MYR 200

IDR 550K.
SGD 83.
Jauh lebih sedikit dari jatah transport saya selama bulan July. Kurang dari angka yang tertera di receipt pembelian dompet saya minggu lalu. Lima dollar lebih sedikit dari harga paket promo 2H1M Cameron Highland yang baru saja saya tebus kemarin.
Sebuah pesan pendek dari teman saya membuat sore yang dingin di ruangan ini terasa makin menusuk. Teman saya seorang TKI di Malaysia. Johor tepatnya. Memberitahu saya, bahwa separuh bulan uang gajinya sudah dipersiapkan oleh majikannya, jadi saya bisa ambil sewaktu-waktu ke Johor. Separuh bulan uang gaji itu rencananya akan saya bawa ke Jawa, sebagai uang lebaran untuk keluarganya di sana.
Dua ratus ringgit Malaysia. Maaf, saya masih takjub dengan angkanya. Itu gaji pertama dia setelah bekerja selama 6.5 bulan. Anda tanya kenapa? Karena para pahlawan devisa itu tidak mendapatkan gaji selama 6 bulan pertama dengan alasan sebagai biaya agent. Yap, tidak digaji. Seberat apapun pekerjaan mereka. Sedekat apapun mereka dengan maut selama bekerja.

Saya migrant worker. OK, saya TKI. Yang jauh lebih beruntung daripada rekan-rekan saya yang diakui pemerintah Indonesia tercinta sebagai pahlawan devisa negara. Selama 3 tahun ini, saya kenal beberapa TKI yang bekerja di sector rumah tangga. Saya tahu betapa polosnya sebagian dari mereka. Dan betapa tidak berdayanya mereka. Ditampung di rumah penampungan. Menunggu giliran dikirim ke luar negeri tanpa tahu pasti ke mana mereka akan dipekerjakan. Dioper dari satu tangan ke tangan lain. Tanpa satu dokumen pun di tangan. Tanpa punya pilihan lagi atas hidup mereka. Dan pemerintah saya bilang mereka mengirim para pahlawan devisa? Hell ya, maaf, tapi untuk saya itu lebih terdengar seperti human trafficking.  
Oh ya, salam untuk para petinggi BNP2TKI. Boleh tahu ga Pak, alamat tempat teman saya bekerja? Semua harusnya tercatat kan ya di KTKLN, si kartu canggih ber-chip itu? Ah, pasti kartu itu tak hanya canggih, punya six sense juga mungkin? Mirip dukun gitu. Karena teman saya sendiri tidak pernah tahu hendak dipekerjakan di mana. Ah sudahlah….
Delapan puluh tiga dollar Singapura.
Saya tutup jendela browser i-banking di layar monitor. Saya sudah tak lagi berminat mengeluhkan angka rekening tabungan saya yang babak belur bulan ini. Sigh.
**********

*Picture taken from here
0 Responses

Thanks for leaving comment..