|
Empat tahun yang lalu, tepatnya di bulan Oktober, saya tercengang di ujung sebuah escalator. Tepat di depan saya menganga sebuah ruangan raksasa di perut bumi. Tidak berlebihan kalau saya menyebut itu sebagai bunker terbesar yang pernah saya masuki. Oke, sebenarnya saya juga belum pernah masuk ke bunker yang sebenar-benarnya. Tapi tetap saja saya membaptis Dhoby Ghaut MR T station, tempat hall bawah tanah itu berada, sebagai yang terbesar. Tidak hanya besar, ruangan itu juga terletak jauh di dalam tanah. Kala itu saya tidak tahu persis berapa dalamnya.
Itu empat tahun lalu. Mengikuti perkembangan kebutuhan sebulan terakhir ini saya menjadi warga tidak tetap (karena hanya siang hari) daerah yang Singaporean sebut dengan city. Di Bras Basah Rd tepatnya. Dan karena alasan kepraktisan saya terkadang memilih naik MRT circle line dari Bras Basah MRT untuk perjalanan pulang. Pertama kali masuk, perasaan saya mengatakan bahwa MRT ini, meskipun kecil, dibangun jauh lebih ke dalam bumi dibandingkan Dhoby Ghaut. Entah memang lebih dalam atau perasaan saya saja karena MRT ini jauh lebih kecil, saya kurang begitu tahu.
Hingga kemarin saya baca artikel di Today newspaper (yang saya jadikan ide judul tulisan ini) yang mengulas tentang stasiun-stasiun MRT terdalam yang ada di Singapore. Dan ternyata benar, Brash Basah MRT adalah MRT terdalam nomer 2 setelah Promenade MRT, dengan kedalaman 35 meter. Sedangkan Dhoby Ghaut MRT “hanya” 26 meter.
Keunikan Bras Basah MRT tidak hanya terletak pada betapa dalam stasiun MRT ini dibangun, tapi juga konsep arsitektur di dalamnya. Dengan balutan batu alam berwarna hitam sebagai dinding dalam, kesan pertama yang tertangkap ketika memasukinya adalah gelap. Ditunjang dengan penerangan yang kurang, yang memang disengaja, dan jumlah lalu lalang orang yang tidak terlalu padat melengkapi kesenyapan di ruangan stasiun ini. Kemungkinan besar interior semacam ini sengaja diberikan untuk membuatnya menyatu dengan bangunan yang berdiri diatasnya, yaitu Singapore Management University.
Namun kegelapan itu akan berakhir ketika memasuki area dalam MRT. Maksud saya setelah kita tapping in kartu. Tepat diatas escalator pertama ada sebuah atap kaca yang membiaskan cahaya dari luar. Kejutan lain, ketika menyempatkan untuk mengamati lebih teliti, ternyata atap kaca itu adalah dasar kolam besar yang memang ada di halaman Singapore Management University, berseberangan dengan Singapore Art Museum. Saya tidak mau membayangkan apa jadinya klo ada yang iseng melempar batu ke dalam kolam, walaupun memang kaca di dasarnya anti pecah.
Kembali ke dalam stasiun. Masih di escalator pertama, di bawah atap kaca itu melintang beberapa pipa silinder besar berwarna hitam. Saya kurang tahu juga difungsikan untuk apa pipa-pipa raksasa ini. Menurut keterangan itu merupakan salah satu penyokong bangunan (maaf untuk keterangan yang sangat awam arsitektur ini).
Bras Basah MRT merupakan salah satu MRT yang dibangun di daerah historical Singapore. Banyak tourism spot yang bisa dilihat hanya selemparan batu dari pintu keluar stasiun ini. Sebut saja Singapore Art Museum, Singapore National Museum, Bras Basah Complex, Chijmes dan Fort Canning Park.










Ngomong2 tentang Dhoby Ghout, kesan pertama kita ke MRT station itu sama, Mba ..
Aku ternganga2 pas sampe di dalamnya, sampe2 ketinggalan MRT .. Hahahaha ..
Eh, kok jadi pengin ke Singapore lagi ya ..
Kalo kesana beneran, temenin lho yaaa .. ^^ v
Tapi itu stasiun makin lama makin kecil kok Zou..ato kita di sini yang makin biasa liat hehehe...
Yuks mari sini..mumpung aku masih bertengger manis di Sg... ^^