|
22.45
Dan jarum detik terus berdetak. Beberapa putaran lagi menuju Senin kurasa. Saat di mana aku seharusnya menutup mata dan memasuki tidurku.
Bukan satu hal yang mudah, ketika dalam terjagaku saja kau tak henti menarikan bayangmu di kepalaku. Apalagi katupan mataku.
Ya, kamu. Siapa lagi. Ah, atau haruskah ku sebut saja imagimu dalam kenanganku? Kenangan yang telah disunting oleh waktu.
Tak banyak memang. Karena tak banyak yang sudah kita lewatkan bersama. Tepatnya, tak banyak masa yang kau ijinkan untuk kulewatkan lebih banyak denganmu. Tapi tahukah kau, betapa lihai sang waktu merangkai cuplikan singkat kenangan itu menjadi menjadi tak sekadar masa lalu?
Pagi yang diawali dengan sembur gelakku melihatmu minum kopi tubruk beserta ampasnya, "Memang kenapa? Enak kok..", pembelaanmu menjawab gelengan kepala tidak percayaku.
Melewati siang di atas motor menembus jajaran jingga dedeaunan hutan karet yang sedang menyambut kemarau, "Seperti musim gugur ya", ucapku. "Bikin kotor", balasmu.
Atau tatkala senja, saat kita menatap bulatan surya di sela pohon kelapa. "Cantik, seperti di kartu pos.", ucapmu kala itu yang kujawab doa dalam diamku, "Waktu, bisakah kau turunkan kami di sini?".
Juga malam-malam, bersama bercangkir teh, setumpuk buku dan percakapan kita di sudut ruang itu.
Hei, tak perlu kau mengerutkan keningmu mengingat itu. Aku menyimpan semua kenangan itu untukmu. Kau hanya perlu memintaku memutarkannya, hanya untukmu. Di sebuah sore di ruang baca kita kelak mungkin? Sambil menatap surya yang mulai memudar, berteman secangkir teh untukku dan kopi tubrukmu.
Dariku,
Yang bersama waktu sedang menyunting masa lalu
* Ditulis untuk mengikuti #
Thanks for leaving comment..