Jateng Trip: Ngafe Dengan Bau Kuda

Pagi belum lama lewat dari pukul tujuh ketika adik saya berpamitan ke kantor. Setelah pemilik kamar, yang terusir dari kamarnya sendiri malam sebelumnya, itu pergi, saya kembali ke alam mimpi. Tidak ada yang bisa mengalahkan damainya tidur seorang pengangguran ketika orang lain sibuk berkutat dengan pekerjaan *pukpuk bantal*. Dan kalau tidak ingat dengan petualangan baru yang menanti, saya dan teman saya mungkin tetap akan bergelung di atas kasur buluk milik adik saya sampai pemiliknya pulang.
Hari kedua rencananya kami akan menyusuri sebagian punggung gunung Ungaran, tepatnya ke kompleks Gedong Songo. Sekitar pukul 9, dari dekat gerbang UNDIP kami mulai perjalanan ke arah patung Pangeran Diponegoro mengendarai kuda. Heran, mengapa patung ini lebih terkenal dengan sebutan patung Kuda dari pada patung Pangeran Diponegoro? Apakah masyarakat kita jauh lebih menghargai kuda daripada pahlawan yang membela tanah air melawan penjajah? *tunjuk-tunjuk langit* Ah sudahlah, daripada saya mendapat tatapan bingung dari penduduk sekitar kalau saya menyebut patung Diponegoro, mending ikutan bilang patung Kuda. Tadinya, saya berfikir untuk jalan karena seingat saya, dari UNDIP sampai patung Kuda tidak jauh (ya lo naik mobil waktu itu Neng…molor pula!), ternyata 15 menit dalam angkot membuat saya tidak berhenti bersyukur. Apa jadinya saya tadi kalau memutuskan jalan kaki, sedangkan naik angkot saja selama itu?

Dari patung Kuda, kami harus berganti angkot ke arah terminal Banyumanik. Saya kurang yakin, apakah ini karena ketidaktahuan kami saja, atau memang mau tidak mau transportasi di Semarang benar-benar menyedot anggaran kami? *geleng-geleng* Dari Banyumanik, carilah bis tujuan Bandungan, karena biasanya tidak ada tulisan Gedong Songo di badan bis. Pastikan saja ke kondekturnya bahwa kita akan turun di pom bensin Sumowono (jalan masuk Gedong Songo). Perjalanan seharga 7000 rupiah ini menghabiskan waktu hampir 2 jam. Dan rekor saya sejauh ini untuk tidak tidur sepanjang perjalanan. Gimana mau tidur kalau sebentar-sebentar mesin bis menggerung protes tiap kali harus berjuang melewati tanjakan yang hampir 40 derajat kemiringannya? Yang ada hampir sepanjang jalan kami berdua liat-liatan sambil nyengir ngeri kalau-kalau bis tidak kuat mendaki. Alternatif rute bisa mengambil bis besar jurusan Jogja/Magelang/Purwokerto turun di pertigaan di Ambarawa. Dari sana lanjut dengan microlet kecil menuju Sumowono. Hanya saja, naik mricrolet ini perlu kesabaran ekstra, karena jalannya yang cukup lambat. “Bisa berhenti di tiap mulut gang itu Mbak” jelas kondektur bis Smg – Bandungan yang saya naiki kala itu.

Turun dari bis, kami disambut tukang ojek yang seketika bertanya “Mau boncengan semotor berdua aja Mbak?”. Mas-mas, itu pujian atau nyela? *insecure* Mengutamakan keselamatan diri dan ransel kami masing-masing, kami mengabaikan pertanyaan tadi dan memilih untuk menyewa 2 ojek. Pesan saya, abaikan saja rasa ngeri karena tukang ojek yang naik motornya serasa sudah janjian dengan raja neraka. Buka mata lebar-lebar dan nikmati pemandangan selama kurang dari 10 menit tersebut. Mulai dari hamparan kebun sayur yang diselingi dengan rumpun-rumpun mawar segala warna, sampai dengan pemandangan tak terhalang ke arah kota di bawah. Kami beruntung karena meskipun sudah memasuki bulan September, rupa-rupanya awan dan hujan masih belum berminat menjamah tanah Jawa. Maka tak pelak, hampir sepanjang perjalanan hamparan langit biru selalu menemani kami. 




Gedong Songo merupakan kompleks candi Hindu berjumlah 9 buah yang terletak di lereng gunung Ungaran. Dibangun wangsa Sylendra sekitar abad 9 Masehi, candi-candi tersebut tersebar cukup jauh satu dengan yang lain. Untuk pengunjung tersedia jalur setapak yang menghubungkan candi satu dengan yang lain mengikuti kontur pegunungan yang naik turun. Jangan tanya saya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi seluruh kompleks dengan jalan kaki. Lama lah yang pasti. Membayangkannya saja sudah membuat lutut saya pegal. Demi menghemat waktu dan tenaga kami yang sangat berharga, kami memutuskan untuk memanfaatkan penyewaan  kuda di sana. Tidak bisa mengendarai kuda pun tidak perlu kuatir, karena pemiliknya pun tidak akan mempercayakan kuda-kuda mereka begitu saja pada Anda. Akan ada satu petugas yang menuntun kuda sepanjang perjalanan. Perjalanan dengan menggunakan kuda mengelilingi kompleks candi memakan waktu sekitar satu jam. Untuk tarif penyewaan kuda, bisa dilihat di sini. Sewa kuda ini ada pros and cons-nya. Pros-nya jelas, tidak perlu susah payah menyiksa otot betis untuk menaiki tangga sekian banyak itu. Cons-nya, untuk orang yang bisa dibilang amatir urusan kuda, meskipun didampingi guide, tetap saja, naik kuda itu susah! Alih-alih menikmati pemandangan luar biasa atau mengabadikannya di kamera, tangan dan otak saya sibuk berfikir bagaimana cara bertahan hidup di atas mamalia berkaki empat ini. Ditambah satu lagi, kuda itu bau! Sampai-sampai, baju saya, yang sudah 2 hari tidak ganti dengan alasan penghematan, tidak lagi bau keringat. Berganti jadi bau kuda. *OK, kinda too much information here.

Di kompleks ini, tak hanya candi yang menjadi daya tarik utama. Dari puncak kompleks di sekitar candi ke 3 dan 4, tampak terhampar pemandangan tak terhalang ke arah jajaran gunung-gunung pulau Jawa. Sebut saja, Merapi, Merbabu dan jika beruntung siluet Lawu pun tampak samar nun jauh di tenggara sana. Pada musim liburan pengelola kawasan ini juga menghadirkan atraksi tambahan. Seperti ketika saat kami ke sana, yang masih termasuk libur lebaran, ada atraksi jathilan di dekat pintu masuk kompleks candi. Atraksi yang menurut saya sudah cukup langka untuk ditampilkan ini tampak benar-benar dilakukan secara professional (eh, ada gitu orang kesurupan secara amatir?). Menarik, seru dan niat lah pokoknya.
 Puas foto-foto dan menonton jathilan (mumpung di Indonesia #LagakLoo) kami beranjak turun. Nah, di atas ternyata tidak ada pos ojek Saudara-Saudara! Masa kami mo ngegelundung aja gitu ke bawah? Eh, kalau saya mungkin si #jleb. Rupa-rupanya meskipun tidak ada tulisan pos ojek tersurat, biasanya ada saja tukang ojek yang duduk-duduk di sekitaran warung makan depan kompleks wisata tersebut. Namun mungkin sedikit sulit untuk dikenali karena mereka tidak memakai tanda pengenal. Tips untuk mencari ojek di sana, cobalah pasang tampang butuh tumpangan, berlagak bingung toleh kanan-kiri, dan lebih meyakinkan lagi kalau Anda memegang papan bertuliskan “Perlu Ojek”. Repot? Teriak saja kalau begitu, “Ojeeeekkk”. Jika tetap tidak ada yang menghampiri selain pak Satpam karena Anda dianggap mengganggu ketertiban, ya apa boleh buat, tunggu sajalah ada tukang ojek yang mengantar pengunjung ke atas, jadi baliknya bisa membawa Anda turun. Eh ya, pastikan papan tadi masih Anda pegang, biar tukan ojeknya yakin Anda menunggu ojek, bukan siomay. #DilemparHelm. Atau jika ingin menghemat barang 10 ribu, jalan kaki turun sembari mampir-mampir ke kebun bunga dan sayuran sepanjang jalan sebetulnya bukan ide buruk (sumpah, ini serius).
Tujuan kami berikutnya adalah perpaduan antara trekking di perkebunan dan tempat makan siang. Kampoeng Kopi Banaran. Baru dengar? Sama. Teman saya perlu dua kali menyebutkan namanya agar saya bisa dengan benar menuliskannya di Google. Maklum, seperti biasa, tak satupun dari kami yang tahu bagaimana ke sana. Kampoeng Kopi Banaran itu merupakan salah satu kompleks Agro Wisata di Semarang, tepatnya terletak di tepi jalan Semarang – Solo km. 35, atau sekitar 1 km sebelah selatan terminal Bawen. Jika Anda dari Semarang, naik saja bis jurusan Solo/Salatiga. Atau jika dari Jogja/Magelang, naik bis jurusan Semarang, turun Bawen, kemudian ganti bis apa saja ke arah selatan. Hanya saja jangan heran jika Anda menjadi satu-satunya pengunjung yang turun dari bis kota, karena mayoritas pengunjung tempat ini membawa kendaraan pribadi (korban tatapan aneh Pak Satpam, entah karena kami turun dari bus, entah karena saya bau kuda).
Ada apa saja di sana, silakan check ke sini. Secara keseluruhan, saya cukup terkesan dengan tempat ini. Selain penataan restoran outdoor yang cukup apik, tampaknya management tempat ini mempunyai rencana jangka panjang yang cukup bagus. Misalnya saja, pengadaan kebun buah-buahan local, pengadaan satu area kebun karet (di tengah-tengah kebun kopi) untuk ATV dan pembangunan sebuah penginapan kecil di atas bukit. Dari sana terhampar jelas Rawa Pening dari kejauhan. Satu lagi, tempat ini saya bilang ramah pengunjung. Untuk masuk ke kompleks café ini, pengunjung tidak diharuskan makan di café. Misalnya saja, jika hanya hendak berkeliling kebun atau sekedar mengambil foto Rawa Pening dari atas. Oh ya, satu lagi, makanan di sini enak, no need to mention kopinya. Ciamik.




Jika Anda memutuskan untuk turun ke Semarang dari tempat ini menjelang malam, pastikan menumpang bis dari Solo (kalau mereka mau berhenti tentu saja). Pengalaman kami, hanya untuk tujuan ke Ungaran saja, dengan menumpang bis kecil kami harus beberapa kali dioper dengan seenaknya ke kendaraan lain. Yah, hanya satu dari sekian pengalaman bertransportasi massal di negara tercinta kan? *sigh*

***
0 Responses

Thanks for leaving comment..