|
Belasan laki-laki berwajah sangar tampak mengusung balok-balok kayu besar. Seorang dari mereka menyalakan api, tak lama kobaran api telah melumat balok-balok kayu kering tersebut. Di tengah-tengah mereka seekor kera putih dengan tangan terkungkung ke belakang ditarik ke arah api yang makin membesar. Tiba-tiba, kera itu memberontak lepas. Puluhan pengawal yang seharusnya memanggangnya hidup-hidup tak kuasa menahan kera yang mengamuk. Si kera putih yang menemukan kebebasannya makin tak terbendung, sambil loncat-loncat diambilnya beberapa kayu yang terbakar dan dibawanya berkeliling membakar semua yang dilewati. Api berkobar dahsyat menghanguskan atap-atap rumbia. Sengat hangat bahkan terasa dari tempat saya duduk.
Ya, itu adalah salah satu adegan dalam Sendratari Ramayana yang sempat saya saksikan awal September lalu. Pertunjukan ini digelar di panggung terbuka di belakang candi Prambanan. Untuk menuju ke sana, turun saja di terminal/pasar Prambanan, tepat di depan candi Prambanan. Dari Jogja bisa naik TransJogja dengan hanya 3500 rupiah. Dari pasar, berjalanlah kea rah barat, ke arah Jogja. Sekitar 50 meter, setelah melewati jembatan, beloklah ke kanan (ke arah utara) masuk sebuah gang. Kompleks pertunjukan ada tidak jauh dari pintu gerbang sebelah kanan jalan. Untuk jadwal pertunjukan lengkap bisa diperoleh di sini. Sayangnya, karena bulan Oktober Jawa sudah mulai memasuki musim hujan, maka setelah bulan ini pertunjukan di sana hanya akan kembali digelar tahun depan. Tapi jangan khawatir, selama musim penghujan, Sendratari Ramayana akan digelar di teater tertutup Trimurti.
Sampai di sini ada yang bertanya, Ramayana cerita apaan si? Cobalah baca di sini, tidak lucu kalau saya mengulang cerita yang sama. Versi singkatnya cerita ini mengisahkan Shinta yang diculik Rahwana dan perjuangan Rama mendapatkan kembali istrinya dari tangan Rahwana dengan bantuan pasukan kera yang dipimpin Hanoman, si kera putih. Kebaikan melawan kejahatan. Putih melawan hitam. Putih menang, kejahatan tertumpaskan. Keadilan berpihak pada yang benar. Shinta kembali ke pelukan Rama.
Terselip cerita di sana, seorang Kumbakarna, adik Rahwana yang meskipun menentang keras keangkaramurkaan kakaknya namun demi cintanya pada negara, dia rela gugur di medan laga. Bukan untuk membela kakaknya si Rahwana, melainkan demi membela tanah air dan bangsanya. My country, right or wrong. Juga kisah seorang Wibisana, adik Rahwana yang lain. Sama-sama tidak setuju dengan kelakuan kakaknya, ia memilih untuk berbalik memihak kubu Rama. Berjuang untuk pihak yang benar menurut dia melawan kakak dan negaranya sendiri. Pembela kebenaran atau seorang pengkhianat? Nilailah sendiri.
Intermezzo, bicara soal Kumbokarno, saking ngefansnya kami, saya dan ayah saya, dengan tokoh pewayangan satu ini (selain Kresna tentu saja), sebuah pigura besar berisi gambar Kumbokarna yang terpahat di kulit kambing siap menyambut siapa pun yang memasuki ruang tamu rumah orangtua saya.
Jujur, di luar sosok patriot Kumbakarna, saya pribadi tidak terlalu suka dengan cerita Ramayana. Saya lebih memilih Mahabaratha yang lebih memiliki banyak konflik dan pelajaran yang bisa dipetik. OK, tidak hanya itu sebenarnya, silakan bilang saya feminis, tapi saya paling tidak bisa terima dengan cerita ketika Rama berhasil kembali mendapatkan Shinta. Sebuah kesetiaan dipertanyakan Rama di sini. Kesetiaan Shinta selama dia disekap Rahwana. Bahwa selama itu ia masih tetap menjaga kesuciannya dari Rahwana. Maka untuk membuktikannya, Shinta rela melakukan pati obong, terjun hidup-hidup ke tengah kobaran api yang menyala. Jika ia masih suci, maka dewa-dewa akan melindunginya dari amuk api. Jika tidak, maka habislah riwayatnya.
Hello, apa kabar kepercayaan dalam cinta? Bahkan jikalau pun Shinta sudah tidak suci lagi karena paksaan Rahwana, bukan bearti Rama bisa seenaknya saja menyebut istrinya tidak setia dong! Pakai nyuruh orang nyebur ke api lagi. *Jiah..kok saya yang emosi gini* *Lap keringat*
Yah, begitu lah. Sekedar sentiment pribadi saya saja. Tapi terlepas dari sentiment tidak penting saya barusan, pertunjukan ini indah, layak dan patut ditonton. Berikut beberapa snapshot yang bisa ditangkap 200mm saya. Enjoy!
Penyambut di pintu gerbang | Laksmana |
Shinta dan Laksmana | Kidang Kencana |
Hanoman menerima cincin dari Rama | Hanoman, si kera putih |
Dayang-dayang Alengka | Rahwana |
5 tahun yang lalu perna liat ramayana ballet, bener2 keren ....
@Cumi_MzToro: Yoi. Banget. Pengen nonton yang 4 seri, tapi sayang waktu :D
Biar gak jauh2, dateng aja ke Mandira Baruga (Purawisata) buat nonton Ramayana Ballet disana. Udah 37 tahun lho Ramayana Ballet disana, performed nightly.
Detilnya: http://purawisatajogjakarta.com/facilities/en/VjQBMAx0xx0x/detail/ramayana-ballet-performance.htm