|
"Itu, titik oranye di atas itu."
"Yang
mana?", mata saya menyapu hijau ilalang yang membentang seperti tak
berbatas.
"Itu,
di ujung kanan atas itu, sebelum deretan pinus." Porter kami menunjuk satu
titik oranye di tengah lautan hijau.
Glek..saya
menelan ludah.
"Itu..itu
kan jauh
banget. Itu pos tiga?"
"Bukan,
itu pos dua. Kan
kita saja belum sampai pos satu."
Saya
kembali menelan ludah. Kali ini mulai terasa pahit.
Beberapa jam sebelumnya
Terlambat 1.5 jam dari
rencana semula, mobil jemputan kami mulai bergerak dari bilangan Sweta, Mataram
menuju desa Sembalun, nol kilometer pendakian Rinjani kami. Perjalanan dari
Mataram ke kaki Rinjani kami tempuh selama hampir 3 jam melalui Pusuk, atau
lebih dikenal dengan sebutan Monkey
Forest . Berbeda dengan
rute Senggigi yang banyak memamerkan pemandangan garis pantai, jalur Monkey Forest
ini menawarkan pada kita pemandangan hutan dan err…monyet. OK, abaikan saja
informasi redundant ini.
Selepas perempatan
Bangsal, jalur Senggigi dan Pusuk yang bergabung ke arah timur, membuat sisa perjalanan
menjadi serba salah untuk saya yang didaulat duduk di depan sebelah sopir. Matahari
gan..matahari! Mau foto jalan, backlight. Mau tidur, panas. Mau melek saja,
silau. Untungnya (karena tidak ada perjalanan yang merugi), saya disuguhi
pemandangan kiri jalan yang cukup memukau sepanjang perjalanan. Laut biru dan
pasir putih. Breathtaking!
Menjelang beberapa
kilometer terakhir, rombongan kami dibagi 2 mobil. Sebagian mengikuti mobil bak
terbuka bersama dengan porter dan logistic, sementara saya dan 3 orang lagi melanjutkan
perjalanan sambil sarapan di mobil yang sama.
Interupsi!
Itu mobil plus sopir, pick up, logistic ama sarapan
bagaimana caranya bisa nongol begitu saja? Err…nanti saja lah ya saya ceritakan
di postingan terpisah tentang persiapan pendakian. Sekarang nikmati saja bagian
jalannya tanpa banyak tanya.
Seperti biasa, selepas
sebungkus nasi, didukung hawa pegunungan yang mulai berhembus, membuat saya
tidak lama bertahan membuka mata. Saya baru tersadar ketika mobil sudah
berhenti di depan sebuah bangunan kecil semacam kantor, yang ternyata adalah Balai
Taman Nasional Gunung Rinjani, Resort Sembalun. Setidaknya itu yang tertulis di
pagar depan.
![]() |
| Rinjani Center - Sembalun |
Pada umumnya, pendakian
Rinjani berawal dari tempat ini. Namun karena seperti biasa, hidup sering tidak
umum, sehabis mendaftarkan diri di sana ,
kami justru kembali bergerak turun. Menurut guide, kami akan mengambil jalan
pintas melewati kebun dan bisa menghemat 1.5 jam perjalanan. Ya, kami nurut aja
lah. Kalau bisa menghemat 15 jam perjalanan sebetulnya jauh lebih baik. *iket
ke ilalang*
Tak lama, kami
berempat bergabung dengan rombongan utama yang sedang mengemas segala logistic untuk
4 hari ke depan. Total rombongan kami hari itu 10 orang. Kami berenam, tiga
porter dan Rodi, seorang guide cilik yang sedang mengisi waktu sehabis ujian
nasional SMP.
Perjalanan awal
menyusuri ladang dan sedikit tanjakan perbukitan ternyata cukup menantang sebagian
dari kami. Belum lagi mencapai pos satu, ketika rombongan kami mulai terbagi
beberapa group. Beruntung, para porter yang menyertai kami sabar dan cukup
santai. Sembari menunggu kami, ada saja yang mereka lakukan. Sarapan, mencari
kayu bakar atau sekadar merokok sambil goler-goler sementara kami megap-megap
mencari nafas.
Benar saja, belum lagi
pos pertama, ketika nyali saya mulai dipertanyakan. Ketika untuk pertama
kalinya hamparan ilalang yang berbatas cakrawala itu membentang di hadapan
saya, ketika untuk pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala sendiri
betapa panjang perjalanan di depan saya. Dan ketika porter saya bilang, “Perjalanan
di savana ini sampai pos tiga itu baru awal. Masih mudah..”, saya hanya bisa
menelan ludah. Pahit.
Di
antara ilalang
Hampir seluruh
perjalanan dari pos satu ke pos dua kami habiskan di antara ilalang setinggi
dada. Jalanan tanah, meskipun cukup menanjak, sebetulnya merupakan medan yang mudah. Hanya saja,
terik matahari tengah hari dengan mudah menguras stamina kami.
Lebih dari tiga jam setelah
start, kami akhirnya mencapai pos dua. Matahari sudah cukup jauh tergelincir di
barat, saatnya untuk mengisi stamina dengan makan siang.
![]() |
| Pos Dua |
Salah satu dari
sedikit kemudahan yang ditawarkan oleh pendakian Rinjani adalah kita tidak
perlu memikirkan logistic dan konsumsi selama di perjalanan. Para
porter yang luar biasa ini juga merangkap sebagai juru masak handal. Menunya? Dengan
kenyataan bahwa we’re in the middle of nowhere, saya bisa bilang, menu makan
kami di sana
luar biasa. Sebut saja nasi goreng lengkap dengan ayam dan telur ceplok. Atau nasi
pulen plus cah sayuran. Atau yang paling simple untuk sarapan, roti bakar plus banana
pancake. Dan selalunya dilengkapi dengan nanas sebagai pencuci mulut. Belum cukup?
Teh panas atau kopi susu hangat selalu tersedia di manapun kami membuka camp. Ayolah,
isi kulkas saya di sini saja tidak pernah selengkap itu.
Perut kenyang, kantuk
datang. Sebelum itu terjadi, kami segera berbenah untuk melanjutkan perjalanan
menuju pos tiga. Perjalanan dari pos dua ke pos tiga tidak jauh berbeda. Sepanjang
mata memandang, hanya tampak hamparan ilalang. Bedanya, tanjakan-tanjakan mulai
tidak lagi bersahabat. Beberapa kali kami harus melewati jembatan kecil yang
menghubungkan dua tebing curam. Juga tidak sekali-dua kali saya harus berhenti
menghela nafas panjang menatap jalan di depan saya yang sepertinya tidak
berujung.
Langit mulai sejuk
ketika akhirnya Rodi, guide cilik saya berteriak dari depan, “Udah sampai pos
bayangan…”
What?! Baru pos
bayangan maksudnya?
Pos bayangan adalah
pos extra di antara pos dua dan tiga. Letaknya sebetulnya cukup dekat dari pos
tiga. Bahkan, atap birunya bisa kita lihat dari pos tiga. Hanya saja, karena medan yang makin
menanjak, jarak yang hanya selemparan kolor itu pun hampir memakan waktu 20
menit untuk saya eksekusi. Hingga akhirnya setelah sebuah turunan curam menuju
sungai yang mengering, saya melihat secercah cahaya para portersudah
mulai menurunkan logistic, yang bearti satu hal, pos tiga! *joget-joget di
pasir sungai*
Karena saya termasuk
yang paling awal datangnya dibanding yang lain (angkat-angkat alis), sembari
menunggu saya memutuskan mengikuti Pak Sailih, porter kami mengambil air. Di
mana Saudara-Saudara? Sebelum pos bayangan. Kampret!
Jadilah saya sore itu
menempuh double trip antara pos bayangan dan pos tiga. Belum lagi jalur ke
sungai yang curam, nyaris dengan kemiringan 60 ͦ. Namun, kesulitan itu terbayar. Mata air di sana berupa sungai yang
mulai mengering, dengan dasar batu vulkanik. Batuan vulkanik yang ditempa air
dan waktu menjadikan dasar sungai ini membentuk galur cantik. Ditambah lagi
gemericik air yang mengalir di antaranya. Satu-satunya hal yang saya sesali dari
perjalanan extra saya itu adalah saya tidak membawa kamera maupun HP.
Setelah semua botol
dan jerigen penuh, kami kembali ke pos tiga. And guess what, teman-teman yang
lain belum juga sampai di pos! Belakangan saya tahu kalau mereka
bersantai-santai di jalan sambil berfoto-ria. *ga terima
Seharusnya, dengan
rute dan waktu rencana perjalanan 4 hari 3 malam, kami bisa membuka tenda dan
bermalam di Plawangan Sembalun. Namun karena mengawali perjalanan dengan
terlambat, membuat kami mau tidak mau harus membuka tenda dan bermalam di pos
tiga hari itu.
Satu jam sebelum matahari
terbenam, dua dari tiga tenda kami sudah berdiri di Rinjani untuk pertama
kalinya. Eh, berdiri untuk pertama kalinya ever untuk tenda saya tepatnya.
Dan di sanalah, di
lembah sungai di antara dua tebing, di bawah taburan milyaran bintang, untuk
pertama kalinya kami tertidur di pelukan Rinjani.
***FIN***









Thanks for leaving comment..