|
Sebuah pagi di sebuah pulau in the middle of nowhere
A Journey to A & E
What??! Tapi apa boleh buat, karena dokter
di klinik tidak mau memberi obat, jadilah tengah malam itu, untuk pertama
kalinya saya mengunjungi UGD dalam kapasitas sebagai pasien karena gatel-gatel.
Ga terlalu keren, huh? I know.
Ngapain saja di A&E sampai jam 4
pagi? Pertama, menunggu test darah keluar. Karena tidak ada gejala-gejala
selain panas tinggi dan rash all over my body, dokter tidak bisa menyimpulkan
apa pun tanpa lab test. Sekitar 2 jam, hasil test darah dan ECG keluar. Semua
dalam range normal, kecuali tentu saja sel darah putih yang 4-5 kali dari
normal. Karena masih tidak jelas apa yang terjadi, dokter meminta saya untuk
X-Ray dan urine test. Maka menunggulah kami lagi sekitar 1 jam. Ketika hasil
X-Ray dan urine semuanya juga normal, bingunglah dokternya.
Akhirnya, setelah membekali saya dengan
resep dan surat pengantar ke outpatient clinic (untuk pemeriksaan lanjut 2 hari
kemudian), dokter membolehkan saya pulang. Apalagi mengingat, setelah 2 pil
paracetamol dan 2 kantung infuse, demam saya mulai turun ke 38°C.
Itulah kenapa saya bilang tadi saya
overexcited plus norak. Selain pertama kalinya saya ke UGD sebagai pasien, pagi
itu untuk pertama kalinya juga saya diinfus, ECG test, dan wandering around UGD
dengan kursi roda. What a story.
Bagian selanjutnya adalah bagian yang cukup
mendebarkan. Bayar bill. Dengan segitu banyaknya test dan penanganan tengah
malam di UGD, wajar lah kalau saya berfikir setidaknya akan merogoh dompet
sekitar 200 sampai 300 dollar. Apalagi sebelumnya, di klinik, yang hanya
memberi saya surat pengantar saja, menagih bill 60 dollar (masih tidak habis
pikir). Ternyata ketika bill keluar, saya hanya perlu membayar S$95 saja. Tidak
lebih dari Rp 700,000!
Belakangan, dari kuitansi, saya baru tahu
ternyata seharusnya total yang harus saya bayar lebih dari 200 dollar. Tapi ada
subsidi government sekitar 60% dari tagihan. Jujur, subsidi gov tadi sedikit mengejutkan
saya, karena status saya di negara ini yang hanya sebagai orang asing pemegang
visa migrant worker, bukan permanent resident.
Setelah dari kasir, saya menuju apotik
untuk mengambil obat. Tebak apa obat yang diresepkan oleh dokter saya pagi itu?
Yap, the one and only, a bunch of paracetamol. *ngerujak paracetamol
Sakit di negeri orang
(atau negeri sendiri)
Selama tinggal di Indonesia saya bisa
dibilang cukup jarang sakit. Well, pada dasarnya saya memang cukup jarang sakit
serius. Paling sering juga flu, itu pun kondisi terberat hanya saya alami 1-2
kali setahun. Atau maag, kalau ini walaupun cukup sering, biasanya saya bisa
menanganinya sendiri dengan resep andalan dari dokter saya, minum susu.
Karena pada umumnya dari company ada
medical support untuk dokter visit dan hospitalization, saya awalnya merasa
tidak terlalu perlu khawatir kalau sakit. Biasanya saya hanya perlu ke
klinik-klinik tertentu yang ditunjuk perusahaan, menunjukkan staff ID, dan that’s
all, biaya pengobatan dan konsultasi gratis. Sementara kalau datang ke dokter
di klinik yang di luar daftar yang ditunjuk, bisa claim sebesar $20 per visit. Nah,
masalahnya sekarang, sepulang saya dari A&E, saya masih harus beberapa kali
check up ke klinik rumah sakit (tidak ada dalam list company clinic). Yang bearti
setiap kali visit hanya akan bisa saya klaim $20, padahal untuk sekali
konsultasi dokter saja, bisa mencapai 40-50 dollar. Itu hanya konsultasi
dokter, belum obat dan lab test kalau ada.
Sementara dalam kasus saya yang tidak
terlalu jelas ujung pangkalnya, saya perlu beberapa kali ke klinik dan perlu test
darah untuk beberapa sample. Kalau saya tidak salah ingat ada lebih dari
selusin test darah yang dilakukan. Harga tiap test bervariasi antara beberapa
dollar sampai beberapa ratus dollar. Yak, beberapa ratus dollar yang tidak akan
tercover company insurance.
In the end, total jendral pengeluaran selama
saya “menikmati” cuti sakit seminggu di rumah itu lebih dari S$1000. Dan hampir
90% dari angka itu saya gunakan untuk sekian banyak test lab saja, bukan
treatment (karena ketidakjelasan penyakitnya). Angka yang harus saya sebutkan untuk
menggambarkan betapa mahal ongkos sakit di negara ini. Jujur, ketika membobol
tabungan sebesar itu, pasti ada rasa rela tidak rela. Antara “Gila!!” dan “Apa
boleh buat lah..”.
Moral cerita si, jaga kesehatan baik-baik. Kita
baru akan sadar betapa berharganya hidup kita ketika kita diminta untuk
membayar tiap detik kesempatan kita bisa bernafas atau tiap degup jantung kita
berdetak. Usahakan mempunyai dana darurat yang cukup untuk keadaan-keadaan yang
tidak terduga. Well, shit happened anyway.
Dan last but not least, usahakan untuk
punya asuransi kesehatan pribadi dan tidak tergantung pada asuransi perusahaan.
Minimal asuransi untuk kecelakaan dan rumah sakit. Asuransi jiwa mungkin bisa
jadi prioritas kedua, kalau Anda merasa bertanggung jawab akan hidup
orang-orang yang Anda cintai sepeninggalan Anda. Oh, saya bukan insurance
agent, bukan juga orang yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi. Saya hanya
orang yang merasakan leganya ketika tabungan saya kembali utuh setelah claim
asuransinya disetujui.
Yep, in the end bukan saya kok yang
membayar semua pengeluaran tadi. Semua dibayarkan kembali oleh asuransi
kesehatan saya sampai hitungan sen. Akhirnya, untuk pertama kalinya selama 1.5
tahun menjadi policy holder sebuah asuransi, saya merasakan manfaat dari apa
yang saya bayar tiap bulan.
Ngomong-ngomong, asuransi yang saya punya (dalam
kasus ini) adalah asuransi kecelakaan (accident insurance). Beberapa bulan
sebelumnya, mungkin sekitar awal tahun, saya sempat menyeletuk ke ibu saya, “Ngerasa
rugi ambil asuransi kecelakaan, orang aku ga bawa kendaraan sendiri. Kapan pakainya?”
Ibu saya langsung menyahut dengan sewot, “Mending
kamu bayar terus dan ga pernah pakai!! Orang aneh.”
Yah, so mungkin sakit kemarin itu cara
Tuhan menjawab pertanyaan saya.
***
Naaaa kalo kangen bisa di asuransikan gak?? Kangen banget ma kalian, suka cekikikan sendiri kalo ingat becandaan kita saat ngemper di depan takasimaya ato pas nunggu harpot di puter yang f jadi p (pasti lupa) dll....huaaaaaa...
eh aku ada gak ya asuransi kecelakaan?
Eh gw jg pernah tiba2 gatel jam 00.30. Muka smp bengkak. Tes alergi n ke dr ttp gk ktm seb
abnya. Alhasil tiap sakit gw mls ke dr. Tunggu aja bbrp hr sembuh sendiri.
Eh gw jg pernah tiba2 gatel jam 00.30. Muka smp bengkak. Tes alergi n ke dr ttp gk ktm seb
abnya. Alhasil tiap sakit gw mls ke dr. Tunggu aja bbrp hr sembuh sendiri.
@Erin: Sama. Akhirnya itu aja ga ketauan knapa..sampe sekarang. Masalahnya klo cuman gatel aja mungkin alergi..tapi pake demam tinggi yang bikin kuatir.
@yg anonymus: Kangen jangan diasuransikan..didatengin. Sini..nonton Harry Potter lagi.