|
Suatu saat, saya akan mengingat bahwa saat menulis ini tangan saya masih terasa gemetar dan dengan detak jantung yang masih di atas normal. Bukan karena habis "ditembak" seseorang atau terbangun dari mimpi buruk, tapi karena baru saja 15 menit yang lalu saya menamatkan sebuah film yang menurut saya, hmm..saya tidak tahu harus menilai bagaimana.
Well, I'm not a big fan of movie after all, tapi film ini membuat saya tidak beranjak dari tempat tidur selama hampir 2 jam. Terlebih lagi, ini adalah sebuah movie yang cenderung ke one man show, yang saya pikir pada awalnya akan sangat membosankan. Dan ternyata saya salah besar!! Mengobral keindahan luar biasa dari Canyonland, Utah bukan satu-satunya daya tarik film ini. Penyajian scene yang menarik, seperti membagi layar menjadi 3 untuk mengambarkan adegan yang lebih dinamis, atau selingan selera humor dari Aron, sang tokoh utama yang unik, di ambang mautnya, cukup membuat film ini jauh dari membosankan, setidaknya untuk saya.
Dan, oh come on..kalau Anda penggemar James Franco, pastikan nonton deh. Meski tidak tampil secakep Harry Osborn, he still has a cute adorable smile as always. LOL.
Yups, saya bicara soal film 127 Hours. Setelah dipikir-pikir, saya merasa bersyukur saya menonton film ini di kamar, sendirian pula. Karena, hampir sepanjang scene, saya bisa tertawa, berteriak takjub, berteriak ngeri, sampai memeluk kedua lengan saya karena merasa ngilu saat bertahan untuk tidak memalingkan muka ketika melihat adegan itu. Oke, silakan tonton, dan Anda akan mengerti adegan apa itu.
Sebulan yang lalu, ketika pertama kali film ini diputar, seorang teman yang kebetulan menonton, ketika bertemu saya seketika mewanti-wanti, "Lain kali klo jalan ntah ke mana gtu jangan lupa ngasih tahu dulu.". Well, nasihat yang akan saya abaikan, walaupun saya tahu itu benar, sampai saya melihat film ini. Saya jelas tidak seekstrim Aron yang melakukan rock climbing atau canyoning, or those others extreme activity, but satu yang pasti adalah kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. But if anything happened, touch the wood, setidaknya seseorang di luar sana tahu bahwa ada yang tidak beres sedang terjadi pada kita.
Jujur, walaupun dibilang sering menghilang entah ke mana untuk travelling, saya hampir tidak pernah melakukan trip sendirian. Saya bilang hampir. Seingat saya, hanya sekali saya melakukan solo traveling. Dua tahun lalu, ke Tioman. Itu pun masih sepengetahuan orang tua saya, walaupun saya menelpon mereka setelah saya dengan selamat menjejakkan kaki di sana. Justru yang cukup saya ingat adalah ketika saya, dalam perjalanan pulang, menembus hutan antara Juara - Tekek, selama 1.5 jam. Tanpa peta, hanya dengan berbekal pesan dari penduduk lokal untuk mengikuti jalur kabel listrik, sambil menggendong ransel yang tidak ringan, saya menerobos semak-semak, meniti tebing bebatuan, menaiki tangga, menyeberang sungai, dan sesekali mendaki pohon tumbang yang melintang di tengah trek. Saat itu, jelas, tidak ada seorang pun yang tahu di mana saya. Dan hal terburuk dari itu semua adalah, dari 2 HP yang saya bawa, tidak ada satupun yang berfungsi. Satu tidak bisa roaming international, satu lagi no pulsa. Hal yang saat ini saya sadari sebagai, a perfect stupidity. Thanks God, I made to get out from that jungle in one piece :)
Film ini juga menggarisbawahi pentingnya persiapan. Bahkan untuk kategori Aron yang sudah membawa sekian banyak barang (yang tidak mungkin akan terpikirkan oleh saya), ada saja sesuatu yang tidak ia siapkan dengan baik. Walaupun saya juga tidak akan berfikir bahwa kemungkinan saya membawa Swiss Army knife adalah untuk memotong tangan saya sendiri. Oh great, another touch the wood!!
End of the story, film ini membuat saya berfikir, benar-benar berfikir, jika suatu saat ada yang terjadi pada saya out there, will anyone realize that I was missing?
Images taken from here
Images taken from here

Thanks for leaving comment..