tampak menari dari lentera yang bergelayut malas di ruang depan.
Di ruang itu, Murti tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Entah sudah yang keberapa kali dia seberangi ruangan itu hanya untuk melongokkan kepala ke halaman depan. Mencari tanda-tanda kepulangan Anggoro, suaminya. Tidak biasanya suaminya itu belum pulang sampai lepas Magrib. Biasanya kalau pun ada piket malam, dia selalu menyempatkan diri pulang setidaknya untuk sholat Magrib sebelum kembali ke kantor yang hanya berjarak 2 kilometer dari rumah mereka. Untuk meredakan cemas hati, dijajarinya anak perempuan satu-satunya yang sedang tekun bermain kain-kain bekas jahitannya tadi siang. Sesekali gadis kecil berumur 3 tahun itu tampak bergumam, seperti berbicara dengan seseorang. Tidak cukup keras, tapi cukup bisa ditangkap oleh telinga Murti.
“Fi, sedang bicara sama siapa?”
“Sama Tunuk.”
“Tunuknya mana?”
“Itu. Sebelah situ. Mama geser deh.”, ujar Fifi sambil menunjuk ruang kosong di sebelah Murti.
Tunuk adalah teman khayalan Fifi. Murti tahu itu. Ini bukan pertama kalinya Murti melihat Fifi bermain dengan temannya itu. Biasanya ia hanya tertawa geli bahkan ikut bermain bersama teman khayalan putrinya, seolah-olah dia benar bisa merasakan kehadirannya. Tapi entah mengapa, kali ini ia tak bisa menahan bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang.
“Papa belum pulang ya Ma?” tanya Fifi menghentikan aktifitasnya.
“Belum Sayang. Fifi makan dulu yuk?” ajak Murti.
“He em…mau makan” angguk Fifi.
“Oke, Mama ambilkan dulu ya..” balas Murti sambil beranjak menuju dapur. Setidaknya makan malam akan menyibukkan Fifi dari teman khayalannya dan dirinya sendiri dari kekhawatirannya akan keberadaan sang suami.
Dapur itu relatif cukup besar untuk ukuran perabot mereka yang tidak seberapa. Lampu minyak tanah yang sempat ia nyalakan dari ruang tengah tadi tidak mampu menerangi seluruh penjuru dapur. Diletakkannya lampu minyak di atas meja kecil di sebelah lemari makan, sementara ia dengan cekatan menata nasi dan lauk ke piring sambil memunggungi kegelapan. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Murti merasa seperti ada yang berbeda dari irama nyanyian malam yang sedang berdengung. Dipasangnya telinga lekat-lekat sambil mengedarkan pandangan ke arah kegelapan di seberang dapur. Lagi. Suara itu terdengar lagi. Seperti suara langkah kaki tergesa yang tersuruk dalam dedaunan kering. Srek..srek..srek.. Suara itu seperti bergema di kelapangan dapur. Lalu berhenti. Digantikan hening panjang ditingkahi bunyi serangga malam. Tujuh hitungan, Murti menghitung dalam hati, berlalu sebelum suara itu kembali, bersumber di tempat yang sama.
Murti bukan perempuan penakut. Ia terbiasa dengan kesendirian di rumah kontrakan mereka yang sederhana itu jika Anggoro harus berjibaku dengan karung-karung beras Bulog yang harus diantarkan di luar sana. Namun entah mengapa malam itu dia tak bisa menepis bayangan-bayangan ketakutan di kepalanya.
Segera disambarnya piring yang sudah berisi nasi dan bergegas ke ruang depan menghampiri anaknya. “Fi, makan di halaman yuk.” Tanpa menunggu anggukan samar Fifi, digendongnya gadis itu ke depan rumah.
Awan kelabu yang sedari tadi siang menyembunyikan matahari sedikit tersibak di horizon timur, memberi kesempatan purnama untuk mengintip dan menebar cahaya keperakannya menerangi halaman yang cukup luas itu. Menciptakan tarian bayang-bayang rimbun dedaunan yang bergerak seirama sepoi angin. Sebetulnya, rumah itu terletak tepat di tepi jalan utama kampung. Dan jalan itu cukup ramai jika siang hari. Tapi begitu menjelang petang, penduduk desa lebih memilih untuk sedikit memutar. Entah siapa yang memulai, sebuah cerita tentang penampakan kereta kuda gaib di sepanjang jalan itu selalu didongengkan dari mulut ke mulut dan menjadi legenda.
Tapi Murti tidak perduli. Pilihannya hanya antara dikelilingi suara tanpa wujud atau seekor kuda setan yang belum pernah dilihatnya. Dan dia memilih yang kedua. Sambil terus menyuapi Fifi, Murti tak henti mengajak anaknya bicara. Apapun yang bisa mengalihkan pikirannya dari singup yang menyelimuti.
Tak lama, sayup terdengar suara sepeda motor yang sangat dikenalnya menuju ke arah mereka. Sempat terfikir bahwa itu hanya halusinasi saja, Murti menghela nafas lega ketika Fifi meronta turun dari pelukannya sambil berteriak, “Papa pulang!”. Segera ia menghampiri Anggoro yang baru saja memasuki halaman rumah.
“Kok makan di luar malam-malam begini?” tanya Anggoro begitu selesai mematikan mesin motornya.
“Di dapur ada suara orang jalan.” bisik Murti pelan yang langsung disambut kerut di kening suaminya.
“Ada maling?”
“Ga ada orangnya.”, sambung Murti.
Dalam diam, mereka berjalan ke dalam rumah. Anggoro segera memompa lampu petromak. Diikuti Murti dan Fifi yang mengekor tepat di belakangnya, Anggoro membawa petromak itu ke arah dapur. Seketika dapur yang tadinya remang oleh cahaya lampu minyak menjadi benderang karena cahaya petromak.
Anggoro mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dapur. Dapur itu senyap. Hanya suara jengkerik di luar yang terdengar. Ditolehnya sang istri sambil menyerngitkan dahi, “Mana?” bisiknya.
“Sstt..”, desis istrinya lirih sambil meletakkan satu jari di bibir. Tepat saat itu juga Anggoro mendengar gemerisik di seberang dapur.
Anggoro kembali menoleh ke arah Murti. Kerut di dahinya semakin dalam. Untuk yang ini, Anggoro tak perlu berkata apapun, Murti tahu persis artinya. Mana ada setan yang masih berisik di cahaya terang seperti ini.
Suara itu kembali terdengar. Kali ini dengan bergegas mereka meyeberangi dapur ke arah sumber suara, rak tempat Murti menyimpan bumbu dapurnya. Tepat di rak tingkat pertama, di atas tumpukan bawang putih, sebuah kantong plastik hitam tampak bergerak pelan, seirama dengan gemerisik suara yang dihasilkan. Anggoro menjulurkan tangan memegang ujung plastic, kemudian diangkatnya perlahan. Dan, plop…sepotong benda putih jatuh dari dalam plastik.
“Icak..” ujar Fifi kecil sambil menunjuk ke arah binatang kecil yang tampak kebingungan sesaat sebelum akhirnya menyadari kemerdekaannya dan melesat ke dinding bambu di balik rak itu.
Murti menoleh ke arah Anggoro yang juga sedang menatapnya dan meledaklah tawa kecil mereka.
“Ternyata Mamamu lebih memilih ketemu kuda setan dari pada ngadepin cicak”, kata Anggoro sambil mengusap kepala Fifi yang segera disambut dengan pukulan pelan Murti di bahunya.
***********
PPPS : Ketika menuliskan kembali kisah ini, syaraf ketidaknyamanan saya sedikit terusik atas kombinasi panggilan “Papa”/”Mama” dengan setting cerita. Maka salut saya untuk beliau berdua yang “menentang jaman” ketika dengan konsisten mengenalkan panggilan itu kepada kami, anak-anaknya, hampir 28 tahun silam.

cicak maneeehhh ..
tapi bikin deg2an euy .. :)
@Zou: Err...sepertinya anggota keluargaku emang ga jauh-jauh dari cicak --'