Bakda Kupat

              Sudah setahun aku sejak terakhir aku pulang ke rumah. Ada yang berubah. Pagar itu tidak lagi papan kayu coklat tanpa gerbang. Beton kokoh bercat abu-abu hitam putih berdiri megah menggantikannya. Pasti Mbak Na yang punya ide, warna-warna sederhana itu memang favoritnya. Coba kalau aku yang diminta pendapat, pasti aku minta pagar itu dicat merah muda. Haha.. 
              Ternyata tidak ada lagi yang berubah selain pagar itu. Pohon mangga dan rambutan di depan rumah masih setia melambai-lambaikan dahannya menyambutku. Juga tanaman hias Mama yang menghijau di teras yang setengah jadi itu. Ah, Mama... Belum berubah juga kesukaannya akan tanaman hias tanpa bunga itu. Mulai dari suplir, palem, lidah mertua, dan tidak kurang dari setengah lusin gelombang cinta. Hanya anggrek Papa dan melati Mbak Na yang sedikit memberi sentuhan beda rumah ini. Coba aku bisa ikut berkebun seperti mereka, pasti aku penuhi halaman rumah ini dengan mawar dan kenanga. Juga kamboja. Tapi bukan kamboja putih seperti di kuburan. Bosan.
              Aku bergerak pelan mengitari rumah. Rumah tampak sepi seperti biasa. Entah ke mana lagi kedua adik cowokku. Sudah terlalu lama aku tidak lagi bisa mengikuti ritme hidup mereka. Mbak Na, kakak perempuanku satu-satunya itu jangan lagi ditanya. Aku hanya sempat melihatnya persis setahun lalu. Sedangkan aku sendiri, hanya kembali ke rumah ini saat bakda kupat seperti ini. Sejak..ah entahlah. Aku sudah tidak lagi menghitung waktu. Tidak ada bedanya untukku kan?
              "SShhhhhtttt..." desis tertahan di belakangku membuatku menolehkan kepala. Seekor kucing hitam putih tampak memandang tajam dari balik pot besar itu. Punggungnya melengkung dengan semua bulu-bulu berdiri. Tak lupa dia keluarkan cakar dari semua kakinya. Dan juga seringai taring yang mendesiskan suara tadi. 
Aku tersenyum.
"Booooo.." kagetku pelan kepadanya. Sontak dia lari tunggang langgang entah kemana. Hihi..kucing..masih saja makhluk paling sensitif di muka bumi. Itu pasti salah satu kucing piaraan Mama. Tahun lalu belum ada. Aku belum pernah melihatnya. 
              Segera ku hampiri pintu samping yang langsung menghubungkan halaman dengan dapur. Tak sabar aku cicipi ketupat buatan Mama. Meskipun pintu besi itu tertutup rapat, tak perlu repot-repot aku mengetuknya. Ini kan rumahku sendiri. Sebenarnya tak repot juga aku membukanya. Buat apa membuka pintu kalau kamu bisa menembusnya? Yah..sebetulnya aku bisa saja menerobos masuk dari sisi manapun rumah ini. Tapi sepertinya jauh lebih etis kalau aku lewat pintu. Manusia suka hal-hal manis seperti itu kan?
              Seperti aku duga, Mama sedang memasak sesuatu di dapur. Perhatianku langsung tertuju ke atas pintu. Yummy..Mamaku memang paling jempolan. Setiap tahun tak pernah terlewat dia menggantung ketupat di atas pintu. Seperti tak mau rela anak perempuan kecilnya ini mencari-cari ketupat sisa di tempat sampah. Hihi..padahal kalau di rumah tidak ada ya aku cari rumah lain. 
              "Matur suwun Ma..Adik pulang dulu ya..Lebaran tahun depan ke sini lagi." bisikku pelan sambil melayang pergi. Sempat kulihat Mama sedikit bergidik.


#Sori Dik, ndak bisa bantu Mama nggantung kupat di pintu tahun ini..#


**Note: Ada kepercayaan di sebagian Jawa Muslim, setiap Bakda Kupat (Lebaran Ketupat) yang jatuh seminggu setelah Idul Fitri, arwah anak yang meninggal saat bayi akan pulang dan ikut merayakan makan ketupat. Untuk itu, setiap keluarga yang mempunyai anak yang meninggal saat bayi akan menggantung ketupat di semua pintu masuk rumah. Menurut kepercayaan, jika tidak dilakukan maka arwah anak kecil tadi akan mencari-cari ketupat sisa di tempat pembuangan sampah.
0 Responses

Thanks for leaving comment..