|
Hampir sama dengan hidup. Jika tiap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita torehkan menjadi separagraf cerita, maka episode-episode hidup kita merupakan sebuah buku dengan kita sebagai penulisnya. Hingga kumpulan dari buku-buku itulah yang menyusun rak kehidupan kita.
Tiap buku itu akan mempunyai tokoh utama masing-masing. Terkadang, tokoh utama dalam salah satu buku akan menjadi sosok figuran di buku kita yang lain. Atau mungkin kemunculan selintas lalu satu tokoh di buku kita 10 tahun lalu, menjadi tokoh utama pada buku yang sedang kita tulis sekarang. Dan tak juga melulu dalam cerita yang sama, seorang bisa jadi adalah tokoh utama dalam buku romansa merah jambu. Namun di lain lini masa, seseorang itu menjadi tokoh dalam buku kehidupan kita yang paling membiru.
Sebuah buku, mungkin akan terselesaikan dalam satu waktu. Episode ketika kita bekerja di satu tempat misalnya, di mana antiklimaks terjadi seiring dengan selembar surat pengunduran diri. Namun jauh lebih banyak dari kitab kehidupan itu yang tersusun lintas waktu. Sebuah persahabatan adalah contoh riilnya, yang bisa jadi coretan dimulai dengan setting seragam merah putih dan masih terbuka hingga sekarang untuk kita tulisi. Dan pastinya saya percaya, saat ini kita punya banyak buku terbuka untuk terus kita torehkan cerita di dalamnya. Buku-buku yang belum lagi mencapai pungkasannya.
Demikian juga saya. Termasuk juga satu buku berdebu yang teronggok di sudut meja kehidupan saya. Buku yang berdebu bukan karena terlupakan, namun hanya karena ketidaksanggupan saya untuk menjamahnya. Tujuh tahun lalu, kata pertama dalam buku itu mulai saya goreskan. Mengisinya dengan catatan merah jambu, biru dan abu. Dan mungkin untuk kebanyakan orang, buku itu harusnya sudah mencapai akhirnya 5 tahun lalu. Selesai. The end. Di saat akhirnya saya harus menutup buku itu dan menyematkannya dalam rak kehidupan saya bersama ribuan buku-buku saya yang lain.
Namun kenyataannya, buku itu masih terbuka di sana . Entah menunggu saya berbesar hati membubuhkan kata “Tamat” di halaman terakhirnya atau bernyali besar untuk kembali menorehkan cerita selanjutnya dengan taruhan kepingan hati saya.
Atau mungkin juga jauh di dalam hati saya, saya berharap tokoh utama dalam buku itulah yang menyelesaikannya untuk saya.
Tapi yang jelas untuk saat ini, jika ada orang yang iseng bertanya, mungkin saya bilang saja, takdir belum mengijinkan saya, bahkan untuk sekadar, menyentuhnya lagi.
* Picture taken from here

Thanks for leaving comment..