|
Pelan-pelan aku masukan buku gambar dan crayon yang aku pakai menggambar di pelajaran terakhir tadi. Bukannya aku tidak mau cepat-cepat pulang. Aku bahkan sudah membayangkan pudding coklat yang dijanjikan ibu buatku tadi pagi. Hanya saja aku malas pulang bareng teman-temanku yang terlihat masih bergerombol di depan pintu kelas itu. Mereka pasti sedang membicarakan pengambilan raport besok. Topik pembicaraan yang sedang ingin aku hindari saat ini.
“Ning, ndak mau pulang kamu? Pulang bareng yuk..” Ayu, salah seorang dari mereka akhirnya menyadari aku masih di sini.
“Iya. Ini lagi masukin buku”. Kuhela nafas panjang sambil berjalan ke arah mereka. Sepertinya aku memang tidak lagi punya alasan untuk menolak ajakan mereka, apalagi jalan pulang kami memang searah. Segera ku menyusul mereka dan mengikuti mereka dari belakang.
“Nek aku, bapak sing ambil raport besok. Malah Bapak sudah bilang, mau beliin aku es dawet di pinggir pasar itu pas pulangnya. Kowe Yu? ” suara dari Lastri, sang juara kelas semester lalu. Seperti yang aku takutkan, mereka sedang membahas pembagian raport besok. Tiap semester, sekolah memang meminta orangtua kami untuk datang mengambil raport. Selain untuk mengambil raport anak-anaknya, waktu seperti ini kadang juga digunakan sekolah untuk bersilaturahmi dengan wali murid. Surat undangan sendiri sudah dikirim seminggu sebelumnya supaya wali murid menyiapkan diri.
“Ning? Ning…?”
“Eh dapa?” aku lihat semua mata melihat ke arahku.
“Eh dapa?” aku lihat semua mata melihat ke arahku.
“Ealah, malah ngalamun ki bocah. Kesambet lho..” Ayu tertawa disambung yang lain.
“Apa tho?”
“Itu tadi Ayu nanya, mbesok raport kamu sing ngambil siapa?” Nanda, gadis ayu pendiam itu menjelaskan karena melihat ekspresi mukaku yang kebingungan.“Ehm..ndak tau. Mungkin ibu” jawabku pelan. “Eh, aku lewat situ ya. Lupa ada yang perlu dibeli di warung mbah Narto, titipan ibu tadi pagi. Yok duluan, sampai besok.”
Segera aku berjalan menjauh dari mereka sambil menunduk. Biarlah berjalan sedikit memutar, asal ndak ada lagi pembicaraan itu. Aku bukannya ndak mau membahas pembagian raport karena nilaiku jelek atau kuatir ndak naik kelas. Aku bahkan yakin masih bisa ada di tiga besar seperti biasa bareng Lastri dan Nanda. Aku cuma malas dengan pertanyaan terakhir mereka yang selalu kembali menanyakan mengapa bapakku tidak pernah datang ke acara sekolah. Sebenarnya aku juga tidak masalah mau siapa yang mengambil raport, wong ndak ada bedanya juga. Asal ada yang ambil itu sudah cukup. Bahkan kalau ibu sibuk, kadang simbah atau Lik Nar yang ambil. Tapi kadang ya pengen seperti anak lain yang diambilkan bapaknya, sementara tiap kali aku minta ibu biar bapak saja yang ambil, jawabnya selalu saja sama.
“Assalamualaikum..”“Waalaikum salam. Sudah pulang Ning? Ganti baju, terus zuhur sana. Ibu sudah siapkan makan siang di lemari makan. Ada juga pudding yang kamu pesen tadi pagi.” Suara ibu menjawab dari kamar.
“Nggih Bu” jawabku.
Selesai solat, aku hampiri ibu yang sepertinya sibuk dengan jarum jahit dan baju di kamar. “Buk..” panggilku.
“Nopo nduk? Sudah makan?” jawabnya sambil menggeser duduknya, member tempat untukku duduk.“Besok disuruh ambil raport di sekolah Bu..”
“Iya Ibu tau. Lha ini sedang njahit kancing baju yang mau ibu pakai besok. Malah ndak tau lho klo kancingnya lepas satu. Untung tadi lihat pas nyetrika” ujarnya geli sambil kembali serius dengan jarumnya.
“Boleh ndak Bu, kalau Bapak saja yang ambil?" Ibu meletakkan baju yang dipegangnya dan memutar badannya menghadapku. "Ada apa tho?"
"Mboten nopo-nopo. Hanya pengen saja sekali-kali Bapak yang ambil."
"Kamu kan tahu Bapakmu sibuk. Ndak mungkin ke sekolahmu besok. Lagi pula ndak papa kan kalau Ibu yang ambil. Besok Ibu saja yang ambil ya?" bujuk ibu sambil mengelus puncak kepalaku.
Lidahku kelu. Dalam diam kuanggukkan kepalaku. Sambil menunduk kutinggalkan kamar ibu ke arah dapur. Dari ekor mata aku sempat melihat ibu menyeka air matanya.

Aku tidak pernah tega melihat kaca di mata Ibu kalau aku mulai mempertanyakan Bapak. Mungkin karena itu juga aku sudah lama berhenti menanyakan mengapa Bapak tidak bisa tinggal bersama kami setiap hari seperti bapak teman-temanku yang lain. Mengapa terkadang di hari lebaran aku dan ibu hanya pergi solat Ied berdua. Dan juga aku tidak pernah mampu bertanya pada Ibu mengapa ada bisik-bisik lirih Yu Narti, Lik Sar, dan tetangga-tetanggaku yang lain, yang bilang kalau ibu itu wanita penggoda suami orang, istri kedua. Yang aku tahu Ibu sayang sekali sama aku, dan mungkin Bapak juga.
"Mboten nopo-nopo. Hanya pengen saja sekali-kali Bapak yang ambil."
"Kamu kan tahu Bapakmu sibuk. Ndak mungkin ke sekolahmu besok. Lagi pula ndak papa kan kalau Ibu yang ambil. Besok Ibu saja yang ambil ya?" bujuk ibu sambil mengelus puncak kepalaku.
Lidahku kelu. Dalam diam kuanggukkan kepalaku. Sambil menunduk kutinggalkan kamar ibu ke arah dapur. Dari ekor mata aku sempat melihat ibu menyeka air matanya.

Aku tidak pernah tega melihat kaca di mata Ibu kalau aku mulai mempertanyakan Bapak. Mungkin karena itu juga aku sudah lama berhenti menanyakan mengapa Bapak tidak bisa tinggal bersama kami setiap hari seperti bapak teman-temanku yang lain. Mengapa terkadang di hari lebaran aku dan ibu hanya pergi solat Ied berdua. Dan juga aku tidak pernah mampu bertanya pada Ibu mengapa ada bisik-bisik lirih Yu Narti, Lik Sar, dan tetangga-tetanggaku yang lain, yang bilang kalau ibu itu wanita penggoda suami orang, istri kedua. Yang aku tahu Ibu sayang sekali sama aku, dan mungkin Bapak juga.
****************************
Note: Terlepas dari nilai agama, halal haram dan boleh tidak, masalah poligami kerap kali tidak hanya berbentur pada kata adil dan tidak. Poligami tidak seharusnya hanya dilihat dari kacamata laki-laki dan perempuan yang melakukannya, tapi juga dari sudut pandang seorang anak yang masih belum mampu mencerna dengan logika kecilnya.
Thanks for leaving comment..