|
Perlahan kusesap teh lemon dingin yang tinggal separuh gelas itu sambil melayangkan pandangan ke tengah danau. Air danau di depanku tampak berayun tenang seiring sepoi angin yang kadang berhembus. Sesekali perahu wisatawan yang melaju pelan membuyarkan bayangan gedung-gedung yang mengelilinginya. Sudah tiga hari ini, kalau aku tidak salah hitung, langit begitu bersahabat dengan matahari. Bersinar terik dan membiru cantik tanpa sedikit pun ditingkahi serpihan awan putih. Dan di sinilah aku, di tepi City Lake, duduk manis di kursi malas di depan sebuah café, bernaungkan kamboja Jepang, menyecap segarnya Ice Lemon Tea dan lembut Tiramisu yang membelai lidah. Sabtu siang yang sempurna.
“Drrttt …”, getar lembut dari atas meja menyadarkanku dari lamunan. “Nesa”, gumamku melihat nama yang muncul di layar.
“Ya, Nes?”
“Ka, di mana lo? Pasti di kamar. Enak banget si ni anak, orang pada piket, dianya tidur”, rentetan ocehan dari seberang mau tidak mau membuatku menjauhkan HP dari telinga. “Ka? Kok diem si? Beneran deh ni anak baru bangun tidur.”
“Udah selesai ngocehnya? Lagian sapa yang tidur? Gue di Lake, Neng. Ada apa?”
“Hahaha, ga ada apa-apa si. Cuma mau nelpon lo aja. Eh tau ga si….?”
“Apaan?”, kejarku. Biasanya selalu ada gossip baru dari sebuah percakapan yang dimulai dengan kalimat itu.
“Dewo tadi ngajak gue pulang bareng….!!”
Seketika, keningku berkerut. “Pulang kantor ini maksudnya? Dewo tadi piket juga kan?”
“Iya, terus dia ngajak balik bareng gitu. Sayangnya gue masih ada kerjaan.”
“Jadi intinya sekarang lo masih di kantor dan Dewo sudah balik? Hahahaha”, susah rasanya untuk tidak merasa geli dengan cerita temanku satu ini.
“Gitu deh. Tapi yang jelas kan dia udah perhatian ngajakin gue pulang bareng. Plus pula, rumah gue kan di city, kaga searah dong ama rumah dia yang di urban site sono.”
“Aduh..elo tu ya.. Kan gue dah sering bilang, Dewo itu perhatian ke semua perempuan. Harus dikarantina deh orang seperti itu. Kecenderungan bikin orang patah hati aja. Dan lagi, setau gue Dewo emang ada rencana ke city hari ini habis piket. Wajar lah kalau ngajakin bareng.”
“Ah elo, sekali-kali biarin temen senang kenapa.”
“Gue cuma ga mau teman gue jatuh dari tempat yang terlalu tinggi. So, sebelum harapan elo ketinggian, sebagai teman yang baik, ya gue suruh turun lah.”
“Iya..iya. Udah ah, mo kerja lagi. Bye.. Met weekend Fierka.”
“Met kerja Nesa.” Tergelak aku ketika sempat kudengar umpat lirih Nesa dari seberang sana sebelum aku tekan tombol merah di HPku.
Dewo, perempuan mana di kantorku yang tidak kenal sosok laki-laki ini. Dewo ibarat seekor elang dengan kadar perhatian laksana induk ayam. Apalagi kepada perempuan-perempuan di sekelilingnya. Tidak hanya penampilan fisiknya yang di atas rata-rata, lebih dari itu dia punya kemampuan mendengarkan, memperlakukan dan memperhatikan perempuan seolah-olah dia satu-satunya perempuan di dunia. Tak kurang sekali dua aku memberitahunya akan hal itu, yang hanya dijawabnya dengan tertawa dan gelengan kepala tak percaya. Satu gerakan tubuhnya yang aku percaya bisa mengepakkan sayap kupu-kupu di rongga hati perempuan manapun.
Belum lagi sempat aku kembali menikmati suapan tiramisuku, ketika ekor mataku menangkap pendar di HPku tanda ada pesan singkat masuk. Dari nomer tak dikenal “Fierka…temen lo itu nyebelin tau ga si!! Dari gue jalan ma dia minggu lalu nyari camera, Dewo belum ada kontak lagi. Akhirnya tadi malem gue ajak jalan hari ini, dia bilang mau piket. Piket kalian itu bukannya cuma setengah hari? Eh, btw..ini Shinta. Ini nomer baru gue, yang lama hapus saja ya..”
Kunikmati sedotan terakhir dari gelas Ice Lemon Teaku yang kini benar-benar telah kosong, sebelum menulis balasan ke Shinta. “Fyi, Dewo memang piket hari ini. Dan emangnya dia ada bilang mau kontak elo lagi ato ada janji mo ngajak elo jalan gitu setelah minggu lalu?” Send.
Tak sampai satu menit pesan dari nomer yang sama kembali masuk. “Dia nggak ada ngomong apa-apa si, tapi kan tetap saja. Apa salah gue minggu lalu sampai tiba-tiba dicuekin gtu??”
Kuletakkan HP yang tadinya aku pegang. Kupijit ringan pelipis kepalaku yang tidak sakit. Mungkin memang masalahnya tidak selalu ada di Dewo. Karena mungkin bukan salahnya menjadi as charming as he is. Tapi tentunya tidak lantas aku bisa menudingkan tangan pada perempuan-perempuan itu yang begitu mudah tersentuh hatinya. Karena bagaimanapun aku tahu persis bagaimana perasaan perempuan-perempuan itu. Rumit. Kulirik HPku lagi, dan sejak kapan aku menjadi manager pribadi seorang Dewo Aryasatya? Kuhembuskan nafas panjang. Sepertinya memang aku harus bicara dengan Dewo lebih serius tentang ini.
“Dibagilah itu masalah. Berat banget kliatannya, sampai panjang gitu ambil nafasnya.” Sebuah suara di sebelah kananku tiba-tiba meyentakku dari lamunan. “Hallo Cinta. Udah lama nunggu?” Diikuti sebuah cengiran jahil yang sudah beberapa lama ini akrab denganku.
“Duh.. Ngagetin orang aja.” protesku, namun tak urung kusambut juga bibirnya yang mengecup ringan ujung bibirku. “Dah dari pagi, tu udah habis segelas.” rajukku.
“Hahahaha…dari pagi ya? Seperti aku ga tau kamu aja.” gelaknya. “Aku pesen dulu ya. Kamu mau minum lagi? Ice Lemon Tea?” ucapnya sambil menunjuk isi gelasku yang tinggal beberapa bongkah es batu dan seiris lemon.
“Boleh.” jawabku singkat kepadanya yang segera beranjak.
“Eh, Dewo! Carrot lime juice aja ya..” teriakku sesaat setelah melihat minuman favoritku di list menu.
“No sugar?” tanyanya dari seberang pelataran café yang segera kusambut anggukan kepala.
Kutatap langkahnya sampai dia menghilang di balik pintu café. Dan baru menyadari bahwa aku menahan nafasku. Efek terpesona yang masih saja aku alami meskipun bulan ini tepat setengah tahun aku dan Dewo memutuskan untuk jalan sebagai pasangan kekasih. Oh, ayolah..kau tak akan menyebutku munafik bukan?
# Pic taken from here
******************

w.o.w hebat :)
Makasih Meta... Just a piece of mind kok :D
serius na.. gw kog makin susah menebak isinya.. u encrypt pake apaan sih curcolnya
Serius ga kebaca??!? Udah gw balikin ke theme semula lho...