|
Kinabalu. Percayalah,
kota ini tidak terlalu spesial untuk saya. Meskipun seminggu lalu adalah kali
kelima saya menghabiskan beberapa hari di kota berjuluk "City Below The
Wind" sejak tiga tahun terakhir. Hanya saja, saya selalu menganggap
perjalanan saya sebelumnya ke Borneo utara ini seperti unfinished
mission. Mungkin karena setelah sekian banyak itu, tidak satu kali pun saya
berkesempatan untuk menginjakkan kaki lebih tinggi dari 1563 meter di atas
permukaan laut. Mengunjungi Kinabalu tanpa mendaki gunung di selatan kota ini
sama seperti menyambangi Singapore tanpa ke Merlion, atau menapak Jogja tanpa
melenggang di Malioboro.
So,
di sanalah saya hari Kamis jam 7.30 pagi itu. Tidak jauh dari Kinabalu Park
Headquarter. Terburu-buru gosok gigi dan cuci muka di hostel murah seharga MYR 30 yang
saya temukan malam sebelumnya. Mandi? Ah, toh saya baru saja mandi jam 1 pagi
tadi. Bukan catatan hostel paling murah sebetulnya, tapi untuk kenyamanan satu
kamar tanpa perlu berbagi, plus kenyataan bahwa saya tidak punya banyak pilihan
tengah malam sebelumnya, Mountain View Hostel ini tidak terlalu buruk. Setelah
meminta pengurus penginapan untuk membuatkan saya omelet telur untuk sarapan,
mulailah saya menyandang ransel dan berjalan ke HQ yang hanya berjarak 5 menit
untuk secara resmi mendaftar diri sebagai salah satu pendaki hari itu.
Bahkan sebelum dimulai, saya tahu hari itu akan menjadi hari yang panjang
untuk saya. Sangat panjang.
Changi – LCCT – Tawau:
Sehari Sebelumnya
Sekian
banyak catatan saya tentang Kinabalu ternyata tidak membuat saya makin cerdas.
Alih-alih mengambil rute 88 km dari Kota Kinabalu ke Kinabalu Park, saya
memutuskan memulai perjalanan darat dari Tawau. Yang berarti 467 km harus saya
habiskan di bis. Tidak perlu bertanya kenapa, yang pasti rute aneh itu
setidaknya membuat saya merasakan menginap semalam di LCCT dan menikmati
asyiknya menyusuri jalanan Tawau di bawah terik matahari khatulistiwa yang naudzubilah panasnya.
Kalau cuma transit beberapa jam di LCCT Kuala
Lumpur, saya cukup sering. Tapi kalau betul-betul menginap semalaman, baru
kemarin saya mengalaminya. Saya yang landing di LCCT tengah malam harus
menunggu 6 jam sampai diperbolehkan masuk ke ruang tunggu keberangkatan untuk
penerbangan selanjutnya. Selama itu, saya hanya bisa menunggu di tempat checkin bersama ratusan penumpang transit
lainnya. Jujur saya bilang, bandara low-carrier
ini bukan tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan malam. Ramah, tapi tidak
menyenangkan. Terbatasnya jumlah tempat duduk di tempat checkin membuat satu-satunya kesempatan saya untuk menyelonjorkan
kaki saat itu adalah ketika saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak yang
lain, tidur di lantai berbantalkan ransel berselimut pashmina. Not bad.
Berangkat tepat waktu dari LCCT, pesawat saya
sudah berada di wilayah udara Borneo ketika jam menunjukkan pukul 9 pagi. Dari mana
saya tahu kalau saya sudah di atas pulau Kalimantan? Karena tepat di sisi kiri pesawat
saya, menjulang megah puncak gunung yang rasanya begitu saya kenal. Gigi geligi
puncak gunung Kinabalu. Tinggal 50 menit lagi sebelum akhirnya saya mendarat di
Tawau International Airport.
Bandar udara Tawau terletak jauh di sebelah timur
kota. Untuk mencapai kota, salah satu pilihan adalah dengan menggunakan taksi
seharga MYR 100. Atau, untuk pelancong dompet tipis macam saya, bisa
menggunakan shuttle bus dengan hanya
MYR 10 saja. Bus berwarna kuning cerah ini seingat saya hanya melayani 4 kali
rute bolak-balik airport-kota. Dari bandara jam 9.00, 10.30, 14.00, 16.30. Jadi
demi menghemat beberapa lembar ringgit di dompet ada baiknya mempertimbangkan
jadwal shuttle bus ini jika berkunjung ke Tawau.
| Puncak Kinabalu dari AK5744 seat 19A |
Saran dari saya, jika tujuan satu-satunya Anda di
kota ini adalah terminal antar kota Sabah, pastikan Anda turun dari bis 1 sampai
2 persimpangan setelah masjid kota. Apalagi kalau Anda sampai di kota ini
tengah hari bolong. Karena berjalan dari masjid kota sampai di terminal di
bawah terik matahari menyengat mungkin bukan pilihan yang menyenangkan. Tapi kalau
tujuannya memang jalan-jalan iseng, cobalah menyusuri jalan di depan masjid
hingga tembus ke belakang terminal. Jalan di selatan kota ini cukup memanjakan
mata karena terletak tepat di pinggir pantai. Bukan pantai yang menawan, tapi lumayan
lah untuk sekedar cuci mata sambil menunggu jam keberangkatan bis.
Ada beberapa operator bus dari Tawau ke Kinabalu
Park HQ. Saya akhirnya memutuskan naik
bis Ali Topan. Tidak ada pertimbangan khusus selain jam keberangkatan bis rute
Tawau-Kota Kinabalu ini cocok dengan jadwal saya. Tepat seperti jadwal, kami
mulai bergerak dari Tawau jam 2 siang.
1563 meters above sea level -
Midnight
OK, dari titik ini saya ingin berbagi tentang
kebohongan internet. Lihatlah dulu peta di bawah. Point A adalah Tawau. Point B
adalah Kota Kinabalu, sedangkan lingkaran merah di sana adalah Kinabalu Park HQ.
Di titik ini, satu-satunya informasi akurat yang saya tahu tentang rute saya adalah
jauh. Tebaran informasi di internet menyebutkan bahwa rute Tawau - Kota
Kinabalu bisa ditempuh selama 8 jam. Dan karena saya tahu persis KK-HQ itu 2
jam, maka tidak sulit untuk saya simpulkan bahwa saya akan sampai di HQ tidak
lebih dari jam 8 atau 9 malam. Fine, it’s
not a big deal. Saya bahkan masih bisa membayangkan wangi dinner yang akan saya santap di warung
makan depan HQ. (Dan sekarang dengan melihat rute ini saya sadar betapa cacatnya estimasi jarak saya.)
Kenyataannya, jangankan sampai HQ jam 8 malam,
ketika jam menunjuk angka 9 saja saya baru saja beberapa miles meninggalkan
Beluran. Berhitung cepat, saya perkirakan saya masih punya waktu setidaknya 2
jam lagi sebelum memasuki Ranau. Waktu yang saya gunakan dengan sebaik-baiknya
untuk tidur (lagi) tentu saja, walaupun taruhannya adalah saya terbawa sampai
Kota Kinabalu. Terbangun tepat sebelum
memasuki Ranau, saya tidak berani memejamkan mata lagi, karena saya yakin Ranau-HQ
hanya akan ditempuh sekitar setengah jam.
![]() |
| Road Trip Route |
Kali ini sesuai perhitungan, hampir tengah malam
ketika bis yang saya tumpangi akhirnya berhenti di pintu masuk Kinabalu Park
Headquarter untuk menurunkan saya. Sendirian.
Lega? Hmm…ya dan tidak. Ya, karena akhirnya saya betul-betul
bisa sampai di HQ sebelum pagi, dan tidak, karena saya belum punya tempat
menginap malam itu. Tidur di alam terbuka bukan pilihan bijak karena saya tidak
membawa sleeping bag dan saya bisa
pastikan udara fajar yang dingin akan menggulung saya dalam beberapa jam saja. Satu-satunya
yang bisa saya lakukan adalah bertahan pada rencana sebelumnya, mencoba
peruntungan pada beberapa penginapan murah di sana. Banyak keberuntungan
mungkin, karena saya yakin harus menambahkan beberapa gedoran di pintu untuk
membangunkan penjaga penginapan tengah malam itu.
Maka mulailah saya berjalan ke utara, karena saya
tahu di sana ada Hostel Bayu, tempat saya menginap di April 2010 lalu. Mungkin
ada 200 meter saya berjalan, ketika saya menyadari bahwa bangunan yang tadinya
saya pikir Hostel Bayu itu telah berwujud reruntuhan. Hanya sisa beberapa
tembok dan sebuah buldoser kecil di sana. Jalan lebih ke utara hanya
menjanjikan kegelapan yang sesekali diterangi lampu bis malam dan truck-truck
besar.
Sambil mengutuk diri sendiri saya kembali ke arah
HQ. Harapan saya kali ini jatuh ke warung makan depan HQ, walaupun saya tahu,
tempat makan sederhana itu tidak mempunyai kamar-kamar untuk disewakan. Setelah
menakut-nakuti penjaga warung makan yang sedang menonton TV dengan ketukan saya
di jendela, saya mendapat kepastian bahwa satu-satunya harapan saya malam itu adalah
menginap di Sutera Sanctuary di HQ. Peluang terakhir saya untuk tidur nyenyak
dan sekaligus peluang yang paling saya hindari. Mengapa? Karena jelas saya
tidak menempuh rute gila, demi berhemat beberapa puluh ringgit dengan promo flight,
hanya untuk berakhir di penginapan yang mahalnya luar biasa ini. Saya belum
tahu persisnya kala itu karena saya sengaja tidak mencari tahu.
Dengan enggan saya menggendong ransel saya
menaiki tangga HQ. Kali ini saya tidak perlu menggedor atau menakut-nakuti
siapapun, karena di meja resepsionis tampak petugas jaga yang cukup ramah
menerima anak ilang di atas gunung tengah malam ini.
“Hello Miss, boleh saya bantu?”
“Hi, I’ll climb tomorrow. Do you still have a dorm
for tonight? For one person only.”
Setelah beberapa kali membolak-balik buku yang
sepertinya adalah buku tamu, dia menggeleng pelan, “Sorry, the dorm is fully
booked. Tapi kalau bilik private untuk 4 orang, masih ada kosong. Saya boleh
bagi kita Malaysia rate saja.”, penjelasannya panjang lebar dalam bahasa Melayu aksen Sabah yang menyebut "kita" sebagai kata ganti orang kedua. “Berapa semalam?”
“With breakfast jadi 325 ringgit.”, mendengar
angka itu air muka saya pasti berubah menjadi sangat memelas sampai-sampai dia
merasa harus menambahkan, “Kalau tanpa breakfast boleh jadi 250 ringgit sahaja.”
Mampus. Dengan hanya 500 ringgit tunai di tangan,
saya bahkan tidak akan bertahan sampai besok pagi kalau saya ambil kamar itu,
dengan atau tanpa sarapan. Masih dengan setelan tampang memelas yang sebetulnya
tidak perlu, saya bertanya, “Boleh bayar dengan kredit card tak?”
“Boleh.”
Kenyataan bahwa saya tidak perlu menyerahkan uang
tunai saya yang tidak seberapa itu pasti tidak banyak mengubah air muka saya
karena belum sempat saya mengeluarkan plastik sakti itu dari dompet ketika cowok
resepsionis tadi kembali berkata, “Atau kita turun saja ke depan, lepas tu
belok kiri. Ada penginapan murah di sana. Lima menit saja jalan kaki. Mungkin
30 ringgit saja.”
“Really? Tak jauh kah? Saya tak ada tengok rumah
tadi waktu lewat sana.”
“Dekat saja. Turun depan itu, jalan ke kiri. Tak
payah cross street. Rumahnya sedikit di atas dan mungkin sudah gelap. Tapi saya tidak yakin ada bilik kosong.
“Well, may be better I try my luck then.”
Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada penunjuk jalan saya itu, tanpa membuang waktu saya segera kembali turun. Menyusuri pinggiran highway tanpa lampu dengan diterangi headlamp yang berfungsi ganda, menerangi jalan dan memastikan pengemudi truk-truk raksasa itu menyadari keberadaan saya. Tepat di balik tikungan, ketika saya akhirnya melihat papan tanda itu. Mountain View Hostel. Jadilah pagi buta itu seorang lagi saya bangunkan dari mimpinya, bernegosiasi harga, dan akhirnya membukakan pintu sebuah kamar dengan 3 tempat tidur itu untuk saya. Maka setelah lebih dari 24 jam, 4 jam flight dan 467 km road trip, saya akhirnya menemukan juga benda surga itu. Kasur.
Kopisanangan do totuong.
Kopisanangan do totuong.
***********

ah...kami bertiga memang dikirim dari surga untuk mendinginkan tidur siangmu